Di bawah langit senja yang memancarkan warna jingga, Alana duduk di balkon kamar sempitnya. Gedung-gedung tinggi di kejauhan tampak seperti bayang-bayang hitam yang perlahan ditelan malam. Di tangannya, secangkir kopi hangat menggigil seperti dirinya,menggambarkan hari yang kembali dipenuhi kegagalan.
“Besok aku pasti diterima,” gumamnya pelan, seperti janji yang diucapkan lebih untuk menguatkan dirinya sendiri.
Sudah setahun Alana mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Surat-surat itu selalu kembali dengan satu jawaban: Maaf, Anda belum memenuhi kualifikasi. Kata-kata itu kini tak lagi menyakitkan, tapi masih menghantui pikirannya setiap malam.
Alana adalah seorang lulusan administrasi bisnis dari sebuah universitas kecil. Ia bukan mahasiswa berprestasi, tetapi juga tidak pernah gagal. Hidupnya sederhana, penuh dengan perjuangan. Ayahnya seorang buruh harian, sedangkan ibunya membuka warung kecil di depan rumah mereka.
“Kamu harus segera dapat kerja, Na,” kata ibunya suatu malam. “Ayah dan ibu sudah tua, warung ini nggak cukup untuk biaya adikmu sekolah.”
Kata-kata itu membebani hati Alana, tapi ia tahu bahwa ibunya hanya berkata jujur. Sebagai anak pertama, ia merasa bertanggung jawab.
Hari itu, seperti biasa, Alana bangun lebih awal. Ia mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika semalam. Meski sederhana, ia ingin terlihat rapi. Di tangannya, sebuah map cokelat berisi CV dan surat lamaran.
Perjalanannya menuju kantor perusahaan yang membuka lowongan terasa panjang. Di dalam bus, Alana melamun, membayangkan seperti apa hasil akhirnya nanti.
Setibanya di sana, aula perusahaan sudah dipenuhi puluhan kandidat. Wajah-wajah mereka memancarkan kepercayaan diri, lengkap dengan pakaian formal dan gadget canggih. Alana merasa kecil di antara mereka, tetapi ia menenangkan diri.
“Selamat pagi, para kandidat,” suara seorang pria paruh baya memecah keheningan. “Saya Bapak Wisnu, kepala HRD di perusahaan ini. Hari ini, kita akan mencari siapa yang benar-benar layak untuk bergabung.”
Tahapan seleksi pun dimulai. Tes pertama adalah kemampuan analisis. Alana mencurahkan seluruh fokusnya ke atas kertas, menulis jawaban dengan teliti. Meski tangannya sedikit gemetar, ia berusaha memberikan yang terbaik.
Setelah tes selesai, para kandidat dipanggil satu per satu untuk wawancara. Alana menunggu dengan gelisah. Ketika namanya dipanggil, ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk.
“Selamat pagi. Ceritakan tentang dirimu,” kata Bapak Wisnu, membuka sesi wawancara.
Alana tersenyum, meski gugup. “Nama saya Alana. Saya lulusan administrasi bisnis. Hidup saya tidak mudah, tetapi itu membuat saya belajar tentang kerja keras dan ketekunan. Saya percaya bahwa hidup adalah kompetisi, dan saya ingin memenangkan bagian saya di sini.”
Jawabannya mengalir lancar, seperti sesuatu yang sudah ia latih berulang kali. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya ia jawab dengan jujur dan penuh keyakinan. Setelah selesai, ia mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan dengan perasaan lega.
Namun, seperti biasa, menunggu adalah bagian yang paling sulit. Hari demi hari berlalu tanpa kabar. Alana mulai ragu, tetapi ia berusaha menenangkan hatinya. Hingga suatu pagi, sebuah notifikasi masuk di emailnya:
“Selamat! Anda diterima sebagai staf administrasi di perusahaan kami. Harap hadir untuk orientasi pada hari Senin.”
Air mata Alana jatuh begitu saja. Semua kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Ia memeluk ibunya sambil mengabarkan berita bahagia itu.
Namun, Alana tahu bahwa ini bukan akhir dari perjuangannya. Hidup adalah tangga, dan setiap puncak hanya membawa seseorang ke tangga berikutnya. Kompetisi tidak pernah berakhir, tetapi ia yakin, selama ia tetap berusaha, setiap langkah akan menjadi cerita yang layak diperjuangkan.