Beberapa bulan berlalu sejak aku meninggalkan Haris. Kehidupanku memang belum sempurna, tapi aku merasa lebih ringan. Aku kini bekerja di sebuah kafe kecil milik seorang ibu paruh baya yang baik hati. Rani, sahabatku, sering datang mengunjungiku, membawa cerita-cerita lucu yang membuatku tertawa.
Malam itu, setelah selesai bekerja, aku berjalan pulang ke kontrakan kecilku. Hujan turun rintik-rintik, membasahi jalan setapak. Aku berhenti sejenak, membiarkan tetesan hujan menyentuh wajahku. Rasanya seperti pelukan lembut dari langit—menenangkan sekaligus menguatkan.
Di sudut jalan, aku melihat seorang anak kecil bermain genangan air. Tawanya riang, membuatku tersenyum tanpa sadar. Aku teringat diriku yang dulu, penuh harapan dan impian. Perlahan, aku mulai mengingat hal-hal kecil yang membuatku bahagia, hal-hal yang dulu hilang saat aku terlalu sibuk bertahan untuk orang lain.
Ketika aku sampai di rumah, ada surat yang terselip di bawah pintu. Tanganku gemetar saat membukanya. Itu dari Haris.
"Sinta, aku tahu aku telah menghancurkanmu. Aku ingin minta maaf, tapi aku tahu, kata-kata tak akan cukup. Aku hanya berharap kamu bahagia, meski itu tanpa aku."
Aku terdiam. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak marah atau terluka. Aku hanya merasa lega. Aku melipat surat itu dan menyimpannya di laci tanpa niat untuk membalas.
---
Malam itu, aku menyalakan lilin kecil di meja kontrakanku. Aku menulis di buku harian, sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan.
"Dulu, aku pernah dicintai. Tapi sekarang, aku belajar mencintai diriku sendiri. Dulu, aku pernah merasa berharga karena orang lain. Tapi sekarang, aku tahu nilainya ada dalam diriku sendiri. Hidupku masih panjang, dan untuk pertama kalinya, aku tak takut lagi untuk melangkah."
Aku memejamkan mata, membiarkan kehangatan lilin menyelimuti ruangan. Di luar, hujan masih turun, tapi kali ini aku tidak merasa sendiri. Hujan membawa pesan baru: sebuah awal yang bersih, seperti diriku yang akhirnya bebas.