Malam itu, bulan purnama menggantung rendah di langit, memancarkan cahaya perak yang menari di antara pepohonan hutan. Suasana desa yang biasanya tenang kini dipenuhi dengan ketegangan. Di tengah lapangan, Ratna, penari paling terkenal di desa, berdiri anggun dengan selendang hitam melilit di pinggangnya. Kain itu berkilau dalam cahaya bulan, seolah-olah menyimpan rahasia kelam di dalamnya.
"Ratna, kau yakin ingin melakukannya malam ini?" tanya Sari, sahabatnya yang selalu khawatir. Wajah Sari tampak pucat, dan matanya berkilau dengan kecemasan. "Kau tahu apa yang terjadi pada penari lain yang mengenakan selendang itu."
Ratna tersenyum lebar, menampakkan gigi putihnya yang bersinar. "Jangan khawatir, Sari. Selendang ini adalah warisan keluargaku. Ia memberiku kekuatan dan keindahan. Tanpa selendang ini, aku hanyalah penari biasa," jawabnya penuh percaya diri.
"Namun, setiap kali kau menari dengannya, semakin banyak penari yang menghilang," Sari mendesak, suaranya bergetar. "Kau tidak mendengar desas-desus tentang iblis yang menginginkan jiwa para penari?"
Ratna menggelengkan kepala, mengabaikan peringatan sahabatnya. "Itu semua hanya cerita menakut-nakuti. Malam ini adalah malamku! Semua orang akan melihat betapa hebatnya aku!" Ia melangkah maju ke tengah lapangan, mengabaikan keraguan Sari.
"Ratna!" teriak Sari sebelum Ratna mulai menari. Namun suara itu tenggelam dalam gemuruh tepuk tangan dan sorakan dari penduduk desa yang berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan.
Dengan gerakan anggun, Ratna mulai menari. Selendang hitamnya melambai-lambai di udara seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Setiap gerakan membawa pesona dan daya tarik yang tak tertandingi. Namun, saat ia semakin terhanyut dalam tarian, bayangan gelap mulai merayap dari hutan, menjalar ke arah panggung.
"Sungguh indah!" seru seorang pemuda dari kerumunan. "Dia adalah bintang kita!"
Tetapi Sari hanya bisa menatap dengan cemas. "Ini tidak baik," bisiknya pada dirinya sendiri. "Selendang itu…"
Saat tarian mencapai puncaknya, suara gemuruh dari hutan semakin keras. Ratna tidak mendengar jeritan hati sahabatnya; ia hanya merasakan aliran energi mengalir melalui tubuhnya.
"Selendangku! Kekuatan ini… luar biasa!" Ratna berseru dengan semangat, tetapi di dalam hatinya mulai tumbuh rasa takut yang samar.
Tiba-tiba, angin kencang menerpa lapangan, membuat para penonton terdiam sejenak. Bayangan gelap muncul di antara pepohonan—sebuah sosok tinggi dan menyeramkan berdiri menatap Ratna dengan mata merah menyala.
"Ratna! Hentikan!" teriak Sari sekali lagi, tetapi suaranya tenggelam dalam kegelapan malam.
Ratna hanya tersenyum sinis dan melanjutkan tariannya. "Aku tidak akan berhenti! Ini adalah saatku!"
Namun saat ia berputar dengan selendangnya, kain hitam itu tampak bergerak sendiri—menyeret Ratna lebih dalam ke dalam tarian yang tidak lagi ia kendalikan.
"Selendang ini…!" Ratna berteriak ketakutan ketika kekuatan jahat mulai mengambil alih dirinya.
Di tengah keramaian desa yang terdiam ketakutan, sebuah jeritan menggema dari hutan—suara seorang penari muda yang hilang selamanya dalam pelukan kegelapan selendang hitam tersebut.