Drrrt... drrrttt... drrrttt...
Handpone ku berbunyi, kulihat namanya dilayar itu, dengan malas kugeser warna hijau menjawab panggilan dari Andri (nama suamiku).
"Hallo... Assalamualaikum mas! "
"Waalaikum salam dek... kamu lagi apa? " tanyanya entah hanya basa basi atau memang pengen tau keadaanku.
"Ini masih di tempat kerja mas...aku angkat telponnya sembunyi, kalo ketahuan bos bisa ngomel dia" jawabku sedikit kesal karena memang aku sedang di toko sembako tempatku bekerja setelah lulus sekolah.
"Oh...ya sudah mas gak mau ganggu kok...mas cuma mau bilang besok mas mau datang kerumah adek" jelasnya
"Mau kerumahku?? ngapain mas?? "tanyaku bingung
"Iya kan mau ngelamar kamu!!" jawabnya
"Apaaa!!!" aku terlonjak kaget "Kenapa tiba-tiba mas?"
"Gak tiba-tiba kok, sudah lama mas rencanakan. Pokoknya besok kamu siap siap mas datang sama mas Baron dan istrinya" jelasnya lalu menutup telponnya begitu saja meninggalkan aku yang masih bengong kebingungan.
Aku memang sudah kenal lama dengan mas Andri tapi karena dia sudah pindah kota kupikir hubungan kami tidak akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Selama ini hubungan long distance yang kami jalani memang tidak berjalan lancar, aku jarang sekali menghubunginya lebih dulu. Selalu dia yang menghubungiku. Itupun jarang sekali kuangkat. Ada saja alasanku lagi sibuklah, sudah ngantuklah, lagi makanlah, gak punya pulsalah buat hubungi dia. Malah aku menganggap hubungan kami memang sudah berakhir, karena kudengar dia juga sudah punya pacar, teman sekantornya. Hingga hari itu dia benar benar datang kerumahku dan melamarku. Ayah dan keluargaku menyambutnya dengan senang hati. Karena aku anak pertama perempuan jadi menolak lamaran yang datang tidak baik katanya pamali.
Akupun menikah dengannya, meninggalkan kebebasanku dan kesenanganku. Ya aku memang lagi senang senangnya bekerja... menikmati hasil kerja kerasku sendiri dan memberikan adik adikku makanan kesukaannya. Tapi inilah sudah jalan hidupku. Mau bagaimana lagi. Akupun ikut dengannya di kota tempatnya bekerja. Cukup jauh melewati dua kabupaten, atau kira kira 8 jam perjalanan dari kotaku.
Awal pernikahanku, mas Andri sangat manis. Apa yang aku mau atau aku butuhkan selalu di turutinya. Aku tidak diijinkan bekerja. Katanya biar ga kecapean. Hingga aku hamil anak pertamaku. Muncul desas desus kalau mas Andri menjalin hubungan dengan teman sekantornya. Sering terlihat mas Andri membonceng gadis itu, banyak yang jadi saksi. Aku yang memang dari awal tidak terlalu mencintainya, hanya bersikap acuh dan tak peduli. Mas Andri menjelaskan bahwa semuanya cuma gosip dari orang orang lambe turah di kantornya. Aku menerima penjelasannya hanya saja aku tidak terima jika benar dia sering boncengan dengan gadis itu menggunakan sepeda motor pemberian ayahku. Ya hampir satu tahun pernikahan motorpun kami diberi oleh ayahku, dia belum mampu membeli sendiri sebuah motor. Tapi berita itu menguap begitu saja, mungkin benar katanya hanya gosip belaka makanya berita itu cepat terlupakan. Saat anakku berusia 1 tahun, kembali ada gosip mas Andri selingkuh. Tapi kali ini aku sendiri yang membaca sms dan panggilan panggilan masuk di hpnya. Kata kata mesra yang bertebaran, mungkin belum sempat di hapus oleh mas Andri. Airmataku luruh aku memikirkan anakku bagaimana jika benar ayahnya selingkuh dan berpaling dari kami. Dia masih kecil dan sangat membutuhkan sosok sang ayah. Seperti sebelumnya mas Andri menampik berita itu
"Aku itu sudah tua, sudah punya anak, buat apa aku aneh aneh. Apalagi sama bawahanku dikantor" katanya membela diri. Aku hanya diam, aku mulai tahu tabiatnya. Mas Andri tidak mau di bantah atau di debat. Bila aku memaksa mendebatnya maka kata kata kasar keluar dari mulutnya. Awalnya aku sangat sakit hati. Seumur hidup aku tidak pernah dikatai g***ok, b**o, c***ng, dan umpatan umpatan kasar lainnya. Akhirnya aku hanya bisa menangis dalam diam.
Begitulah mas Andri, kuakui dia adalah laki laki yang bertanggung jawab dan menyayangi anak anaknya. Hanya saja kadang dia tidak bisa mengontrol emosinya bila sedang banyak pikiran atau marah. Kami anak dan istrinya di rumah sering kali menjadi pelampiasannya bila dia ada masalah di kantornya. Disini kadang aku merasa menyesal sudah menerima lamarannya. Lalu mulai berandai andai, andai aku tidak menikah dengannya, andai bukan dia yang jadi suamiku, apa aku akan bahagia? Tapi keadaannya sekarang dialah suamiku. Mau menikah dengannya berarti menerima satu paket mas Andri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Sekarang sudah hampir 10 tahun pernikahan kami. Kami pun di anugrahi 3 anak lelaki yang manis dan penurut. Mas Andri masih seperti itu. Kadang kalau jam pulang kerja kusuruh anak anakku menjauh kena kalau ayahnya sedang banyak pikiran tak jarang anak anak jadi korban makiannya. Bahkan yang paling ekstrim, mas Andri pernah membanting tubuh kecil anakku karena marah anakku merengek saja saat dia sedang banyak pikiran. Kalau sudah seperti itu aku hanya bisa diam dan menangis. Kalau aku membela anakku maka amarahnya akan merembet ke anak anakku yang lain. Ooh..ya tuhan kenapa engkau jodohkan aku dengannya? aku hanya bisa mengadu pada rabbku karena ayahku, telah lama berpulang. sekitar 5 tahun yang lalu. Dalam setiap doaku diakhir sholat kuminta ketabahan dan keikhlasan untukku menjalani rumah tangga ini.
Hanya anak anakku menjadi hiburan dalam menjalani hari hariku. Kujalankan segala kewajibanku. Kubersihkan rumahnya, kucucikan pakaiannya, kumasakkan dia kudidik anak anaknya agar menjadi anak sholeh, bahkan rutin kulayani dia di ranjang. Bukan karena aku mencintainya atau takut kehilangan dirinya. Tapi semata mata untuk mendapatkan ridhonya. Kalau dia ridho padaku maka syurgalah tempatku nanti. Hanya satu doaku diakhir sholatku atau dipenghujung tahajudku yang selalu ku ulangi. "Ya Allah... jika kau ridho padaku dengan segala kekuranganku ini, bila kau anugrahkan padaku syurgamu yang maha bagus itu padaku maka satu pintaku ya Allah... JANGAN KAU PERTEMUKAN KEMBALI AKU DENGAN SUAMIKU DI SYURGAMU. Kalaupun kau masukkan dia di syurga berikan syurga yang agak jauh dariku agar kami tidak bertemu lagi. Sudah cukup hamba bersabar di dunia. Hamba tidak mau lagi melayaninya di akherat nanti ya Allah... "
TAMAT