Dulu, aku pernah dicintai seperti pasangan yang dimabuk asmara. Ada masa ketika Haris, suamiku, memujiku habis-habisan. Katanya, aku adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tersenyum, yang bisa membuat hidupnya lengkap. Dia memelukku seolah aku adalah segalanya. Aku dulu pernah cantik, seperti gadis lainnya, dengan kulit bersih dan mata yang penuh harapan.
Dulu, aku merasa berharga. Namun, itu semua hanya kenangan yang kini terasa seperti mimpi yang tak pernah nyata.
---
Hari ini, aku berdiri di depan wastafel, mencuci piring yang menumpuk setelah makan malam. Haris sedang duduk di ruang tamu, asyik dengan ponselnya. Aku tahu, dia sedang berkirim pesan dengan wanita lain. Aku tahu, karena tadi aku sempat melihat sekilas layar ponselnya ketika dia meletakkannya di meja. Nama seorang wanita terpampang jelas, lengkap dengan emotikon hati di sebelahnya.
“Buang muka, Sinta. Jangan cari masalah,” bisikku pada diri sendiri.
Aku melanjutkan mencuci, meski air mataku mulai menetes. Suara ponselnya yang berbunyi nyaring membuat hatiku terasa seperti dihujam pisau. Tapi aku tetap diam, seperti yang selalu kulakukan.
---
Pagi harinya, aku bergegas menuju tempat kerjaku. Aku bekerja sebagai penjaga toko di pagi hari, lalu menjadi pelayan di restoran pada malamnya. Di sela-sela itu, aku mengambil pekerjaan tambahan membersihkan rumah orang. Semua uang yang kudapatkan masuk ke satu tempat, membayar hutang Haris.
Haris terlibat hutang besar karena kebiasaannya berjudi dan gaya hidupnya yang mewah bersama para wanita itu. Aku tidak tahu kapan hutang itu akan lunas. Yang kutahu, aku harus terus bekerja, karena jika tidak, rentenir akan datang lagi.
“Bu, kapan istirahat?” tanya salah satu rekan kerjaku di restoran malam itu.
Aku hanya tersenyum. “Nanti, kalau dunia ini berhenti berputar,” jawabku setengah bercanda.
Tapi aku tahu, aku tidak benar-benar bercanda.
---