Prolog-
Hidup di kota kecil seperti Meridia selalu terasa damai dan membosankan bagi Amara. Setiap hari, rutinitasnya tidak jauh dari membuka kafe kecil warisan neneknya, melayani pelanggan setia, dan memandangi pegunungan yang membingkai horizon. Namun, di balik senyum yang selalu ia tunjukkan kepada dunia, Amara merasa ada kekosongan yang tidak pernah bisa ia isi.
Namun, semua itu berubah di musim gugur yang tenang, saat seorang pria asing masuk ke dalam hidupnya, membawa rahasia dan cinta yang akan mengguncang dunianya.
---
Bab 1: Kedatangan Sang Pengembara
Pagi itu, angin membawa aroma tanah basah. Amara sedang menata kursi di luar kafe ketika seorang pria dengan jaket kulit usang dan ransel besar memasuki pintu. Tubuhnya tegap, rambutnya berantakan oleh angin, dan sorot matanya mengandung kelelahan seorang pengembara.
"Selamat pagi," sapanya dengan suara dalam.
Amara menoleh dan membalas dengan senyum. "Selamat pagi. Kopi atau teh?"
Dia tertawa kecil, suaranya seperti melodi yang akrab namun asing. "Kopi. Hitam, tanpa gula."
Sejak saat itu, pria bernama Alaric itu menjadi pelanggan setia kafe. Setiap hari, dia duduk di meja dekat jendela, memandangi pegunungan di kejauhan sambil menyesap kopinya. Dia berbicara sedikit, tetapi ketika dia bicara, kata-katanya terasa dalam, seperti seseorang yang telah melihat dunia lebih luas daripada kota kecil ini.
Amara tidak bisa menahan rasa penasaran. "Kamu sepertinya bukan dari sini," katanya suatu hari.
Alaric mengangkat bahu. "Aku hanya lewat. Mungkin untuk sementara."
---
Bab 2: Rahasia yang Tersembunyi
Semakin hari, Amara dan Alaric semakin dekat. Mereka berbagi cerita tentang hidup, impian, dan luka lama. Amara menceritakan tentang ibunya yang pergi ketika dia masih kecil dan bagaimana neneknya membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Namun, setiap kali Amara bertanya tentang masa lalu Alaric, pria itu selalu menghindar. "Masa lalu adalah sesuatu yang aku coba tinggalkan," jawabnya singkat.
Suatu malam, Alaric tidak datang ke kafe seperti biasanya. Amara merasa aneh, seolah-olah ada kekosongan yang tak biasa. Ketika dia hendak menutup kafe, dia melihat Alaric duduk di bangku taman dekat pegunungan, menatap langit.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Amara, mendekatinya.
"Ada saat-saat di mana aku merasa terlalu lelah untuk terus bergerak," jawabnya pelan.
Malam itu, di bawah langit penuh bintang, Alaric membuka sedikit lapisan hatinya. Dia bercerita tentang perjalanannya ke berbagai kota, bagaimana dia mencari sesuatu yang tak pernah ia temukan. "Aku pernah punya segalanya, tapi kehilangan semuanya karena satu kesalahan besar," katanya tanpa menjelaskan lebih jauh.
---
Bab 3: Keintiman yang Perlahan Tumbuh
Setelah malam itu, hubungan mereka berubah. Amara mulai merasakan kehadiran Alaric sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar teman. Setiap senyum, setiap tatapan, semuanya terasa seperti pengakuan diam-diam akan perasaan yang mereka simpan.
Namun, Alaric tampaknya masih menjaga jarak. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, sesuatu yang membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh.
Pada suatu malam, setelah mereka menutup kafe bersama, Alaric memandang Amara dengan tatapan serius. "Amara, aku ingin kamu tahu... aku tidak tinggal di sini untuk selamanya."
Amara terdiam. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk perlahan.
"Tapi kenapa? Kamu... kamu sudah menemukan tempat yang nyaman di sini," jawabnya pelan.
"Ada banyak hal yang harus aku selesaikan, banyak kesalahan yang harus aku perbaiki," jawab Alaric. "Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kekacauan itu."
---
Bab 4: Pengakuan dan Luka Lama
Amara tidak menyerah begitu saja. Dia tahu bahwa ada sesuatu di balik ketakutan Alaric untuk tetap tinggal. Dengan dorongan hati, dia memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh.
Sebuah surat yang secara tidak sengaja ditemukan di jaket Alaric mengungkapkan segalanya. Surat itu ditujukan untuk seorang wanita bernama Elena—mantan tunangannya yang dia tinggalkan bertahun-tahun lalu setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Alaric merasa bersalah karena menghilang tanpa kabar, tetapi dia juga terlalu takut untuk kembali menghadapi masa lalu.
Ketika Amara mengkonfrontasinya tentang surat itu, Alaric akhirnya terbuka sepenuhnya. "Aku merasa tidak pantas untuk bahagia, Amara. Aku menyakiti banyak orang, dan aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaikinya."
Amara menatapnya dengan mata yang penuh belas kasih. "Kita semua punya masa lalu, Alaric. Tapi itu tidak menentukan siapa kita sekarang. Jika kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa bergerak maju?"
---
Bab 5: Akhir di Bawah Langit yang Sama
Setelah perbincangan itu, Alaric memutuskan untuk kembali menghadapi masa lalunya, tetapi dengan satu janji: dia akan kembali ke Meridia setelah semuanya selesai.
Amara hanya bisa menunggu, berharap pria yang telah mencuri hatinya akan menepati janjinya. Hari-hari berlalu, minggu berganti bulan, dan tidak ada kabar dari Alaric. Namun, Amara tetap menjaga harapan itu, meyakini bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengalahkan waktu dan jarak.
Hingga suatu malam, saat Amara hampir kehilangan harapan, pintu kafe terbuka. Di sana, berdiri Alaric dengan senyum yang penuh kelegaan. "Aku kembali," katanya singkat.
Amara tidak berkata apa-apa. Dia hanya berlari ke arahnya, membiarkan air matanya berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Di bawah langit malam yang sama, mereka berciuman—sebuah janji baru untuk memulai babak baru dalam hidup mereka, bersama-sama.
Epilog-
Setahun kemudian, kafe itu berubah menjadi lebih hidup. Amara dan Alaric menjalankan tempat itu bersama, menciptakan rumah kecil yang penuh dengan tawa, cinta, dan kenangan.
Dunia mereka mungkin tidak sempurna, tetapi di bawah langit yang sama, mereka menemukan tempat untuk saling mencintai, menerima, dan memulai kembali.