Hujan deras sore itu membuat seluruh siswa terjebak di aula sekolah. Aku duduk di sudut ruangan, mencoba fokus pada buku catatan yang kubawa, tetapi bunyi rintik hujan dan keramaian di sekitar membuat pikiranku melayang. Sampai akhirnya, suara itu memecah lamunanku.
"Sendirian aja?" tanyanya sambil duduk di sebelahku. Wajahnya familiar—Raka, siswa baru yang akhir-akhir ini jadi pusat perhatian. Rambutnya sedikit basah karena hujan, tapi senyumnya tetap menawan. Aku hanya mengangguk, terlalu canggung untuk menjawab.
"Aku Raka," katanya, mengulurkan tangan.
"Tiara," jawabku singkat, menjabat tangannya.
Percakapan kami berlanjut, dari obrolan ringan tentang pelajaran hingga impian masa depan. Raka bercerita tentang mimpinya menjadi arsitek, sementara aku menceritakan hobiku menulis cerpen. Anehnya, aku merasa nyaman, seolah-olah kami sudah saling kenal sejak lama.
Hari-hari berikutnya, Raka sering menghampiriku di kantin atau saat istirahat. Dia membantuku saat kesulitan dengan tugas matematika, dan aku membantunya mencari referensi buku di perpustakaan. Tanpa kusadari, kehadirannya mulai mengisi hari-hariku.
Namun, hubungan kami diuji ketika Raka mengumumkan bahwa dia harus pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya. Aku merasa hancur. "Kenapa harus sekarang?" tanyaku, menahan air mata saat kami duduk di taman sekolah.
"Aku juga nggak mau pergi," jawabnya pelan. "Tapi aku janji, Tiara. Aku nggak akan lupa sama kamu."
Hari terakhirnya di sekolah, Raka memberikan sebuah buku catatan kecil. "Ini untuk kamu. Kalau kangen, baca aja. Di situ ada cerita tentang kita," katanya sebelum pergi. Aku hanya bisa memeluk buku itu erat-erat, menahan rasa kehilangan.
Tahun-tahun berlalu, tapi aku masih menyimpan buku itu. Suatu hari, di acara reuni sekolah, aku melihat seseorang yang tak asing berdiri di sudut ruangan. Senyum itu—senyum yang selalu kuingat.
"Tiara," katanya. "Aku kembali."
Dan di saat itu, aku tahu, cinta pertamaku tidak pernah benar-benar pergi.