.
.
.
.
Di sebuah kota kecil Jepang, pohon sakura tua berdiri anggun di tengah taman. Pohon itu telah menjadi saksi bisu ratusan cerita cinta. Salah satunya adalah kisah Reiko dan Akihiro, pasangan yang bertemu untuk pertama kalinya di bawah naungan cabang-cabangnya yang mekar.
Reiko masih ingat bagaimana Akihiro mendekatinya dengan raut canggung, membawa sebuket bunga liar yang dipetik dari ladang. Wajahnya memerah, tapi ia berhasil menyusun kalimat sederhana, “Aku melihatmu membaca di sini setiap minggu. Bolehkah aku duduk di sampingmu?”
Reiko, yang saat itu sedang membaca buku puisi favoritnya, tersenyum kecil. “Jika kamu berani melewatkan pemandangan bunga-bunga sakura hanya untuk menemaniku, tentu saja boleh.”
Sejak hari itu, mereka bertemu di tempat yang sama. Di bawah pohon sakura itu, mereka berbagi tawa, cerita, dan mimpi. Akihiro, seorang pelukis muda, sering membawa sketsa-sketsanya, sementara Reiko akan membaca puisi-puisi yang menginspirasi lukisan-lukisan itu.
“Reiko,” kata Akihiro suatu hari sambil memandang kanvasnya, “Aku ingin melukismu di bawah pohon ini. Sebagai kenangan akan semua yang telah kita bagi.”
Namun, hidup tidak selalu seindah puisi atau lukisan. Akihiro, dengan tekad mengejar karirnya sebagai pelukis, harus pindah ke Tokyo. Reiko tahu itu adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan. “Pergilah,” katanya dengan senyum getir. “Kejar mimpimu. Aku akan menunggumu di sini.”
Mereka membuat janji di bawah pohon sakura yang memerah itu. Janji untuk kembali setiap tahun, saat bunga-bunga bermekaran. Namun, kehidupan memiliki rencana lain.
---
Bertahun-tahun berlalu, dan Akihiro tidak pernah kembali. Reiko, yang awalnya berharap, mulai merasakan kehampaan. Pohon sakura yang dulunya menjadi simbol cinta mereka, kini hanya menjadi pengingat luka.
Hingga suatu hari, saat Reiko tengah duduk di bawah pohon itu, seorang pria tua menghampirinya. Ia membawa lukisan yang dibungkus kain putih. “Ini untukmu,” katanya dengan suara pelan.
Reiko membuka kain itu, dan matanya langsung berkaca-kaca. Di kanvas itu tergambar dirinya, duduk di bawah pohon sakura, dengan senyum yang dulu selalu diberikan pada Akihiro.
Pria tua itu tersenyum getir. “Akihiro menitipkan ini sebelum ia pergi untuk selamanya. Ia ingin kau tahu bahwa kau adalah inspirasinya hingga akhir hidupnya.”
---
Di bawah pohon sakura itu, Reiko memandangi lukisan yang sekarang ia peluk erat. Bunga-bunga sakura mulai gugur, satu per satu. Ia menyadari bahwa meskipun cinta mereka tidak lagi bersama dalam wujud nyata, kenangan yang telah mereka ciptakan akan selalu hidup—seperti daun sakura yang berguguran, membawa cerita mereka pada angin yang berhembus.
Cinta tidak harus bertahan selamanya untuk menjadi abadi.
.
.
.
.
Kisah cinta itu, hanya sedikit yang bisa diceritakan namun lebih banyak yang pernah dirasakan. Anda tau maksud saya?
;)