"Kenapa kita harus ke desa?" jawab Aska sambil mengeluarkan koper dari bagasi mobil.
"Karena di desa seperti ini, lebih sejuk dan tidak ada polusi" jawab Zahran sambil mengambil kopernya.
Kakak beradik itu tiba di sebuah rumah kaca klasik, tinggi bangunannya sedikit berbeda di antara banyak rumah di sekitarnya.
Mereka cukup menyukai rumah baru yang cocok untuk mereka tinggali sementara. Memasuki rumah itu, Aska langsung mencari kamar.
"Maaf tuan muda, bibi tidak bisa menjemput di terminal" kata wanita paruh baya, asisten rumah tangga.
Zahran menggeleng dan tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, saya yang minta maaf karena merepotkan"
Kenapa merepotkan?
Asisten rumah tangga itu sudah tidak melayani mereka lagi. Namun kebetulan dia adalah warga desa. Dan Zahran meminta bantuan untuk membersihkan rumah sebelum mereka datang.
"Dan terima kasih" mengambil amplop berisi uang.
Sambil menggeleng, "Tidak apa-apa, istirahatlah tuan muda pasti lelah" perintahnya. Zahran mengangguk dan pergi ke kamar.
Zahran, 27 tahun, masih kuliah dan bekerja paruh waktu sebagai penerjemah daring. Sementara itu, Aska, 24 tahun, memiliki pekerjaan tetap sebagai juru masak.
Awalnya, Aska menolak untuk dipindahtugaskan ke desa. Namun, demi kesuksesannya di masa mendatang, Aska tidak punya pilihan selain melakukannya. Tugas Aska adalah mengidentifikasi kuliner khas desa tersebut.
Zahran dipaksa oleh Aska yang merengek untuk ditemani selama 2 tahun penuh di desa tersebut. Zahran tidak keberatan, kebetulan Zahran mengambil paket daring untuk kuliahnya karena ia juga disibukkan dengan pekerjaan paruh waktu yang juga dikerjakan secara daring.
Beberapa hari kemudian...
Melakukan aktivitas seperti biasa.
Tepat pukul 05.25, Zahran berlari-lari kecil untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Tanpa sengaja ia melihat salah seorang warga berjalan sambil menenteng parang ke arah berlawanan. Zahran menundukkan kepala sambil berjalan pelan saat berpapasan. Tiba-tiba lelaki itu berhenti tepat di depannya.
"Mau ke mana, Nak?" suaranya yang dalam. Zahran menjawab dengan tenang, "Saya sudah selesai lari pagi dan akan pulang, Pak." Lelaki itu menatap Zahran dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tajam dan menakutkan.
"Kamu bebas keluar saat pagi dan siang. Tetapi berhati-hatilah saat kamu keluar di malam hari" tegas nya, lalu pergi.
Zahran mengangguk, "Baik pak-" kata nya terjeda karena di tinggalkan begitu saja.
***
Aska yang berkutat dengan kasur empuknya, tiba-tiba terbangun dan ingin buang air kecil. Setelah selesai, ia mendengar suara teriakan minta tolong, agak samar karena suara hujan deras.
Pekerjaan daring Zahran baru saja selesai larut malam, tepatnya pukul 23.55, matanya yang lelah harus segera diistirahatkan. Di luar, petir terdengar menyambar. Saat hendak tidur, Zahran tiba-tiba mendengar Aska berteriak.
Mendekati Aska yang tengah berteriak-teriak di ruang tamu. Aska melihat ke arah jendela yang gordennya terbuka lebar. Dengan rasa penasaran, Zahran melihat ke arah gorden tersebut dan melihat apa yang dilihatnya sungguh mengejutkan.
***
Suara napas terengah-engah yang terus dikejar oleh seseorang yang seakan mencabik-cabik tubuhnya tanpa jejak, orang itu terus berlari sangat kencang sekencang-kencangnya untuk menghindari takdir kematiannya.
Menyipitkan matanya yang kabur karena air hujan yang terus mengalir disertai darah segar yang keluar dari keningnya.
Ia berteriak minta tolong. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya karena saat ini ia sedang berada di dalam hutan menuju desa berikutnya. Ia terjatuh lalu berdiri lagi terjatuh lagi dan terus seperti itu. Tahu bahwa ia masih dikejar oleh seseorang yang sadis, ia tetap bersemangat menahan rasa sakit dan terus berlari mencari tempat aman.
Sesampainya di desa yang dituju nya, ada salah satu rumah yang lampunya masih menyala dan akhirnya ia berteriak minta tolong lalu mengetuk jendela.
Dan beruntunglah ada yang membukakan gorden jendela saat itu ia tersenyum kecil meminta pertolongan, namun tubuhnya sudah tidak kuat lagi dan akhirnya pingsan di bawah derasnya hujan.
Segera membuka pintu untuk memeriksa keadaannya lalu Zahran mengangkat tubuhnya dan masuk ke dalam rumah. Aska yang masih mengucek matanya tak percaya ada orang asing masuk ke rumahnya dengan kondisi yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.
"Aska, tolong panggilkan teman doktermu!" ucap Zahran setelah membaringkan tubuh orang itu di sofa.
Dengan sibuk Aska mencari ponsel dan segera meneleponnya. Sementara Zahran mengompres tubuh wanita itu dengan air hangat dan menyelimuti tubuhnya yang masih basah kuyup.
Telepon terus berdering, teman dokternya tidak mengangkat karena sudah larut malam. Tidak menelepon pihak rumah sakit karena di desa itu hanya ada klinik kecil dan tidak bertugas saat sudah larut seperti ini.
Sudah beberapa menit menelpon dokter tidak kunjung di angkat. Zahran segera mengambil jaket dan payungnya. "Mau ke mana, bang?"
"Gue cari bantuan, dan kita butuh seseorang untuk mengganti pakaiannya" karena dia perempuan.
"Hati-hati, bang!" Aska masih berusaha menelepon temannya.
Sambil melirik wanita itu dan melihat ponselnya, teman dokternya menelepon balik, dan segera mengangkatnya.
***
Dibaringkan di atas kasur milik Zahran kini pakaian nya sudah diganti dengan yang lebih layak dan hangat oleh selimut yang tebal, kening nya diperban dan tangan nya masih di infus.
Berterimakasih kepada Ibu Danilah asisten rumah tangga yang menyambut kakak beradik itu saat datang kedesa dan sekarang ibu itu membantu meraka dini hari, untuk menggantikan pakaian perempuan yang di temui kedua tuan muda, di depan rumah nya
Dokter yang menangani perempuan itu, masih disana.
"Kondisi nya saat ini sudah membaik. Dia pingsan karena kelelahan dan cukup mengeluarkan banyak darah. Saat ini saya memberikan obat tidur agar pasien beristirahat dengan cukup" membuka infus.
"Apa kalian sudah menelpon yang berwajib?" sambung dokter. "Tidak. Dia kenalan ku jadi tidak perlu untuk melapor" jawab enteng Zahran.
Aska dan Danilah asisten rumah tangga itu menatap Zahran dengan bingung.
"Ohh baiklah jika seperti itu. Saya pamit terlebih dahulu dan kalian bisa mengambil obat nya besok di klinik" keluar dari kamar.
Diikuti Aska, "Nay, terimakasih udah mau bantu kami. Apalagi sudah selarut ini" ujar Aska.
"Sama-sama, santai aja lagian itu kan tugas seorang dokter" jawab Nayla tersenyum, "Gue antar Lo pulang".
Nayla menolak karena dia sudah diantar dan di jemput oleh suaminya. Dan dia mengingatkan kembali untuk mengambil obat diklinik besok siang. Tidak lama Danilah asisten rumah tangga juga ikut pamit pulang di antar oleh Zahran.
"Sungguh maaf bi kami sudah mengganggu waktu istirahat nya" kata Zahran sudah tiba di depan rumah Danilah.
"Tidak apa-apa, kan sudah bibi katakan jangan sungkan jika ingin meminta bantuan bibi tuan muda" jawab nya tersenyum lebar.
Sebelum Zahran pulang Danilah bertanya siapa perempuan itu. Zahran menjelaskan semua nya dan meminta tolong agar Danilah tidak memberitahu semua warga, karena dia harus bertanya terlebih dahalu kepada perempuan itu sebelum melapor.
"Baiklah jika seperti itu, tetapi jangan lama-lama ya takut nya nanti orang-orang bersangka buruk kepada tuan." khawatir Danilah.
Danilah juga mengatakan saat mengganti pakaian perempuan itu banyak luka lebam di bagian punggung dan leher nya. Zahran yang mendengar cukup terkejut.
Melihat Zahran yang terdiam lama, Danilah menyuruhnya pulang. "Pulanglah tuan muda, terima kasih sudah mengantar bibi" ujar nya.
***
Sudah dua hari perempuan itu masih belum bangun dari tidur nya. Aska terus mendesak, untuk melapor tetapi Zahran terus menolak, dia menunggu perempuan itu bangun terlebih dahulu.
Di depan pintu kamar, Aska terus melihat ke arah perempuan itu. "Lo tunggu disini!" Zahran keluar untuk mencari bahan makan. "Mending gue aja bang yang keluar" sahut nya.
Zahran menolak. Baru saja dia melangkah ke ruang tengah, "Bang sini!" Aska melihat perempuan itu sudah membuka mata nya. Memutarkan tubuhnya dan kembali memasuki kamar untuk melihat perempuan itu.
Bingung berada di tempat asing, perempuan itu melihat kedua kakak beradik itu dengan seksama dan dia bangun dari baringnya menjadi duduk. "Apa kamu sudah lebih baik sekarang?" kata Zahran mendekati perempuan itu.
"Hem... kamu kenapa? apa kamu ingin minum?" sambungnya.
Tidak ada respon, masih diam melihat ke arah jendela yang terlihat jelas bagian luar karena semua nya dari kaca termasuk pintu.
Aska mendekat dan mengerutkan keningnya berbisik 'kenapa dia, kok diam saja?' Zahran menggeleng ia juga bingung.
"Zahran, itu namaku" perempuan itu menoleh kearah nya. "Dan ini adik saya-" jeda nya.
"Aska, gue Aska Zeeneo panggil aja Aska" tersenyum lebar
Perempuan itu mengerti apa yang di katakan kakak beradik itu tetapi dia masih diam saja hanya mengangguk. Saat itu ia baru sadar dengan pakaian yang dikenakan nya dan melihat mereka berdua memasang wajah marah.
"Ohh, sebentar itu bukan kami yang ganti. Ada asisten rumah tangga di sini, kami meminta tolong kepada nya dan kami tidak seperti itu dan tidak berani" jawab cepat Zahran.
Mulut perempuan itu bergerak sedikit seperti mengatakan sesuatu. Tetapi mereka tidak dapat mendengar nya karena tiba-tiba petir terdengar menyambar di luar sana dan hujan sangat deras di sore hari.
***
"Jadi sekarang gimana bang?" duduk di sofa, mata nya yang terus melihat ke arah perempuan itu di meja makan sedang menyantap makanan.
Zahran menjelaskan kepada Aska bahwa dia belum sempat berbicara dengan perempuan itu jadi dia tidak sempat melapor. "Kenapa Bang? dia aja tidak mengucapkan kata sedikit pun" kesal Aska.
"Aska, gue akan berusaha agar dia berbicara, lebih baik Lo tidur sekarang udah malam besok kan Lo ada jadwal lebih awal" perintah Zahran. Aska menghela nafas panjang dan berbisik 'Lo mau ngapain cewek itu sampai gue di suruh tidur' ketawa licik dan mencibir memasuki kamar nya.
Isi otaknya Aska sangat diluar dugaan. Melihat perempuan itu sudah selesai makan malam, Zahran mendekati lalu memberikan pakaian lain kepada perempuan itu. "Gantilah, baju yang kamu gunakan sudah dua hari di pakai jadi segera ganti" ujar nya.
Perempuan itu membuka kancing baju yang di kenakan nya di depan Zahran. Serontak Zahran menutup mata nya, "Kamu bisa mengganti nya di dalam kamar!" ucap nya masih dengan mata tertutup. Mengambil baju yang masih di tangan Zahran, perempuan itu tidak sengaja bersentuhan jari nya dengan jari Zahran.
'Clek' suara pintu terbuka lalu tertutup. Zahran mendengar langkah kaki nya sudah masuk kedalam kamar. Dan membuka mata nya perlahan dia melihat sesuatu yang membuat diri nya sungguh terkejut.
***
"Z A" adalah kata pertama yang diucapkan.
Sebuah perusahaan yang berdiri di sebuah desa terpencil. Tak seorang pun tahu tentang perusahaan yang satu itu, pernah ada seorang wartawan yang penuh rasa ingin tahu, ia menyelidiki perusahaan yang bernama Z A.
Namun, wartawan itu menghilang tanpa jejak. Keluarga nya telah kehilangan anak tunggal mereka selama 6 tahun.
Mengapa pihak berwenang tidak menyelidiki perusahaan itu? Polisi menemukan bahwa perusahaan itu telah menyamar sebagai perusahaan administrasi kantor sementara, tetapi sebenarnya ada sesuatu di balik perusahaan itu.
Bangunan itu tidak terlalu tinggi. Tetapi memiliki ruang bawah tanah yang sangat luas dan banyak kamar untuk satu orang yang dipagari dengan jeruji besi yang sangat kuat dan tebal.
Melihat banyak orang di sana yang tidak berdaya, mengerutkan kening, mencoba membuka satu sel dan sel berikutnya sangat sulit dibuka.
"Tolong"
"Tolong"
"Tolong"
Terus mengucapkan kata-kata yang sama. Semua orang di sana begitu putus asa dengan keberadaan mereka saat ini.
Kenapa dia tiba-tiba ada di sana?
Di mana aku? Tempat apa ini?
Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah kebingungan, dia terus berjalan melewati tempat itu dan di sana ada banyak orang, beberapa di antaranya bahkan sudah meninggal.
Tepat di depan salah satu sel, saat melihat wajahnya, Zahran terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, membuatnya meneteskan air mata dan mencoba membuka sel secara kasar dengan menatap sendu ke arah seseorang di dalam, bercampur amarah dan kekecewaan, Zahran terus berusaha membukanya.
Karena tidak dapat membukanya, tiba-tiba lengan Zahran ditarik oleh wanita. Dan ia pun mengambil pulpen yang diberikan oleh seseorang di dalam sel.