---
Sore itu, Dita duduk di pojokan rumah kecilnya, memandangi foto keluarga yang sudah mulai usang. Di balik kaca frame foto itu, tampak senyuman hangat ayah dan ibu, tetapi Dita tahu, dunia yang tercipta dari senyuman itu sudah hancur berantakan. Ayah dan ibu sudah lama berpisah, dan meskipun mereka berusaha tetap menjaga hubungan yang baik demi dirinya, Dita merasa seperti ada celah besar yang tidak bisa dia tutupi.
Dulu, rumah itu penuh dengan tawa. Ayah yang suka bercerita lucu, ibu yang senang menyanyikan lagu-lagu favorit mereka di malam hari. Dita ingat betul bagaimana mereka pernah membuat kue bersama saat akhir pekan, atau sekadar berbicara panjang lebar tentang apa yang terjadi di sekolah. Namun, semuanya berubah ketika perpecahan itu datang. Ayah dan ibu tidak bisa lagi menemukan jalan yang sama. Pertengkaran yang awalnya tersembunyi, kini menjadi hal yang tak bisa dihindari.
Setiap malam, Dita terbangun dan mendapati dirinya terjaga di dalam keheningan yang mencekam. Dia akan berpikir tentang masa lalu, tentang kebahagiaan yang pernah ada, tentang saat-saat ketika dia merasa dunia ini begitu utuh. Tapi kini, semuanya terasa rapuh. Meskipun ibunya berusaha keras untuk memberi Dita rasa aman, Dita tahu, keduanya kehilangan bagian dari diri mereka yang tak bisa digantikan.
Di sekolah, Dita berusaha menunjukkan wajah yang ceria. Dia tidak ingin teman-temannya tahu apa yang terjadi di rumahnya. Namun, meskipun dia tertawa bersama teman-temannya, ada perasaan kosong yang mengikutinya ke mana-mana. Setiap kali ada acara keluarga di sekolah, Dita merasa canggung karena dia tahu ayahnya tidak akan datang. Setiap kali teman-temannya bercerita tentang keluarga mereka yang lengkap, Dita hanya bisa tersenyum masam dan berpura-pura tidak ada yang aneh.
Satu minggu setelah perpisahan orang tuanya, Dita duduk di ruang tamu, menatap pintu yang tak pernah terbuka lagi. Ayahnya sudah pindah, tinggal di sebuah kota yang jauh dari mereka. Dita jarang sekali berbicara dengannya, hanya lewat telepon sekali-sekali. Saat itu, Dita merasa seperti ada lubang besar dalam hidupnya, sesuatu yang tidak bisa diisi dengan apa pun.
Di sekolah, dia merasa semakin terasing. Namun, ada satu hal yang sedikit memberi penghiburan: Andi, seorang teman sekelas yang ternyata memiliki kisah yang sama. Andi adalah anak yang ceria, selalu penuh semangat, tetapi Dita tahu ada sesuatu yang berbeda di matanya. Suatu hari, mereka duduk bersama di kantin, dan Andi mulai bercerita tentang orang tuanya.
“Dita, aku tahu kamu pasti merasa tidak enak karena orang tuamu sudah tidak bersama lagi. Aku juga begitu dulu,” kata Andi dengan lembut.
Dita terkejut. “Kamu juga?”
Andi mengangguk. “Iya, ayahku tinggal di tempat yang jauh, dan ibuku harus bekerja keras untuk mengurus semuanya sendirian. Rasanya berat, Dita. Aku tahu bagaimana rasanya merasa kehilangan.”
Dita menunduk, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Kata-kata Andi seolah membuka pintu bagi perasaannya yang selama ini terkunci rapat. “Kenapa mereka harus bercerai, Andi? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Andi meraih tangan Dita dengan pelan. “Kadang kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di keluarga kita, Dita. Itu bukan salah kita. Orang tua punya jalan mereka sendiri, dan kadang mereka tidak bisa lagi bersama. Tapi, itu tidak berarti kita harus hancur juga. Kita bisa tetap bahagia, kita bisa tetap menjalani hidup dengan cara kita sendiri.”
Kata-kata Andi seperti secercah cahaya di tengah kegelapan. Dita merasa sedikit lega, meskipun hatinya masih terasa berat. Namun, dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Ada orang lain yang merasakan hal yang sama, dan itu memberinya sedikit keberanian.
Hari demi hari berlalu, dan Dita mulai belajar menerima kenyataan. Dia mulai berbicara lebih terbuka dengan ibunya tentang perasaannya. Mereka sering duduk bersama, bercerita tentang masa lalu, tentang bagaimana hidup mereka berubah, dan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Meskipun banyak hal yang sulit, Dita tahu bahwa ibunya berjuang keras untuk mereka berdua.
Dita juga mulai mencoba hal-hal baru di luar sekolah. Dia bergabung dengan klub seni, yang memberinya kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya melalui lukisan dan puisi. Melalui seni, dia menemukan cara untuk meredakan amarah dan kesedihannya. Di kelas seni, Dita bertemu dengan orang-orang baru yang memberinya semangat untuk tetap melangkah.
Suatu malam, setelah selesai melukis, Dita duduk di teras rumah, menatap langit yang penuh bintang. Dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dunia keluarganya memang sudah tidak sama lagi, tapi dia merasa sedikit lebih kuat. Mungkin hidup tidak selalu berjalan seperti yang dia harapkan, tetapi dia mulai menyadari bahwa ada banyak cara untuk tetap bahagia. Perpisahan orang tuanya bukanlah akhir dari segalanya.
Dita mengambil foto keluarga itu dari meja, memandangi wajah ayah dan ibunya dengan penuh rasa syukur. Meskipun mereka tidak bersama lagi, mereka tetap orang tuanya. Dan dia, meskipun kehilangan banyak hal, tetap memiliki dirinya sendiri.
“Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu,” bisiknya pelan, lalu menaruh foto itu kembali di atas meja. “Aku akan baik-baik saja.”
Dengan langkah yang lebih ringan, Dita melangkah ke dalam rumah, siap untuk melanjutkan hidupnya. Dunia mungkin telah runtuh, tapi dia tahu bahwa dia akan tetap berdiri tegak.
---