Namaku Asha, dan aku bukan gadis yang mudah menyerah. Sejak kecil, aku tumbuh dengan prinsip bahwa hidup tidak akan memberiku apa-apa jika aku tidak berjuang merebutnya.
Di sekolah, aku sering menjadi target sindiran oleh Melissa dan gengnya. Mereka menganggapku "terlalu keras" karena aku tidak pernah mengikuti aturan sosial tak tertulis mereka—seperti harus tunduk pada anak-anak kaya yang merasa memiliki segalanya.
Suatu hari, Melissa mendatangiku di kantin. "Asha, kamu nggak capek hidup sok tangguh? Orang seperti kamu cuma bikin malu," katanya, sambil tertawa bersama teman-temannya.
Aku menatapnya dengan tenang. "Malu? Yang harusnya malu itu orang yang cuma bisa menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih baik."
Wajah Melissa memerah. "Kamu pikir kamu siapa? Cuma anak biasa yang nggak punya apa-apa."
Aku tersenyum tipis. "Anak biasa yang cukup berani untuk menghadapi orang seperti kamu."
Sejak saat itu, hubungan kami semakin panas. Melissa mulai mencoba cara yang lebih licik untuk menjatuhkanku—dari menyebar gosip, menuduhku mencuri, hingga mencoba menjatuhkan reputasiku di depan guru. Tapi aku tidak diam. Aku menghadapi setiap tuduhan dengan bukti, setiap gosip dengan kebenaran.
Namun, puncaknya terjadi ketika kami harus bekerja sama untuk proyek sosial. Melissa, terpaksa bekerja denganku, mulai menunjukkan sisi rapuhnya. "Aku benci kamu," katanya suatu malam, saat kami sedang menyelesaikan laporan.
"Aku tahu," jawabku, tanpa mengangkat kepala dari laptopku.
"Tapi aku juga iri," lanjutnya. "Kamu kuat. Aku nggak bisa seperti itu."
Aku berhenti mengetik dan menatapnya. "Melissa, kekuatan itu bukan bawaan. Kamu cuma perlu berhenti menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih berharga."
Hubungan kami tidak serta-merta berubah menjadi persahabatan, tapi Melissa mulai memperbaiki dirinya. Sementara aku, tetap menjalani hari-hariku dengan kepala tegak, membuktikan bahwa menjadi diri sendiri adalah kekuatan yang paling hebat.