Tania duduk manis di tempat kerjanya menunggu jam snack pagi. Tiba-tiba dua helai kertas sudah tersaji dimeja kerjanya lengkap ma materai tempel. Tania mengangkat muka, ada Fitra yang tersenyum manis berbunga-bunga didepannya.
“Apa nih?” tanya Tania masih tidak bersahabat
“lo baca aja, tolong ditanda tangani…” saut Fitra santai
“Surat permohonan maaf dan surat permohonan damai serta berteman kembali… maksud lo apa dengan dua surat ini?” tanya Tania bingung
“yaaa… gue pengen mengakhiri masa perang dingin diantara kita Tan,, en kalo bisa berteman lagi kayak biasa! Makanya gue mengajukan surat itu..” jelas Fitra.
“Gue gak bisa tanda tanganin ini..” Tania menyorongkan kertas itu kembali ke Fitra
“gue bawa kok pulpennya…” cegah Fitra
“bukan masalah pulpen! Yang lo sakitin itu bukan hati yang disini, tapi hati yang ‘disana’, meski gue disini maafin lo, blom tentu yang disana bakalan mau. MESKIPUN GUE TANDA TANGANIN INI, BUKAN BERARTI AKAN BENAR BISA BERTEMAN SEPERTI DULU,, NGERTI GAK LO?” Saut Tania cepat
“tapi kenapa gak bisa?” balas Fitra
“….”
“kenapa sih, Tan? Apa yang menghalangi bisa berteman lagi? Emang lo gak bosen apa perang dingin kayak gini?” cecar Fitra
“karena pada dasarnya gue en lo itu gak satu jalan yang sama! Jadi dari awal emang bukan temen sih, hanya saja kemarin nyeberang jalan, makanya jadi ada masalah. Sekarang lo en gue sudah dijalur yang benar, gak perlu lagi nyebrang2 dengan alasan berteman. At least, now you have your own group, don’t you? Tetaplah melangkah bersama mereka..” saut Tania sambil menatap lurus ke mata Fitra.
“jadi lo tetep mempertahankan perang dingin ini?”
“bukan perang dingin. Tapi JAGA JARAK. Gue harap, jika masih ada rasa lo ke gue, gue minta dengan sangat, fix it to her! Gue malas banget klo dikira ada masalah ma your’s girl. Go on your way!” saut Tania.
“satu lagi,, JANGAN SOK SINGLE DI DEPAN GUE!” Sambung Tania kemudian berlalu.
&&&
Seperti ada rasa tak rela dalam hatiku mendengar dia sedang menyiapkan acara untuk pernikahannya. Meskipun secara adat aku tidak berhak untuk melarangnya. Karena aku sudah berkeluarga. Tetapi entah kenapa dalam hatiku terdalam ada rasa tak rela ia akan dimiliki oleh seseorang yang asing, tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dia tampak santai memang, belum tampak ada gurat-guratan inai yang biasanya menghiasi punggung tangannya, belum juga kuku-kukunya dihiasi oleh daun inai yang menandakan dia akan termiliki, hanya cincin emas yang melingkari jari manis ditangan kirinya itu satu-satunya tanda bahwa dia sudah ada yang melamar.
Seperti baru saja rasanya ketika aku masih bisa bertegur sapa dengannya, dia yang menjadi magnet untuk aku datang pagi-pagi dan kembali paling akhir dari tempat kerja. Tetapi semuanya berubah seiring rasaku yang juga berubah. Pertemanan yang begitu indah, ternoda oleh cinta yang menggebu-gebu, rasa ingin memilikinya untukku sendiri, meski ku tahu situasi kami sudah sama-sama termiliki oleh hati yang lain. Setelah itu dia senantiasa menundukkan pandangan ketika sengaja atau tak sengaja aku ingin bertegur sapa mengurai canda supaya mencairkan suasana. Atau memandang ke arah lain seolah aku tak ada disana. Wahai… bisa kah kau beri aku waktu sedikit saja untuk ku bisa menjelaskan atau paling tidak menyatakan bahwa aku ingin juga kau lihat. Aku ingin juga kau anggap. Seperti halnya mereka yang lain. Meski pertemanan kita pernah ternoda, bukan berarti aku ingin selamanya begitu.
Ku rasakan angin berhembus lembut. Ingin ku sampaikan berjuta maaf yang ku karang dalam lembut embun pagi, sinar bulan, desau angin, kemericik air hujan, untuk bisa ku haturkan padamu. Aku ingin lagi kita bisa berteman seperti dahulu, tanpa tebing angkuh hatimu, bagaikan tembok Berlin yang memisahkan. Meski kini aku tlah termiliki dan kaupun akan dimiliki. Mungkin kah maaf ini akan kau rasakan atau hanya menjadi impian yang akan pupus bersama terbit matahari esok pagi?
****
"gue mo komplen ma lo.. kenapa sih lo bisanya gangguin hidup gue aja? Emang lo gak ada kerjaan lain apa?” sembur Tania ke Fitra suatu sore. Fitra mengangkat alisnya, gak ngerti.
“gak usah sok nggak ngerti gitu deh.. berabad lalu lo ngajak gue salaman,, dua dekade yang lalu sok2 mo ngasih kiss bye,, 2012 ini lo ngasih gue tugas yang gak boleh digantiin ma siapapun.. emangnya lo dah kehabisan stok manusia staf elo, sampe harus nyerahin ke gue, yang masuk panitia acara pun enggak diteam lo?”sautnya masih dengan volume yang sama.
Fitra nyengir.
“dah gak perlu cengar-cengir ga jelas gitu,, lo dulu bilang waktu gue clash ma pacar lo, jangan ganggu hidup lo berdua lagi,, gue sejatinya gak pernah gangguin, gue udah cuek bebek bin cuek angsa ma lo, gue mundur meskipun gue gak ada salah ma lo bedua,, sekarang kenapa malah lo balik sok-sok baik ma gue!” Fitra diem.
“dengar ya Fit, gue bilang lo sok-sok baik ma gue karena gue gak tau apa yang ada dihati lo.. oh ya, soal undangan wedding gue, klo lo nganggap gue temen ataupun musuh lo sekalipun, gue minta dengan sangat untuk GAK nunjukkin diri didepan pelaminan gue, meskipun lo di undang!”
“kok gitu sih Tan?” balik Fitra protes
“Tan.. Tan.. emang setan? Anggap aja lo bayar ketidak hadiran gue dipesta lo. Gue gak pengen kehadiran lo malah buka luka lama seseorang. En bikin suasana pesta gue malah gak berjalan yang kayak gue harapkan. Asal lo tau Fit, dia gak pengen lo datang keacara kami.. gue harap lo ngerti!” Tania berbalik ninggalin Fitra. Fitra menangkap tangan Tania
“emangnya kenapa gue dilarang sih?” tanya Fitra lagi
“Wuufh.. jadi lo masih nggak ngeh ya? Emangnya lo gak ngerasa udah nyaris bikin hubungan gue putus, en sekarang waktu kami mo ngerayain kembali bersatunya ini lo bilang mo datang… malu donk men… tanpa dosa banget sih hidup lo!” ucapan Tania makin pedas,, mungkin sebelum ngomong dia terlebih dahulu nelen botol sambel extra pedas dulu sehingga mpe napasnya ikutan pedas. Fitra membiarkan Tania berlalu dari hadapannya.
‘sebenernya gue gak pernah ada niat untuk bikin lo putus, Tania..’ katanya Fitra pelan.
****
Fitra menyenderkan tubuhnya di dinding kamarnya. Kenal Tania udah sekitar 2 tahunan ini. Tapi clash terbuka baru kali ini. Clash tertutup alias via handphone beberapa waktu dulu, waktu masih punya pacar. Iya sih, dia bener aja waktu itu Fitra bilang jangan ganggu hidup mereka berdua lagi. Dan setelah itu Tania beneran menjauh gitu. Jarang banget Fitra dapat senyuman nyasar, atau dapat ucapan tentang penampilan hari ini. Masih sih dia muji2, tapi muji orang lain, staf lain. Tania juga gak mau melibatkan diri terlalu fulltime ke kegiatan yang ada Fitranya. Malah, klo pas Fitra melihat atau menampakkan diri, di pandangan Tania langsung kayak transparan gitu, dicuekin abiz. Sehabis2nya. Kecuali saat perlu menyampaikan sesuatu. Fitra mencoba tabah.
Mencoba menjalin keakraban lagi. Tapi semuanya dipatahkan oleh sikap Tania yang kadang angkuh. Responnya kadang gak penuh, bahkan bisa2nya sekarang majang muka datar saat Fitra cerita didepan rekan kerja saat jam istirahat. Dan sok2 main hp.
Apa katanya tadi, dia mau menikah dan minta Fitra GAK menampakkan diri di depan pelaminannya.
DIA MAU MENIKAH DAN MINTA FITRA GAK MENAMPAKKAN DIRI DIDEPAN PELAMINANNYA!!
Dia emang gak hadir di acara yang sama, saat Fitra menikah. Banyak yang berpikir, Tania patah hati karena sebelumnya dekat dengan Fitra. Tetapi pada dasarnya, Tania gak hadir karena memang gak respek ma pasangan itu pasca clash tertutup itu. Meskipun tadinya hubungan ma Fitra baik2 aja, tapi saat sang pasangan kayak singa muda itu, niat datang langsung menguap kayak thinner di tuang, tanpa sisa. Dan mengusahakan bisa kabur dengan alasan masih ada di tempat lain.
Fitra menghela napas. Gak tau harus gimana. Menuruti kata2 Tania atau tradisi untuk datang dan memberikan doa restu. Tapi Tania pasti bakalan benci atau malah pasangannya Tania bakalan ngamuk. Dilemma.