Diana, seorang gadis berusia 18 tahun, dikenal di desanya sebagai sosok yang ramah dan pekerja keras. Sejak kecil, ia membantu ibunya menjual kue di pasar untuk menghidupi keluarga kecil mereka. Meski hidup dalam kesederhanaan, Diana selalu tersenyum dan penuh semangat.
Namun, di balik senyumnya yang ceria, nasib tragis menantinya.
Malam itu, Diana pulang dari rumah temannya setelah belajar kelompok. Jalan setapak yang ia lalui gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang redup. Tidak ada orang lain, hanya suara jangkrik yang menemani langkahnya. Namun, sebuah mobil berhenti di depannya, menghalangi jalannya.
Tiga pria mabuk turun dari mobil itu. Mereka adalah Reza, Dimas, dan Andi, pemuda kaya yang sering membuat masalah di desa. Mata mereka liar, tertawa kasar saat melihat Diana.
“Diana! Pulang sendiri malam-malam begini? Berbahaya, loh!” seru Reza, menghampirinya dengan langkah sempoyongan.
“Saya tidak apa-apa. Silakan jalan duluan,” jawab Diana, mencoba tenang meski tubuhnya gemetar.
Namun, Reza menarik lengannya, membuat Diana meronta. “Jangan sombong! Kami cuma mau mengantar. Tidak mau, ya? Kalau begitu, kita ngobrol saja dulu,” katanya sambil tertawa.
Diana mencoba melawan, tapi ketiga pria itu menyeretnya ke ladang kosong. Jeritannya tertelan oleh keheningan malam. Di tempat itu, mereka bergantian memperkosanya. Ketika Diana berusaha melawan, Andi menghantam kepalanya dengan batu besar.
Darah mengalir deras. Tubuh Diana tergeletak di tanah, tidak bergerak. Mereka panik, meninggalkan jasadnya begitu saja.
Seminggu kemudian, tubuh Diana ditemukan oleh seorang petani. Kepolisian desa datang, tapi kasus itu segera ditutup tanpa ada pelaku yang ditangkap. Uang dan koneksi keluarga ketiga pria itu membungkam keadilan.
Namun, malam-malam di desa itu tidak lagi tenang. Warga mulai mendengar suara tangisan wanita dari ladang tempat Diana ditemukan. Beberapa bahkan melihat sosok wanita berambut panjang dengan wajah penuh darah. Ia berdiri di bawah pohon besar, menatap tajam siapa pun yang lewat.
Teror semakin parah ketika ketiga pelaku mulai mengalami kejadian aneh.
Reza, pelaku pertama, ditemukan tewas tergantung di kamarnya. Di dinding kamar, ada tulisan besar berwarna merah yang berbunyi, "Belas Kasih" Tidak ada yang tahu bagaimana tulisan itu muncul.
Dimas, pelaku kedua, tewas dalam kebakaran mobil. Sebelum kejadian itu, ia sering mengeluh kepada teman-temannya bahwa ia merasa diawasi. Ia bahkan mengaku melihat sosok wanita berbaju putih berdiri di depan rumahnya setiap malam.
Andi, pelaku terakhir, mengalami paranoia hebat. Ia mengunci diri di dalam rumah, menolak bertemu siapa pun. Namun, pada suatu malam, tetangga mendengar jeritannya. Ketika mereka mendobrak pintu rumahnya, mereka menemukan Andi tewas dengan mata melotot. Di lantai, kembali ditemukan tulisan berdarah, "Belas Kasih."
Sementara itu, ibu Diana mulai sering bermimpi tentang anaknya. Dalam mimpinya, Diana menangis, memohon tolong. Sang ibu, yang hatinya hancur, mendatangi seorang dukun untuk meminta bantuan.
“Arwah anakmu terjebak dalam dendam,” kata dukun itu. “Ia tidak akan tenang sampai ia mendapatkan keadilan. Namun, dendam itu semakin membesar dan bisa melukai siapa saja.”
Dukun itu menyarankan ritual untuk menenangkan arwah Diana. Malam itu, mereka melakukan ritual di rumah kecil sang ibu. Namun, ritual itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Saat mantera dibacakan, angin kencang tiba-tiba berhembus, memadamkan lilin-lilin di ruangan. Sosok Diana muncul di tengah bayangan, dengan wajah penuh luka. Matanya menatap tajam ke arah ibunya.
“Ibu tidak melindungiku,” katanya dengan suara dingin. “Aku meminta belas kasih, tapi tidak ada yang peduli.” Diana menghilang, meninggalkan jejak darah di lantai.
Setelah malam itu, desa menjadi tempat yang sunyi. Teror Diana tidak hanya menghantui para pelaku, tetapi juga warga yang dianggap tidak peduli pada penderitaannya.
Warga desa memutuskan untuk memindahkan jasad Diana ke tempat lain, berharap arwahnya bisa tenang. Namun, saat kuburannya digali, jasadnya tidak ditemukan.
Desa itu akhirnya ditinggalkan. Ladang tempat Diana dibunuh berubah menjadi hutan lebat yang gelap. Tidak ada yang berani masuk ke sana, karena mereka yang nekat sering kali tidak kembali.
Nama Diana menjadi legenda menyeramkan. Di desa yang kosong itu, tulisan Belas Kasih masih bisa ditemukan di dinding rumah-rumah yang ditinggalkan, seolah menjadi peringatan akan apa yang terjadi ketika keadilan tidak diberikan.
Hingga kini, arwah Diana masih berkeliaran, menuntut apa yang tidak pernah ia dapatkan—belas kasih.