Malam ini, hujan turun lagi. Rinai derasnya jatuh menghantam bumi, beriringan dengan gelegar guntur yang menggelegar di langit kelabu. Angin berembus kencang, membuat tirai jendela kamar itu berkibar liar.
Di sudut kamar yang redup, seorang gadis bernama Rinjani terduduk lemah di lantai dingin. Tubuhnya bergetar, tangannya yang penuh goresan pisau menggigil memeluk lutut. Matanya sembab, wajahnya semburat lebam, sisa air mata yang belum mengering membasahi pipinya yang pucat.
Tangisnya pecah, memecah keheningan. Suaranya lirih, pilu, menggema memenuhi ruangan seakan ingin merobek malam.
Ia lelah. Lelah menjalani hidup yang penuh luka, dihantui bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung pergi. Lelah menanggung penyesalan yang membebani batinnya setiap hari.
Sudah tiga tahun berlalu, namun sosok Langit tak pernah benar-benar pergi dari benaknya. Wajah lelaki itu, senyumnya yang hangat, tawa lembutnya—semuanya masih terpatri jelas, seakan hanya kemarin Langit menemaninya.
Namun yang tersisa kini hanyalah rindu yang menyesakkan dada dan penyesalan yang membunuhnya perlahan.
Seandainya waktu itu ia tidak memaksa Langit mendaki Arjuno hari itu. Seandainya ia tahu bahwa itu adalah kebersamaan terakhir mereka. Seandainya ia tau lebih awal bahwa Langit mencintainya, mungkin ia akan mengungkapkan perasaan terlebih dahulu.
Tapi semua hanya tinggal kata 'seandainya'. Waktu yang berlalu tak dapat diputar kembali, dan kenyataan pahitnya tetap sama: Langit telah pergi.
"Lang, maafin aku. Aku rindu kamu, aku butuh kamu, aku ingin bilang kalau aku juga cinta kamu, Lang." Suara Rinjani mengalun lemah, nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan di luar.
🌧 🌧 🌧
Pagi itu, hujan telah reda. Aroma tanah basah bercampur petrikor memenuhi kamar Rinjani. Namun hatinya tak kunjung lega.
Matanya yang sembab kini membengkak lebih parah, lingkaran hitam pekat melingkar seperti bayangan luka yang tak kasat mata. Ia menatap bayangannya di cermin—rapuh, berantakan, hancur.
Tangannya yang gemetar terulur meraih album foto usang dari dalam laci. Foto-foto yang menangkap kenangan manis bersama Langit.
Senyuman di wajah lelaki itu kini hanya menjadi potret bisu yang menusuk jantungnya. Air mata kembali luruh, membasahi lembaran foto yang sudah mulai pudar warnanya.
"Lang, maafkan aku. Aku nggak tahu sampai kapan harus hidup dengan rasa bersalah ini, kamu pergi juga ulah aku, aku minta maaf, Lang. "
Hari itu, dengan langkah gontai dan hati yang remuk, Rinjani pergi ke tempat peristirahatan terakhir Langit. Ia ingin menumpahkan segala rindunya di sana, mencoba mencari kehangatan dari batu nisan yang dingin.
Namun, sesampainya di tempat sana, tubuh Rinjani menegang, melihat sosok perempuan yang tengah menangis di tempat peristirahatan terakhir Langit. Perempuan itu menoleh menatap tajam Rinjani yang berdiri kaku tak jauh dari tempatnya.
Wanita itu ialah, Wina Yudhistira.
Wina adalah teman Rinjani dan juga Langit, mereka berteman cukup lama. Wina sendiri memang menyukai Langit sejak lama, akan tetapi ia enggan untuk jujur, karena melihat interaksi Langit dan Rinjani yang begitu dekat, membuat ia mengubur perasaannya dalam dalam.
Wina menatap nyalang ke arah Rinjani, "Masih berani kamu menampakkan kaki di sini?!" Suara Wina bergetar penuh amarah. Rinjani membeku.
"SETELAH KAMU BIKIN LANGIT M*TI! KAMU YANG BAWA DIA KE SANA! KALAU AJA BUKAN KARENA KAMU! LANGIT MASIH HIDUP! DIA MASIH DI SINI!"
Rinjani terdiam. Kata-kata itu bagaikan belati yang menusuk jantungnya berkali-kali. Bibirnya bergetar, ingin membela diri, tapi tak ada suara yang keluar. Karena ia tahu, yang dikatakan Wina benar.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Rinjani, membuat kepalanya menoleh ke samping. Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan luka yang sudah terlanjur menganga di hatinya.
"PERGI KAMU DARI SINI! AKU BENCI KAMU! JANGAN PERNAH TUNJUKAN WAJAHMU LAGI DI HADAPAN AKU!"
Tubuh Rinjani didorong hingga terjatuh ke tanah basah. Tapi ia tak melawan. Tak ada gunanya. Ia hanya diam, membiarkan Wina pergi dengan amarah yang meluap.
Kini, hanya ada dirinya. Sendiri.
Hujan turun lagi, membasahi tubuhnya yang hanya terbalut kemeja tipis. Dingin, tapi jiwanya lebih dingin.
Dengan langkah lunglai, Rinjani mendekati batu nisan yang bertuliskan nama itu.
Langit Alkantara
Tangannya gemetar menyentuh ukiran nama itu, seolah berharap bisa merasakan kehadiran Langit di sana. Tapi hanya dingin yang menyambutnya. Hampa.
"Lang, semua orang benci aku. Aku nggak kuat lagi, aku capek, Lang. Aku butuh kamu. "
Tangisnya pecah, menyatu dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya.
Sejak Langit pergi, semua berubah. Keluarga Langit membenci Rinjani. Keluarganya sendiri pun menyalahkannya. Teman-teman menjauhinya. Ia kehilangan segalanya. Tak ada lagi pelukan hangat, tak ada lagi sosok yang memeluknya ketika ia rapuh.
Ia hidup, tapi seperti mati.
"Tuhan, tolong aku. Aku lelah, aku sudah tidak kuat lagi, tolong pertemukan aku dengan Langit. Aku ingin bersama Langit…"
JLEGER!
Petir menggelegar memekakkan telinga.
Kepalanya berdenyut hebat, sakit yang teramat sangat menghantam. Pandangannya kabur, Rinjani menutup matanya merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di tubuhnya.
Cahaya putih menyilaukan datang entah dari mana, menyelimutinya dengan kehangatan aneh yang menenangkan. Cahaya itu menuntunnya menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian.
Lalu, semuanya gelap.
Di keheningan itu, hanya ada satu bisikan terakhir dari bibirnya.
"Lang, aku datang, tunggu aku."