Pertemuan singkat dengan mas Surya beberapa Minggu lalu membawaku kesebuah ikatan suci pernikahan, mas Surya mengajak untuk segera menikah dengan alasan tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk hubungan yang tidak jelas, mendengar ucapannya itu membuat ku merasa bahagia, pertemuan singkat hanya dalam waktu hitungan Minggu saja pria itu memilih untuk meresmikan hubungan kami menjadi pasangan suami istri, hari ini betapa bahagianya aku, mengapa tidak aku menikah dengan orang yang aku cintai, sejak awal bertemu aku sudah merasakan tumbuhnya benih cinta, kala melihatnya jantungku berdegup kencang, aku bertanya dalam hati seperti ini kah yang di sebut jatu cinta..
Di hari yang sangat bahagia ini aku dan mas Surya melangsungkan pernikahan dengan sekali tarikan nafas mas Surya berhasil mengucapkan ijab qobul dengan lancar, di ruangan yang tidak begitu luas inilah yang menjadi saksi bisu Akad nikah kami yang hanya di saksikan keluarga inti saja dari kedua belah pihak, pak penghulu dan juga saksi nikah kami.
Acara Akad di langsungkan sangat sederhana di kediaman orang tuaku, awalnya aku sangat keberatan pikirku ini pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidupku, manun mas Surya berusaha untuk menjelaskan ia berkata sebulan setelah ijab kabul tepat kembalinya sang adik dari luar negeri baru akan di adakan resepsi di kediamannya dengan konsep yang aku inginkan, tentu hal itu di sambut baik oleh keluarga ku terutama kedua orang tuaku, sebab alasan yang di ucapkan mas Surya sangatlah masuk akal ia ingin resepsi pernikahan harus di hadiri adik semata wayangnya yang sedang melangsungkan studi di Jerman.
Sebelum akad di langsungkan aku dan mas Surya sudah sepakat dengan hal itu, aku hanya tidak ingin ada tanggapan dari orang luar berfikir tentang diriku yang aneh-aneh, namun lagi dan lagi ibuku berkata yang menikah dan menjalani aku bukan mereka, ibu mengatakan klau aku harus bahagia dan bersyukur mendapat pria yang bertanggung jawab untuk segera menikah tidak seperti sebagian pria yang mau menikmati setelah itu di hempaskan.
Kebahagiaan hari ini bertambah kala pernikahan kami di langsungkan tanpa hambatan tentu dengan restu kedua belah pihak, pria yang belum lama ini aku kenal mampu membuatku jatuh cinta dengan begitu dalam
"Ya Allah biarkan kebahagian ini bertahan untuk selamanya" do'aku dalam hati
Pasca ijab qobul orang tuaku mengadakan acara syukuran kecil-kecilan hanya menghadirkan beberapa tetangga saja kami tidak membuat undangan apapun sampai para teman dekatku pun tidak ku undang, sore hari acara syukuran telah usah semua tamu meninggalkan rumah milik ayah dan ibuku tinggallah kami keluarga inti saja, kedua mertuaku menghampiri ayah dan juga sejenak mereka berbincang-bincang senyum mengambang jelas di wajah mereka, tak lama kemudian kedua mertuaku menghampiri aku dan juga mas Surya.
Bunda Nisa
"Abang bunda balik ya, reta klau suami kamu suka marah hubungi bunda ya." Ucap mertuaku sambil mencium kedua pipiku
"Iya Bun" jawab mas Surya
"Baik bunda" jawabku sambil tersenyum
Ayah Khaled
"Bang ayah sama bunda langsung balik ya selamat berbahagia nak" ucap ayah mertuaku yang terdengar jelas di telinga ini
Mas Surya
"Makasih yah" ucap mas Surya sambil memeluk erat ayahnya
Ayah Khaled
"Ndo ayah balik ya gak bisa nginap semoga bahagia ya nak" ucapnya sambil mengulurkan tangan aku bergegas menyambut dan menciumnya.
Selesai acara kedua orang tuaku sudah kembali kekamar mereka begitu pula dengan bang Andre dan juga istri dan anaknya, aku dan mas Surya memilih untuk tetap berada di kamar kami, dengan keadaan masing-masing sudah membersihkan diri mas Surya duduk di sofa tunggal yang berada di kamarku, sejak awal keberadaan kami di kamar keadaan kamar hening tak ada suara canda tawa pencahayaan pun hanya menggunakan lampu tidur, tak ada aktivitas yang membangunkan gairah, hanya deru nafas yang terdengar mas Surya enggan untuk berbicara akupun hanya dia seribu bahasa.
Kheemmm,, deheman dari mas Surya mengalihkan pandanganku untuk menatapnya mungkin saja ada sesuatu yang ia inginkan
Mas Surya
"Aretha ambil dan baca ini simak baik-baik isinya jangan sampai ada yang terlewati" ucapnya dingin
Aku penasaran dengan lembaran kertas yang sedang di genggam mas Surya aku perlahan aku bangkit menghampiri pria itu dan meraih kertas putih tersebut..
Mas Surya
"Aku harap kedepannya kamu bisa menempatkan diri sesuai dengan apa yang tertulis di kertas itu"ucapnya lagi
Aku melangkah mendekat lapu tidur yang berada di nakas dekap tempat tidur aku menghempaskan b*kongku, aku membaca poin demi poin yang tertulis dalam kertas tersebut, keningku berkerut Ama maksud dari semua isi kertas ini.
Mas Surya
"Saat ini kamu sudah menjadi isti ku kamu tidak boleh melanggar peraturan itu poin awal kamu tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun tentang aku dan masih banyak lagi, dan malam ini juga kamu harus ikut aku balik ke rumah."
Dada ini begitu sesak mengetahui pernikahan ini hanya sebagai alat mas Surya melakukan semua ini semata demi kepentingan dirinya saja, selanjutnya kejutan apa lagi yang akan di berikannya kepadaku.
Retha
"Tapi mas apa gunanya aku jadi istri klau nantinya jadi asing?"
Mas Surya bangkit dari sofa berjalan menghampiriku pria itu membungkukkan badan lalu mencengkeram daguku.
Mas Surya
"Kamu ingat ya Retha hubungan kita campur tangan dari orang tuaku dan orang tuamu,klau bukan untuk membahagiakan orang tuaku aku gak mungkin nikah dengan wanita kampung*n sepertimu"
"Kamu harus tau pernikahan kita hanya batas dua tahun saja, setelah itu kita pisah, cepat kemas barang-barang kamu dan ikut bersamaku sekarang, klau kamu menolak Abang kesayangan kamu yang akan mendapat ganjarannya" ancam Surya
Pertahanan ku runtuh seketika air mata yang ku bendung sejak tadi kini mengalir begitu deras, sakit hati ini sakit kala mengetahui pernikahan ini hanya mainan, pernikahan yang di benakku begitu indah memiliki suami yang tanggung jawab dan kelak mempunyai anak yang lucu-lucu itu hanya hayalanku semata, nyatanya pernikahan ini awal mula dari terhempasnya aku kedalam jurang.
Mas Surya
"Simpan air mata serta tangisanmu itu saya tidak akan kemakan dengan air mata buaya itu, cepat selesaikan " ucapnya pelan namun mampu membuat badan ini gemetar.
Aku menyiapkan pakaian ku hanya dalam satu koper saja mungkin suatu saat nanti aku akan kembali dan tinggal di kamar ini lagi, setelah selesai membereskan barang bawaan aku meninggalkan kamar ku ingin bertemu kedua orang tuaku, aku berjalan menuju kamar milik kedua ayah dan ibuku.
Tok tok tok
Ibu
"Retha ada sayang kok kesini bukanya temanin suami kamu di kamar malah keluyuran"
Retha
"Eemmm ini Bu, aku sama mas Surya mau ke kota barusan mas Surya di telfon orang kantor ada masalah yang harus mas Surya sendiri selesaikan" ya tuhan maafkan aku yang sudah berbohong
Ibu
"Ayah Retha sama suaminya mau ke kota yah malam ini." Ucap ibu sedikit menaikan suaranya.
Ayah
"Iya bentar lagi ayah keluar"ucap sang ayah setengah berteriak