Suatu malam, ketika aku pulang lebih awal dari biasanya, aku menemukan Haris di kamar kami. Bukan sendirian, tapi bersama seorang wanita lain. Aku berdiri di pintu, terpaku, tak tahu harus berkata apa.
“Oh, kamu pulang?” Haris bertanya santai, seolah aku hanya tamu di rumahku sendiri.
Wanita itu tertawa kecil, tidak peduli dengan keberadaanku. Mereka melanjutkan aktivitas menjijikkan, seolah aku tidak ada.
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak. Tapi suaraku hilang. Hanya air mataku yang bicara.
Ketika Haris akhirnya menyuruh wanita itu pergi, aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Haris, kenapa kamu begini? Aku sudah melakukan segalanya untukmu. Aku bekerja siang malam, aku membayar semua hutangmu. Apa aku masih kurang?”
Dia hanya menghela napas, lalu menatapku dengan wajah bosan. “Dengar, Sinta. Aku nggak pernah minta kamu kerja sampai segitunya. Itu keputusanmu sendiri. Jadi jangan salahkan aku.”
Hatiku hancur mendengar kata-kata itu.
---
Aku duduk di kamar setelah Haris pergi, mungkin ke tempat wanita itu. Aku memandang cermin kecil di meja rias. Wajahku yang dulu cantik kini dipenuhi kerutan. Tanganku yang dulu halus kini kasar karena terlalu banyak bekerja. Mataku yang dulu berbinar kini hanya menyimpan lelah.
“Dulu, aku pernah dicintai,” bisikku pada bayanganku sendiri. “Dulu, aku pernah menjadi cantik. Dulu, aku pernah merasa berharga.”
Aku memegang cermin itu erat-erat, ingin membuangnya. Tapi kemudian aku melihat bayangan di balikku—foto lamaku bersama Haris, saat kami masih tersenyum bahagia. Aku menangis sejadi-jadinya.
---
Hidupku kini bukan lagi tentang kebahagiaanku. Aku menjalani hari demi Haris, demi hutang-hutangnya, demi harga dirinya yang entah masih ada atau tidak. Aku bertahan, bukan karena cinta, tapi karena aku terlalu takut untuk pergi.
Tapi di tengah malam itu, ada satu pikiran yang muncul di kepalaku.
“Mungkin… mungkin aku bisa berhenti mencintainya. Mungkin aku bisa mencintai diriku sendiri lagi.”
Pikiran itu hanya datang sekilas, seperti nyala lilin di tengah angin. Tapi aku tahu, itu adalah awal dari sesuatu yang baru—sesuatu yang mungkin akan menyelamatkanku suatu hari nanti.