"Kita tidak akan bisa lolos dengan mudah!"
Gadis dengan rambut ekor kuda, menatap temannya dengan tatapan serius. "Asha ... kita harus melindungi yang lain. Mereka sedang mengurus para pengkhianat."
Ashaya menghelah napasnya. Para mayat hidup terlihat dari kejauhan, puluhan– tidak, Ashaya dapat memperkirakan terdapat ratusan mayat hidup di hadapan mereka. "Kiel, cari Sang Menner, aku akan melindungi mereka hingga titik penghabisan."
Menatap tatapan serius Ashaya, Kiel tidak dapat membantah. Langkahnya mulai terarah untuk pergi, selain untuk mencari Sang Menner–pemimpin para pengkhianat yang mengendalikan mayat hidup– dirinya tak ingin membebani Ashaya karena keahliannya yang sangat buruk. "Bertahanlah, Ashaya...."
***
Ashaya berdiri menatap kerumunan mayat hidup yang merayap maju dengan gerakan lambat namun semakin cepat tak terkira. Tubuhnya tegap, dengan kedua senjata di tangan terbalik, menggenggam gagang yang terletak di atas. Mata elangnya yang tajam menatap kosong pada para mayat hidup yang mendekat.
"Mereka pikir mereka bisa menakut-nakuti aku...," gumamnya dengan senyum tipis di bibir, sebelum ia menggerakkan kedua senjata dengan gesit. Satu di tangan kiri, satu di tangan kanan, senjata itu melengkung tajam, siap menyambar.
Serangan pertama datang dengan cepat— slash! Senjata di tangan kiri menyambar leher mayat hidup pertama yang mencoba menyerangnya, memotongnya dengan satu gerakan melingkar yang sempurna. Daging dan tulang terpotong bersih, dan mayat itu jatuh terkulai, kembali tak bernyawa.
Namun, itu hanya permulaan. Sebelum tubuh itu menyentuh tanah, serangan kedua datang dengan sangat cepat. Senjata di tangan kanan Ashaya bergerak ke bawah, menebas bagian tubuh mayat hidup berikutnya dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa. Bilah melengkung itu memotong melalui kulit yang busuk, menghancurkan tulang.
Lebih banyak mayat hidup mulai mengerubungi, tapi Ashaya tidak takut. Gerakan gesit dari tubuhnya memungkinkan dia menghindar dari cengkeraman mayat hidup yang mencoba meraihnya. Kaki Ashaya bergerak cepat, menapaki tanah yang keras, memantulkan tubuhnya ke samping dan bergerak dengan kecepatan tak terduga.
Dengan kedua senjata yang berputar di udara, Ashaya meluncurkan serangan sapu, mengayunkan senjatanya dari kiri ke kanan. Lengan mayat hidup hancur, kepala terbelah, sementara tubuh mereka ambruk, tak memiliki kesadaran.
"Semakin banyak yang datang." Dia bisa merasakan keringat dingin menetes dari dahinya, namun tetap bergerak menghindar dari serangan mayat hidup. Serangan melingkar membuat banyak mayat hidup terbebas dengan mudah.
'Mereka pikir aku lemah?!' Ashaya berteriak dalam hati, mengangkat kedua senjatanya lebih tinggi. Lengan kanannya mengayunkan senjata ke arah depan, membelah dada mayat hidup yang mencoba menyerangnya.
Mata Ashaya berbinar, tubuhnya bergerak seperti bayangan, tebasan demi tebasan menghancurkan musuh yang semakin mendekat. Senjata di tangannya berkilau dalam cahaya redup yang datang dari cahaya bulan yang menerobos dari atas. Tak ada yang bisa menghentikannya.
Puluhan mayat hidup telah tumbang, menyisahkan hampir setengah dari mereka. Mayat-mayat tersebut mengelilingi Ashaya, membuka lebar mulut seakan igin mrmakan daging Ashaya yang masih segar. Mereka meraung, jari-jari mencoba untuk menggapai kulit Ashaya hendak menolaknya. "Ck! Siala–ARKK!!"
Satu serangan didapatkan oleh Ashaya, membuatnya harus mencari celah untuk mundur. Tangan kanannya terkena Cikarang yang panjang dan dalam, membuatnya cukup susah memegang kembali senjatanya. "Sialan, mereka terlalu banyak ... satu soldier hebat sekalipun tidak akan bisa membunuh mereka, cih."
Sekalipun dirinya terus menghindar, gerakan para mayat semakin cepat, mengejar dan mengepungnya sekali lagi. Tangan kiri Ashaya terus mencoba menggerakkan senjata untuk memberikan tebasan pada mereka, meskipun tubuhnya terus digerogoti mayat dari segala arah.
'Sakit...,' rintih Ashaya dalam kalbu. Rasa sakit mulai menyebar, tubuhnya tergoyak sedikit demi sedikit, darah mulai mengalir dengan deras.
Saat jumlah mayat hidup yang tersisa hanya beberapa, Ashaya mengatur napasnya, menatap sekelilingnya. Tangan kirinya mulai lemas tak berdaya, tak kuasa mengangkat senjata. "Mereka hanya mayat hidup...."
Dirinya mulsi memasrahkan diri, tubuhnya terus digerogoti mayat hidup. Darah segar terus mengalir, dan dagingnya terus terkoyak semakin menghancurkan tubuhnya.
'Velia ... setidaknya kau tidak melihat diriku yang lemah saat ini,' batin Ashaya, sembari mengingat adik kembarnya yang telah gugur terlebih dahulu. Nuvelia Askara.