Di suatu hari petani miskin menanam tanaman jagung di kebun miliknya. Dia telah mengambil upaya pencegahan dengan membuat pagar agar babi hutan tidak sembarang masuk ke dalam kebunnya. Namun di luar dugaan, bukan babi yang masuk melainkan sapi milik para peternak. Bahkan sampai memakan habis jagung yang sudah hampir di panen itu, walau masih banyak yang berserakan di tanah namun sudah tak layak di ambil lagi.
Petani miskin bingung, sebenarnya siapa pemilik sapi tersebut. Dia mulai bertanya kepada orang-orang yang memungkinkan untuk beternak. Namun tak ada satu pun yang mengaku, mereka bahkan salin tuduh menuduh.
Petani mengambil tindakan tegas untuk membuat jebakan. Dan ketika jebakan itu berhasil menangkap sapi. Si petani mulai bertanya lagi pada mereka, namun mereka masih menolak untuk mengaku. Dan siangnya, sapi yang kenah jebakan petani itu sudah menghilang. Jejak sapi terlihat, sapi itu mungkin di seret paksa oleh seseorang.
Petani semakin kesal. Namun karena seorang petani miskin ini minim akan pengetahuan bersekolah dan masih tergolong masyarakat awam. Jadinya dia memilih untuk mabuk, dan mengutarakan isi hati juga kekesalannya.
Dia bahkan meracau tidak jelas, dia berkata-kata kasar dan menyalahkan siapapun yang dia anggap salah. Dia menyalahkan pihak pemerintah desa. Tapi, disini juga petani miskin juga bersalah. Kenapa tidak membicarakan masalah ini di waktu sadar.
Ada suatu ketika, sapi dari salah satu pemilik ternak memakan tanaman pisang di depan rumah si petani miskin. Setelah di laporkan ke pemerintah desa, keputusannya untuk menganti kerugian dari si petani. Namun si petani miskin itu malah menyuruh si peternak sapi untuk membeli tali untuk mengikat sapinya dan tidak berkeliaran sembarangan lagi.
Masalah itu telah selesai, namun masalah besar tentang kebun milik petani belum lah selesai dan masih dalam proses mengambil keputusan bersama.
Menurutku pribadi :
1. Si petani bersalah karena tidak memberitahukan dan melaporkan masalah ini pada pihak berwenang secara baik-baik. Tapi mengingat bahwa si petani minim akan pengetahuan bersekoah dan dalam mengolah kata yang baik jadi masih bisa di maklumi.
2. Si petani miskin tidak tidak membutuhkan uang ganti rugi. Dia lebih menghargai jika peternak sapi bisa bertanggung jawab untuk mengikat sapi-sapinya agar tidak berkeliaran lagi sembarangan.
3. Petani miskin hanya ingin, keduanya mendapatkan keuntungan. Petani bisa berhasil dengan kebunnya dan si pemilik sapi bisa memakan uang halal dari beternak sapi.
Dapat di simpulkan bahwa si petani tidak ingin mengambil keuntungan apapun dari si pemilik sapi. Dia berharap si pemilik sapi bisa lebih bertanggung jawab lagi dalam memelihara peliharaannya.
Karena PERCUMA juga, jika sudah menganti uang ganti rugi lalu namun para peternak sapi masih tetap bandel. Bagaimana dengan waktu dan tenaga yang telah habis di gunakan si petani untuk berkebun? Sedang merawat dan membesarkan satu tanaman itu tidaklah mudah.
Dan PERCUMA juga, walau peternak sapi telah menganti rugi, lalu uang itu di gunakan untuk membeli bibit, dan di tanam kembali. Lalu sapi dari peternak itu memakan habis lagi hasil tanamannya sama juga dengan bohong. Ini bukan adegan video yang bisa di putar berulang-ulang. Ini bukan tentang uang, namun tentang waktu dan tenaga yang petani habisnya dalam berkebun.