Di dunia yang tak jauh berbeda dari kita, terdapat sebuah dimensi yang tak pernah bisa disentuh oleh manusia biasa. Dimensi itu terletak di antara dunia nyata dan dunia mimpi, sebuah ruang yang terhubung dengan kekuatan tak kasat mata. Di dunia ini, segala sesuatu mungkin terjadi. Dimensi ini dikenal sebagai Eka.
Di dalam Eka, ada seorang gadis bernama Naira. Ia adalah seorang penjaga dimensi, seseorang yang tugasnya adalah memastikan semua garis dimensi tetap seimbang. Namun, ada satu hal yang tak pernah bisa ia kontrol—hati manusia. Hatinya yang rapuh dan penuh harapan.
Suatu hari, saat sedang menjalankan tugas di batas antara dimensi, Naira merasakan sesuatu yang berbeda. Di ujung langit yang berbintang, ia melihat cahaya yang bukan berasal dari dimensi mereka. Itu adalah cahaya yang datang dari dunia manusia. Sebuah dunia yang sudah lama ia hindari, karena setiap kali Naira berusaha menjangkaunya, ia selalu kehilangan jejak dan kembali tanpa hasil.
Namun kali ini, cahayanya begitu kuat. Seperti magnet, Naira merasa dipanggil oleh suara yang tak dapat ia dengar, namun begitu nyata. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk melangkah lebih dekat, menembus batas dimensi yang seharusnya tidak bisa dilewati oleh siapa pun.
Sementara itu, di dunia manusia, ada seorang pemuda bernama Arga. Ia adalah seorang penulis yang hidup dalam kesendirian, terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Meskipun hidup di dunia yang penuh dengan orang, Arga selalu merasa kosong. Sejak kecil, ia merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, seolah ada bagian dari dirinya yang tak pernah bisa terhubung dengan dunia di sekitarnya.
Arga sering bermimpi tentang seorang gadis dengan rambut panjang yang terbuat dari cahaya, seorang gadis yang selalu menyapanya dengan senyuman lembut namun penuh misteri. Setiap kali ia terjaga, Arga merasa seperti terlepas dari kenyataan, seolah terjebak dalam dunia yang tak dapat ia pahami. Mimpi itu begitu nyata, bahkan ia bisa merasakan kehangatan tangan gadis itu yang tidak pernah ia temui.
Suatu malam, saat Arga duduk di depan komputernya menulis, sebuah pesan muncul di layar. "Aku ada di sini. Aku merasakanmu."
Pesan itu datang begitu tiba-tiba, seolah berasal dari dunia yang tidak ada. Arga mengira itu hanya sekadar gangguan, atau mungkin pikiran gila karena terlalu lama terjaga. Namun, pesannya berlanjut. "Aku dari dimensi yang berbeda. Kita bisa bertemu, tapi hanya jika kamu siap."
Arga merasa jantungnya berdegup kencang. Ini bukan mimpi, dan ini bukan kebetulan. Dengan sedikit keraguan, ia membalas pesan itu. "Siapa kamu?"
Dan dalam sekejap, layar komputernya menjadi gelap. Hanya ada satu kalimat yang muncul, "Aku Naira. Aku datang untukmu."
Bingung dan terkejut, Arga tidak tahu harus percaya atau tidak. Namun, malam itu juga, ia merasakan ada yang berbeda. Seperti ada kekuatan yang menariknya untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia kenal. Tanpa bisa menahan rasa ingin tahunya, Arga mengikuti suara yang hanya bisa ia rasakan, menuju tempat yang sepi, tempat yang tampaknya tidak ada di dunia ini.
Ketika Arga tiba di tempat itu, ia merasa ada seseorang yang sedang menunggunya. Dengan hati yang berdebar, ia memanggil, "Naira?"
Tiba-tiba, cahaya berpendar di depan matanya. Naira muncul, sosok gadis dengan cahaya yang melingkupi tubuhnya, berpakaian seperti langit malam yang penuh bintang. Senyumannya menenangkan, namun ada kesedihan yang tersembunyi di balik mata itu.
"Kamu... kamu nyata?" Arga bertanya dengan suara terbata.
Naira mengangguk, "Aku nyata di dunia lain. Dan aku datang untuk kamu, Arga."
Dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya, Arga merasakan dirinya seperti terhubung dengan dunia yang jauh lebih besar, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Namun, ada sesuatu yang menahan mereka, kekuatan dimensi yang tidak bisa ditabrak begitu saja.
"Mengapa kita bisa bertemu?" tanya Arga dengan mata yang penuh pertanyaan.
"Karena kita adalah dua jiwa yang seharusnya berada di dunia yang berbeda," jawab Naira. "Namun, takdir membawa kita saling mengenal meskipun dimensi kita terpisah."
Arga ingin memeluknya, ingin merasakan kehadirannya lebih dekat, namun ia tahu, ini bukanlah dunia yang memungkinkan itu. Mereka terhubung dalam dunia yang tak seharusnya mereka lewati, sebuah hubungan yang tidak bisa dimiliki sepenuhnya.
"Jadi... kita tak bisa bersama?" Arga bertanya, ada keputusasaan dalam suaranya.
"Benar," jawab Naira pelan. "Dimensi kita terlalu berbeda. Tapi, aku akan selalu ada, di sini, dalam setiap mimpimu. Kita akan selalu terhubung meskipun tak bisa saling memiliki."
Mereka berdiri dalam keheningan, dua dunia yang saling terhubung, namun tak bisa saling memiliki. Meskipun cinta mereka tak bisa sepenuhnya terwujud di dunia yang sama, mereka tahu, dalam dimensi yang lebih luas, cinta mereka akan selalu ada.
Seiring waktu, Arga mulai menulis cerita mereka, kisah tentang cinta yang tak bisa disentuh oleh dunia nyata, sebuah kisah tentang dua jiwa yang terhubung oleh takdir meskipun terpisah oleh dimensi.