Matahari telah tenggelam. Malam tiba, tanpa bulan di langit.
'DOR!' Suara tembakan terdengar tiga kali beruntun. Seseorang berpakaian serba hitam berhasil membunuh tiga orang di ruang tamu.
Dia menatap anak kecil yang terpojok di sudut ruangan. Dia mengacungkan pistol. Menodong anak kecil yang ketakutan itu. Bersiap melepaskan pelatuknya.
'DOR!' anak kecil itu tewas seketika.
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Daniel baru saja sampai rumah setelah seharian sekolah. Dia terbelalak begitu melihat ayah dan ibunya tergeletak tak bernyawa dilantai. Bersama dengan seorang asisten rumah tangga di rumahnya.
"Ayah?! Ibu?!" Teriaknya histeris.
Sosok berbaju hitam itu itu membalikkan badannya. Menodongkan pistolnya ke arah Daniel. Daniel terlambat menyadarinya. Dia sudah akan melepaskan tembakan.
'DOR!'
Tak ada waktu untuk menghindar. Peluru itu melesat cepat, tepat menembus dada kirinya.
Tubuh Daniel ambruk. Malaikat maut akan melakukan tugasnya. Orang keji itu melangkah ke arahnya. Daniel yang sekarat tidak bisa melakukan apa-apa. Orang itu berjalan melewatinya, tanpa rasa iba sedikitpun.
'Bruum!' Suara mesin mobil dinyalakan.
Orang itu pergi dengan mobil sedan hitamnya. Melarikan diri dari rumah besar itu. Daniel hanya bisa menatap tak berdaya.
Malaikat maut mulai mencabut nyawa Daniel. Membuatnya semakin tersiksa. Hingga perlahan pandangannya mulai menjadi gelap gulita.
Tidak dia sangka, ia kembali bisa melihat. Dia melihat jelas tubuhnya tergeletak di lantai.
"A-apa ini?" Tanya Daniel dalam pikirannya.
Daniel mendongak. Sosok menyeramkan dengan jubah hitam dan membawa sabit ada di hadapannya. Seorang malaikat maut.
"Apa-apaan ini?! Kau mencabut nyawa ku, tapi kenapa kau tidak membawa ku kesana?!" Tanya Daniel. Merasa dirinya tengah dipermainkan oleh malaikat maut.
Dia tertawa. Menyeramkan.
"Aku tau kau penasaran dengan pembunuhan ini. Aku memberi mu kesempatan untuk mencarinya." Kata malaikat maut itu. Lalu menghilang dalam sekejap.
Daniel terdiam. Dia memegangi dada kirinya yang tertembak.
"Aku harus tau siapa dia." Katanya dalam hati.
Tiga tahun berlalu...❖•–
Rumah Daniel kini terbengkalai. Dindingnya mulai retak dan catnya terkelupas. Lumut juga tanaman rambat memenuhi beberapa sudut dinding.
Sedangkan berbagai furnitur di dalam rumah penuh dengan debu. Kayu-kayu pun juga tak luput dari termakan rayap.
Warga di sekitar rumahnya tidak ada yang berani kesana. Karena takut akan kehadiran arwah Daniel dan keluarganya.
Namun, hanya ada Daniel disana. Sendirian, keluarganya sudah tenang di alam sana. Dirinya masih terjebak, sambil memikirkan cara mengetahui identitas orang itu.
–•❖❖❖•–
Keesokan harinya.
Di rumah lain. Rumah sebuah keluarga kaya yang harmonis. Seorang gadis remaja keluar dari rumah itu. Menikmati hari Sabtu sore setelah pulang sekolah. setelah pulang sekolah. Dia bernama Seva.
"Seva! Kamu mau kemana?!" Tanya Hendra, ayahnya. Dia baru akan kembali lagi ke kantor setelah makan siang.
"Ke rumah Karin!" Sahut Seva.
Setelah beberapa menit Seva naik bus. Seva hampir sampai di rumah temannya itu. Seva berjalan melewati jalanan diantara rumah-rumah.
"Seva!!!" Panggil Karin dari depan rumahnya. Seva segera berlari i
"Kamu udah siap-siap?!" Tanya Seva begitu melihat tas milik Karin.
"Udah dong!" Jawab Karin dengan semangat.
Mereka berencana untuk uji nyali. Sebelumnya mereka sudah menentukan tempat uji nyali di sekolah.
Karin memberi ide rumah kosong yang tidak jauh dari perumahan tempatnya tinggal. Rumah kosong yang dia dengar dulu bekas pembantaian sebuah keluarga.
"Langsung ke sana aja yuk. Nanti keburu kakak ku pulang." Kata Karin. Kemudian mereka bersama berangkat ke tempat tujuan.
Di rumah Daniel.❖•–
Daniel berdiri di depan jendela kamarnya di lantai dua. Dia melihat dua gadis remaja menuju ke rumahnya.
"Apa yang ingin mereka lakukan?" Pikirnya.
Ya, rumah yang Karin maksud adalah rumah Daniel. Seva dan Karin menatap rumah dihadapannya. Karin perlahan membuka pintu rumah Daniel.
'Kreet...' Karin merasa seakan orang membukakan pintu untuknya. Daniel masih mengamati mereka. Dia tidak peduli Seva dan Karin akan mengacak-acak rumahnya.
Mereka mencoba masuk. Seva dan Karin menyalahkan senter. Benar-benar sunyi. Bahkan bisa sampai mendengarkan detak jantung mereka sendiri.
"Ih serem." Kata Seva lirih.
"Kita jalan bareng-bareng aja." Ujar Karin. Mereka melangkah, memulai penjelajahan di rumah kosong yang asing bagi mereka.
Disisi lain.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah Daniel. Daniel memperhatikan mobil itu. Merasa tidak asing.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil. Hendra, ayah Seva. Dia seketika tegang melihat rumah ini. Daniel tiba-tiba saja terbelalak. Menyadari akan sesuatu.
"Itu dia..." Batin Daniel. Dia mengingat jelas plat nomor mobil pelaku tiga tahun yang lalu.
Seorang remaja laki-laki datang, dia Galih satu-satunya kakak Karin. Ia menghampiri Hendra.
"Om Hendra?" Remaja SMA itu tampak cukup akrab dengan Hendra.
"Kamu kakaknya Karin 'kan?" Tanya Hendra.
"Iya Om." Jawab Key.
"Krek!"
Terdengar ada sesuatu yang patah. Tiba-tiba beberapa genting atap rumah Daniel jatuh. Syukurlah, Hendra dan Galih selamat karena sempat menyingkir.
Galih mendongak. Melihat bekas atap yang jatuh.
"Hah, siapa itu?" Tanya Galih dalam pikirannya. Dia melihat sekilas sosok menatap tajam ke arahnya.
"Seva! Karin! Keluar dari sana." Teriak Hendra.
Teriakan itu Seva dan Karin tersentak kaget. Mereka baru akan masuk ke sebuah kamar tidur di lantai dua.
"Aduh ternyata ayahku ngikutin aku." Kata Seva.
"Yaudah, kita keluar aja yuk." Ajak Karin.
Mereka akhirnya turun ke lantai satu. Dan keluar dari rumah Daniel.
Namun, Daniel mengikuti di belakang mereka. Dia merasuki tubuh Karin. Menatap tajam Hendra dengan mata Karin.
"Karin?" Panggil Seva.
Tanpa basa-basi Karin mencekik leher Hendra.
"Karin?! Kamu apa-apaan sih?!" Teriak Seva histeris. Sambil berusaha melepaskan cekikan Karin dari leher ayahnya.
Galih dengan cepat menarik tubuh Karin ke belakang. Hingga melepaskan cekikannya.
"Aku tau kamu bukan Karin! Siapapun kamu keluarlah!" Kata Galih.
Tubuh Karin lalu lemas setelah arwah Daniel keluar dari tubuhnya. Dia saling bertatapan dengan Galih.
"Kak Galih, Karin kenapa?" Tanya Seva.
"Enggak apa-apa. Tolong pegangin Karin sebentar." Ujar Galih. Seva bergantian memapah temannya itu.
"Jadi, apa yang bikin kamu marah?" Tanya Galih. Berusaha berinteraksi dengan Daniel.
"Dia membunuh keluarga ku." Jawab Daniel. Matanya nampak penuh kesedihan dan kebencian. Galih tersentak.
"Om Hendra, apa om tau pembunuhan di rumah ini?" Tanya Galih pada Hendra.
"Tentu saja. Tapi bukan om pelakunya. Dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Om membeli mobil ini dari keluarganya." Jelas Hendra.
"Om Hendra nggak bohong 'kan? Tanya Galih lagi.
"Om tidak bohong. Dan siapapun kamu, dia sudah mendapatkan karmanya. Dia kecelakaan setelah kabur dari rumah ini. Kamu bisa tenang sekarang." Ucap Hendra.
Daniel menatap tidak percaya. Dia meraba dada kirinya. Luka tembak itu menghilang. Begitu juga dengan rasa penasaran, sedih, dan bencinya.
Mungkin penantiannya 3 tahun disini terasa sia-sia. Tapi, setidaknya dia dapat mengetahui pelaku itu sudah mendapatkan karma.
–•❖×THE END×❖•–