Dahulu kala, ada seorang pria bernama Marco dan dia mengenal seorang wanita bernama Acacia.
Dahulu kala, Marco adalah seorang yang bebas, anak-anak laut kata Oyajinya dengan penuh kehangatan.
Dahulu kala, Marco dengan bodohnya jatuh cinta pada seorang marinir wanita yang begitu kuat, tertarik seperti ngengat pada api.
Tapi itu hanya hari-hari lalu. Kini, Marco menunjukkan ekspresi sedih.
Dan ketika dia melihat ke arah itu, ke lautan yang berada begitu dekat tetapi juga begitu jauh dari rengkuhannya, dia seperti tidak memiliki jiwa untuk diajak bicara.
Acacia bukanlah bunga yang tidak bersalah. Sebaliknya, wanita itu iblis.
Sang Admiral wanita itu mencintai Marco hingga tahap obsesi. Hingga ketika Marco tengah berduka setelah kehilangan ayah, saudara dan keluarganya akibat perang Marineford, dia mendekati Marco seolah-olah menawarkan kenyamanan pada burung Phoenix yang begitu lelah dan harus memikul beban kru setelah kapten dan ayah mereka tiada.
Akan tetapi itu semua hanya tipu daya, sebuah perangkap manipulatif yang memanfaatkan keadaan.
Acacia bekerjasama dengan Blackbeard, agar dia bisa memiliki Phoenix untuk dirinya sendiri.
Sebuah langkah kaki lembut di belakangnya memberitahu Marco akan kedatangan orang yang pernah dia cintai sekaligus orang yang kini membuatnya hidup dalam kandang emas, Phoenix yang terkurung.
Napas Marco tercekat merasakan sensasi gelang batu laut di kakinya.
Ketika dia melihat wanita itu tersenyum padanya, dengan ekspresi puas, dia bertanya padanya, "Apakah itu lucu bagimu?" Tidak ada riak emosi dalam suara Marco, seakan-akan emosi nya sudah habis setelah semua cobaan bertubi-tubi ini.
Senyum Acacia semakin lebar, dia sangat menikmatinya. "Tentu saja lucu." Katanya, dengan senyum yang semakin lebar. Kebahagiaannya adalah kesengsaraannya. Dia senang melihat penderitaannya.
Wanita itu berjalan mendekatinya, menangkup wajah Marco yang semakin kurus karena dia menolak makan.
Mungkin dia berharap mati karena lapar. Atau mungkin tidak, dia bahkan tidak tahu yang mana lagi yang benar-benar dia inginkan.
"Marco." Acacia berbisik lembut, penuh godaan saat dia membelai jari-jarinya yang ramping ke tulang pipi Marco yang kurus. Ekspresinya penuh cinta yang bengkok, sebuah kepuasan atas penderitaan pria di depannya. "Kau tidak akan bisa mati tanpa izinku, sayang."
Dengungan lembut dari buah iblis Acacia terdengar saat dia menggunakan kekuatannya untuk membuat Marco kembali sehat dan tidak kekurangan gizi.
Wajah Marco semakin memucat menyadari apa yang baru saja terjadi.
Dengan senyum geli yang penuh kekejian, Acacia tertawa dan mencium kening Marco sebelum berjalan mundur. "Ah, jangan khawatir, phoenix ku. Aku akan memeriksa di ruang bawah tanah siapa bawahanmu yang mati kali ini karena sikap keras kepalamu."
Sialan.