Adnan
"kamu sekolahnya yang benar ya, soal biaya sekolah sama biaya hidup kita kamu gak perlu khawatir Abang akan usahain semuanya.."
Barbara
"Iya bang ara janji, kelulusan nanti ara bakal dapat nilai sempurna"
adnan
"Itu baru adik Abang, yang rajin sekolahnya jangan males-malesan cepat habisin sarapannya Abang tunggu di depan" ucap Adnan berlalu meninggalkan ara
Barbara
"siap komandan" ucap Barbara antusias
Adnan dan juga adiknya besar di panti asuhan KASIH BUNDA, tidak ada yang mau mengadopsi mereka berdua Adnan selalu menolak jika hanya dirinya atau sang adik saja yang harus di adopsi Adnan tidak ingin berpisah dari adik semata wayangnya,, sedangkan sangat jarang pasangan suami-isteri mengadopsi anak sampai dua orang sekaligus dalam satu waktu,, hal itu tidak membuat kedua kakak beradik itu merasa kecewa,, mereka bahkan merasa sangat bahagia tetap bersama hingga dewasa..
Adnan kini sudah memasuki usia dua puluh delapan tahun,, di usianya yang memasuki 21 tahun Adnan sudah menyelesaikan studi s1 nya,, setelah mendapatkan pekerjaan ia memilih tinggal di luar panti serta memboyong barbara bersamanya,, pemilik panti sebenarnya sangat keberatan jika andan dan juga Barbara harus meninggalkan panti sebab Barbara baru berusia sepuluh tahun,, namun mendengar penjelasan dari Adnan klau tempat kerjanya sangat jauh dari panti membuat Ibu Lidia harus merelakan perpindahan kedua anak yang telah lama di asuhnya itu..
Besar di panti asuhan di tambah didikan dari Bu Lidia membuat kakak beradik itu memiliki akhlak yang baik dan dapat hidup dengan kesederhanaan,, kejadian yang menimpah keluarganya tujuh belas tahun silam mengharuskan Adnan dan adiknya hidup terpisah dari ayah dan bundanya,, Adnan saat itu baru berusia 11 tahun sedangkan Barbara berusia dua bulan,, tidak bisa di bayangkan di usia yang sekecil itu Adnan dan juga Barbara harus merasakan hidup terpisah dari kedua orang tuanya miris bukan..
Minggu berganti bulan tidak terasa sudah tujuh tahun Adnan bekerja di perusahaan swasta sebagai karyawan biasa,, hari-hari yang pria itu lewati sangat berat sebab gaji yang ia peroleh setiap bulan di tempatnya bekerja di gunakan untuk membayar kontrakan serta keperluan sehari-hari mereka,, untuk mendapatkan uang tambahan Adnan rela mengorbankan waktu kosongnya agar tetap bisa membiayai kebutuhan sekolah sang adik,, apapun ia lakukan asal dapat menghasilkan uang yang lebih pria itu bahkan mau menjadi tukang ojek online di saat jam pulang kerja..
Adnan tidak ingin egois untuk kepentingan dirinya sendiri,, demi melanjutkan pendidikan sang adik Adnan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk sang adik tercinta di tambah lagi Barbara kini sudah duduk di bangku sekolah menengah atas yang dimana sebentar lagi akan mengahadapi ujian kelulusan,, sangat jelas biaya yang di butuhkan tidak hanya sedikit..
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat kedua kakak beradik itu sejak sore tadi sudah berada di kontrakan mereka,, sang adik di sibukkan untuk membuat makan malam sedangkan sang Abang mengambil kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai aktifitas sebagai driver online tepat pukul tujuh malam Barbara membangunkan sang Abang yang sedang tertidur lelap..
Barbara
"bang bangun ara udah selesai buat makan malam kita"
Adnan
"eeemmm oke"
Adnan meregangkan badan lalu berlahan bangun dari tempat tidurnya menuju wastafel yang berada di dapur untuk membasuh muka,, dua puluh menit berlalu Adnan kembali menghampiri adiknya di ruang tamu yang sudah selesai menyiapkan makan malam mereka berdua
Barbara
"Abang duduk iih makan dulu jangan berdiri di sana ajha mana melamun lagi pamali tau" ucap ara pada Adnan
Adnan
"makasih adik Abang yang manis" ucap Adnan duduk bersila di hadapan sang adik lalu menyantap makanan miliknya yang sudah tersaji di piring..
Barbara
"bang"
Adnan
"hmmmmmm" ucapnya sambil mengunyah makanan
Barbara
"Abang narik lagi ya malam ini" tanya Barbara
Adnan
"iya dong klau Abang gak narik nanti gak bisa biayain keperluan ara di sekolah ara dong"
Barbara
"hmmm gimana klau ara bantu kerja juga bang boleh gak?? Tanya ara berusaha untuk tidak menyinggung perasaan sang Abang
Adnan
"cukup sekolah yang baik belajar yang bener masalah yang lain itu bukan urusan ara itu sudah jadi tanggu jawab Abang sebagai Abang sekaligus orang tua buat ara" jelas Adnan lembut.
Mendengar penolakan halus dari Adnan Barbara memilih diam gadis itu tidak ingin merusak mood sang Abang dan membuatnya marah,, namun dalam hati kecilnya ia tidak ingin terus menerus membebani Adnan,, di sisi lain ia juga tidak ingin membantah perkataan abangnya..
"kalau Abang kerja duitnya buat aku kapan abang punya masa depan" gumam Barbara dalam hati
Adnan
"dah gak usah banyak pikiran Abang narik dulu jangan lupa kunci pintunya" ucap Adnan yang mengetahui sang adik makan sambil melamun.
Kepergian Adnan Barbara begegas membersihkan dan merapikan bekas makan Meraka berdua lalu gadis itu kembali memastikan jika pintu sudah benar-benar terkunci rapat,, sebagian orang akan menghabiskan waktu malamnya dengan beristirahat terlelap hingga fajar tiba,, berbeda dengan Adnan ia akan kembali bekerja dengan pekerjaan yang berbeda di saat malam tiba,, walaupun begitu Adnan sangat menikmati semua yang ia lakukan demi sang adik untuk menyelesaikan sekolahnya dengan lancar tanpa hambatan biaya apapun.
Sebenarnya di awal pendaftaran sekolah adiknya Adnan sudah meragukan dirinya sendiri ia bahkan tidak yakin jika bisa membiayai pendidikan di tempat Barbara bersekolah saat ini sebab sekolah itu adalah sekolah ternama di kota itu dan yang bisa menuntut ilmu di sana hanyalah anak-anak para pengusaha ataupun artis saja,, namun berkat selembar kertas yang berisikan soal promosi pendaftaran murah membuat Adnan berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga sekedar meluangkan waktu untuk dirinya sendiri iya tak bisa.
FLASH BACK
Suatu malam Adnan yang baru saja ingin meninggalkan halaman kantor tempat iya bekerja dengan mengendarai motor metik kesayangannya ia di hadang salah seorang pejalan kaki,, seketika Adnan menghentikan laju motornya yang hampir menabrak pria asing di hadapannya,, dengan dada yang berdegup kencang Adnan menatap tajam kearah pria tersebut,, pria yang merasa bersalah itu dengan tertatih menghampiri andan yang masih berada di atas motor miliknya..
Pria asing
"mas bisa antarkan saya ke daerah xxx" tanya si pria asing
Adnan hanya dia tanpa menjawab banyak kejadian berbahaya yang terjadi di kota itu ia takut untuk mengiyakan keinginan pria asing tersebut
Pria asing
"mas gak usah khawatir saya bukan orang jahat mas,, saya bakal bayar mas lebih kok,, mas bisa antar saya ke di daerah xxx" ucap pria itu yang mengerti pemikiran Adnan..
Adnan
"bisa bang tapi jangan buat macam-macam ya bang saya punya adik yang masih butuh biaya" kata Adnan jujur
Pria asing
" iya mas aman saya gak bakal buat macam-macam ko" jawabnya berusaha untuk lebih meyakinkan lagi