"Maaf, kita gak bisa lanjutin," ucap David mengakhiri hubungan asmara dengan Valentina.
Lagi-lagi Valentina mendapat patah hati untuk kelima kalinya. Tepat di hari kasih sayang dan dihari ulang tahun yang sama. Kesal, rasanya untuk dirinya sendiri. Bukannya ia dapat selamat bahagia, malah ia dapat selamat perpisahan.
Cokelat yang ia beli susah payah menjadi sumber malapetaka, duduk di taman adalah tempat yang paling ampuh. Ia paksa buka bungkusan cokelat ditangannya. Dan hanya menatap tanpa mencicipi.
"Aaahh! Sial!" Valentina membuang cokelat batang itu sembarang tempat. Dan beberapa menit kemudian terdengar suara mengadu kesakitan.
Valentina dengan spontan mencari sumber suara itu. Lalu sosok dari semak-semak muncul dan memungut sesuatu mengenai kepalanya itu. Valentina terdiam di tempat pura-pura tak melihat, sibuk dengan ponsel androidnya.
Orang yang mendapat sial karena cokelat batang itu, ia mencari-cari hanya ada satu pelaku melakukannya, ya, tertuju adalah Valentina. Valentina terus berdoa dalam hati berharap orang yang ia celakai tak menghampirinya.
Namun, Tuhan tak berpihak padanya. Valentina menatap sesuatu di bawah, sepatu sport yang bagus dan pastinya bermerek sangat mahal. Valentina dengan polos mengangkat kepalanya dan orang yang berdiri menatap dirinya dengan wajah menginterogasi.
"Ini punyamu?" Cowok itu menyerahkan sebatang cokelat silverqueen masih utuh kepada Valentina.
Valentina mengernyit dan kembali menatap cowok di depannya. "Bukan punyaku," ucapnya tanpa dosa.
Cowok itu menoleh kiri kanan dan samping belakang tak ada siapapun di taman ini. "Benarkah? Sepertinya cokelat ini hanya milik seo--rang, hei!" Valentina keburu kabur dari taman itu sebelum dirinya diinterogasi tak jelas. Mendengar cowok itu meneriaki dirinya. Dengan kecepatan kilat pula Valentina tak menghiraukan cowok di sana.
Valentina berhenti, ia mengatur napas yang terengah-engah satu-dua-tiga. Ia menoleh merasa sudah aman tak ada yang mengejar atau mengenali dirinya. Ia pun kembali duduk di salah satu kursi panjang letak sebuah rumah.
Seseorang keluar dari rumah itu, dan memperhatikan saksama. Kemudian menghampiri Valentina yang masih belum normal napasnya karena habis lari maraton.
"Ngapain kamu di sini?!" sentak Rere, spontan Valentina terkejut mundur. Ia pikir cowok itu menemukannya ternyata adik sepupunya.
"Ah sialan, kamu! Kagetin, aku kira cowok cokelat!" kesal Valentina kembali menegakkan tubuhnya dan melanjutkan ponsel android.
"Cowok cokelat? Memang siapa tuh?" tanya Rere ikut gabung di sebelah Valentina.
Valentina mengangkat bahu jawabannya tak tau, Rere menculik sekilas ponsel android Valentina. "Loh, kok foto berdua dengan bang David di hapus?" sewot Rere kepo minta ampun.
"Buat apa disimpan bikin panas ponselku aja!" ucap Valentina ketus.
Rere melenguh saja, dan kembali bertanya, "Loh? Memang kenapa? Kak Valen putus lagi sama bang David?" tebaknya
"Situ tau, pakai tanya lagi," cicit Valentina. Rere langsung shock mengetahui pengakuan mulut Valentina. "Yang benar, kak? Kok bisa?" sorak Rere heboh.
Valentina menyumpal kain entah darimana berasal pokoknya ia sumpal biar mulut bocor gak sembarang teriak-teriak.
"Ssstt! Bisa gak itu suara di kecilkan!" Valentina menekankan pada Rere, Rere hanya mengangguk pasrah.
Valentina masuk ke rumah dan di ikuti oleh Rere, Rere membuang kain sialan dari mulutnya. Ya, Valentina tinggal bersebelahan dengan saudara adik mamanya. Jadi suka-suka Valentina menginjak rumah siapa pun. Tak ada yang melarangnya, terkecuali kalau mamanya memaki atau herteriak memanggil namanya.
"Pinjam handuk mu!" pinta Valentina, Rere langsung ambil di lemari dan berikan pada Valentina.
Lalu Valentina masuk kamar mandi, sedangkan Rere kembali melanjutkan dapur membantu mamanya masak. Tak lama kemudian Valentina keluar dan sudah segar seluruh tubuhnya. Ia pun meletakkan handuk di tempat dan menuju tempat aroma sedap.
"Wangi banget, acara apa hari ini? Kok, banyak banget menu makanan beraneka macam?" tutur Valentina mencomot ayam goreng di meja.
Diana - mama Valentina memukul tangan putrinya. Valentina sontak menjauhkan tangan dari ayam goreng.
"Issh, mama, jangan pelit kenapa sih!" protesnya
"Kemana saja kamu? Dari pagi sampai siang keluyuran, pacaran?" tegur Diana mengomeli putrinya.
Valentina cuma meniru omelan mamanya dan tak membalas teguran darinya. Ia lebih sibuk mencomot beberapa makanan di sana.
"Ini bantu mama aduk saus dulu, nanti malam akan ada tamu berjamu ke rumah. Awas, kalau mama nampak kamu keluyuran sama cowok gak jelas itu!" omel Diana panjang lebar. Rere dan yang ada di tempat cuma bisa diam.
Valentina cuma bisa menciut dan menuruti saja. Disuruh aduk saus, ya, aduk. Daripada gak dikasih jatah makanan.
****
Malam telah tiba, Valentina bisa santai setelah beberapa jam mengadu saus di dapur. Ia duduk sambil memainkan ponsel androidnya. Dan memeriksa setiap media sosialnya.
"Akh!" Valentina mendesis kesakitan, Diana memukul kepala putrinya dari belakang.
Diana mendengkus kesal sikap putrinya yang tidak pernah bisa menjadi perempuan sopan dan jaga sikap. Valentina pun menoleh kesal dan ingin mengumpat namun diurungkan karena yang ia hadapi itu adalah mamanya sendiri. Diana melototi putrinya, ia tau bahwa putrinya akan mengumpat.
"Apa? Mau mengumpat ke Mama?" Diana bertanya dan mengacak pinggang.
Valentina menggeleng cepat, "Gak kok, ma. Tadi Valen kira Rere yang kurang kerjaan pukul-pukul kepalaku," jawabnya.
"Alasan! Buang sampah ini, setelah itu kembali ke rumah dan siapkan meja makan, sebentar lagi tamunya datang!" Diana menyerahkan bungkusan plastik hitam pada putrinya.
Valentina bisa apa? Melawan? Oh, tak bisa ... Melawan adalah karma yang paling berat untuk dirinya. Dengan langkah malas menuju tempat buang sampah. Di tatap langit gelap, ia mengharapkan segeralah hari esok dan ia akan melupakan semua kenangan pahit bersama David.
Merasa sudah beres, ia pun kembali dan tiba di depan rumah. Valentina berhenti dan melihat-lihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Merasa penasaran ia tanpa rasa malu atau takut mengintip di cela jendela hitam.
"Valen! Ngapain kamu di sana!" teriak Diana mengacak pinggang mengawasi putrinya asyik dengan mobil di depan rumah. Lama-lama Diana tua dan serangan jantung atas sikap Valentina.
Valentina cengegesan dan berlari masuk. Lalu ia kepo bertanya sama mamanya soal mobil terparkir di depan rumah mereka.
"Itu mobil siapa, ma?" tanya Valentina
"Tamu kita! Sudah cepat mandi dan pakai baju yang sopan!" jawab Diana ketus dan masuk ke rumah.
Valentina melirik mobil di depan, setelah itu ia pun masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap berjumpa dengan tamu yang disampaikan oleh mamanya.
Dua puluh menit kemudian, Valentina sudah rapi dan sopan dengan pakaian ia kenakan di tubuhnya. Kemudian ia pun keluar dari kamar dan turun untuk bergabung dengan keluarganya.
Di ruang tamu terdengar suara bercengkerama. Valentina pun dengan polos menyambut tamu keluarga mamanya.
"Akhirnya keluar juga, ayo sapa tante Friska dan Om Aldo! Jangan berdiri saja!" pinta Diana meminta Valentina menyambut kedatangan tamu itu.
Valentina pun menyalami tante Friska dan Om Aldo. Lalu Valentina pun duduk di sebelah mamanya. Perbincangan yang heboh menjadi hening.
"Ma, ini mau taruh di mana?" Suara asing menyambut seluruh ruangan di sini menoleh, Valentina juga.
Valentina melebar yang ia jumpai, cowok cokelat ia gelar untuk Rere tadi. Ya, cowok di taman tadi sudah buat Valentina kabur karena melempar cokelat batang silverqueen.
****
"Haiish.... Kenapa ketemu dia sih!" gerutu Valentina mondar-mandir di teras rumah.
Sementara di dalam tentu sedang berbincang-bincang pembahasan yang tak dimengerti oleh Valentina. Makanya ia pamit untuk ke kamar kecil, eh, malah di depan rumah.
Valentina mendesah, desahan yang panjang dan berat. Ia berharap kalau cowok cokelat itu gak mengenali dirinya. Ia memukul kepalanya, seharusnya ia tak perlu lari.
"Aahh! Bego, bego, bego!" umpat Valentina memaki dirinya sendiri.
"Memang bego!" sambung seseorang, Valentina tercegah dan menoleh suara itu. Cowok itu menghampiri Valentina terpaku mematung.
"Kenapa ekspresimu?" tanyanya menjiwir hidung Valentina.
Valentina mengerjap-ngerjap beberapa kali matanya yang barusan dilakukan oleh cowok cokelat itu.
"Sudah jangan bengong kayak orang tolol! Sini, duduk!" ajaknya menarik tangan Valentina.
Valentina turut saja, seperti terhipnotis oleh cowok disebelahnya. Seluruh tubuh Valentina seperti es - beku, tak ada tanda rasa apapun di dalam dirinya.
Lalu si cowok itu mengeluarkan sebatang cokelat yang masih sama saat ia mendapat lemparan dari "cokelat tak bertuan" ini. Kemudian ia membuka bungkusan yang terlindungi oleh cokelat itu.
"Nih!" cowok itu berikan cokelat silverqueen kepada Valentina. Valentina malah melirih cokelat itu lekat-lekat.
Cokelat yang bikin hatinya retak dan kecewa. Ia teringat dengan seseorang, dan rasanya ia ingin hancurkan itu cokelat dengan cara memanasi dan melelehkan hingga tak berbentuk. Tetapi sama saja, dilelehkan juga akan kembali.
"Kenapa dilihat terus, kasihan cokelatnya kedinginan asyik kamu tatap seperti itu?" ucapnya lagi.
Valentina masih membisu, terbayang kembali wajah cowok sialan yang tega memutuskan dirinya di hari penuh kasih sayang.
"Patah hati di putus sama cowok? Hal itu sudah biasa, gak usah dipikirin. Lebih bagus kamu diputusin daripada sakit hati berkeping-keping," ucapnya lagi untuk menghibur
"Sok tau! Kamu itu menghibur atau merusak suasana mood ku?" Valentina mengangkat suara nadanya sangat dingin.
Cowok itu senyum dan membelah cokelat batang silverqueen dan berikan kepada Valentina.
"Sudah aku bilang, cokelat itu gak bersalah. Kamu seharusnya bersyukur kalau cowok itu sudah memutuskan mu, kamu harus rasakan cokelat di tanganmu," ucapnya lagi kali ini lebih bijak.
Lalu Valentina pun menggigit cokelat silverqueen dan ia merasa cokelat di mulutnya terasa aneh.
"Kok pahit?" ucap Valentina melirih cowok itu. Cowok itu ketawa semakin buat Valentina bingung.
"Apa yang lucu?" tanya Valentina,
Cowok itu pun diam dan dia berkata "tentu karena ("cokelat tak bertuan, kadang pahit tanpa pemanis.") Karena cokelat yang kamu berikan pada cowokmu tadi siang, dia tau kalau kamu itu tipe cewek gak romantis."
****
Selesai.