"Andai kakak ada di sini, aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan...."
Nuvelia Askara, gadis dengan rambut terusai indah, anak bungsu keluarga Askara. Kakinya melangkah, menelusuri ruangan seni tersebut. Maniknya menatap setiap lukisan dan karya indah, memanjakan mata. "Aku yakin, Kak Asha pasti juga menyukai lukisan-lukisan ini."
Tap tap tap....
Suara langkah kaki pada luar ruangan mengalihkan pandangannya, menatap fokus pada apa yang akan datang. "Kak Asha! Bagaimana Kakak di sini...? Bukankah kelompok kira terpisah?!"
Nuvelia sedikit terkejut, namun juga bahagia menatap sang kakak kembarnya di hadapannya. "Sangat panjang untuk aku ceritakan, Velia ...."
Manik Nuvelia kini salah fokus pada sebuah toples yang di bawa oleh Ashaya, toples penuh dengan kupu-kupu biru yang indah. "Wah ... dimana Kakak menemukannya?"
"Apa kamu menyukainya?"
“Kupu-kupu selalu cantik, aku menyukainya.”
“Iya, kupu-kupu selalu jadi hal yang identik denganmu, Velia.” Ashaya menatap Nuvelia, gadis dengan suara hitam yang digerai indah, sang kembaran yang sangat ia sayangi. “Warna biru juga cantik….”
Nuvelia terus menatap toples yang berisikan banyak kupu-kupu, dalam gengamnya, pandangannya tak bisa lepas. Kupu-kupu dengan sayap biru, menawan, dan indah. “Memangnya, kamu dari mana? Kenapa bisa menemukan kupu-kupu sebanyak ini….”
“Tidak perlu bertanya, yang penting kamu suka, kan?” Ashaya tersenyum, senyum yang cukup aneh, bukan senyum tulus ataupun paksaan, terlihat seperti… menakutkan.
Nuvelia mulai sedikit heran, mengapa Ashaya terlihat menakutkan. Tubuhnya mulai gemetar, Ashaya menahan pergerakan Nuvelia dengan sihir– tunggu, sejak kapan Ashaya dapat menggunakan sihir?
Badannya diikat, membiatnya diam tak bergerak, hanya dapat menatap horor pada Ashaya. Toples mulai jatuh, puluhan kupu-kupu beterbangan, sayap mereka berwarna biru, indah, namun mengisyaratkan kengerian yang akan segera terjadi.
“Buka mulutmu, Velia,” desis suara Ashaya. Berdiri di depannya, suaranya terdengar tenang, tetapi matanya suram menatap. Tangannya mengambil beberapa kupu-kupu yang mengepakkan sayap, menggengamnya dengan erat.
Nuvelia menggeleng dengan takut, keringat dingin mengalir di pelipisnya. “T-tidak… kumohon…,” bisiknya. Namun, Ashaya hanya tersenyum, seakan mengatakan bahwa ini akan baik-baik saja.
Dengan paksa, mulut Nuvelia dibuka. Satu per satu, kupu-kupu dimasukkan ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Sayap-sayap lembut mereka terasa seperti belati di tenggorokannya, semakin banyak dan semakin dalam. Dia mencoba menelan, tetapi jumlahnya terlalu banyak. Sayap-sayap yang licin mulai menumpuk, menyumbat saluran napasnya.
Batuk-batuk putus asa menggema di sekitarnya, disertai suara kepakan sayap yang semakin melemah. Gadis tersebut menggeliat, matanya membelalak penuh teror. Dia mencoba berteriak, tetapi hanya suara serak yang keluar, tenggorokannya sepenuhnya tersumbat oleh mahluk-mahluk kecil itu.
Hingga akhirnya, tubuhnya merosot ke depan. Napasnya terhenti, dan ruangan kembali sunyi, hanya diisi suara kepakan terakhir dari kupu-kupu yang tidak tersentuh. Ashanya memandanginya dengan dingin, lalu memutar tubuh, melangkah pergi meninggalkan Nuvelia.
Seseorang menatap mereka, Astera, yang baru saja kembali menatap Nuvelia yang tak bernyawa. Dirinya kini menjadi saksi bisu, terhadap kematian yang aneh, dan mengerikan tersebut. ‘Ashaya…, tidak! Itu pasti bukan Ashaya!’