Sendu adalah seorang gadis berkulit sawo matang, berjilbab, dengan mimpi besar yang sering ia sembunyikan di balik senyum damainya. Ia dikenal ceria oleh semua orang, namun siapa sangka di balik itu, ia mahir menipu dunia tentang apa yang sebenarnya ia rasakan.
Sejak kecil, hidupnya sudah diatur oleh keluarganya. Semua pilihan yang ia buat harus selaras dengan obsesi orang tuanya untuk menjadi dokter. "Sendu, kamu harus jadi dokter, biar kelak bisa menyembuhkan kami," kata Ayahnya suatu hari. Kata-kata itu mengendap di kepalanya seperti mantra yang tak bisa ia tolak. Tapi, di dalam hatinya, Sendu bertanya, Apakah ini benar-benar keinginanku?
Saat memasuki usia remaja, Sendu mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia menemukan kebahagiaan dalam menulis cerita, aktif di organisasi Pramuka hingga ke ajang nasional, dan bermimpi menjadi pengusaha. Namun, impian itu seolah tak punya ruang. Mereka tenggelam di bawah tuntutan menjadi dokter yang terus membayanginya.
Sendu tidak menyerah. Di tengah tekanan itu, ia menemukan alasan kuat untuk mencintai profesi psikiater. Pengalaman pribadinya menjadi pendorong: ia pernah berada di titik terendah, saat dunia seolah buta dan tuli terhadap luka-lukanya. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli. Semua hanya menuntut keberhasilan. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit, membuktikan bahwa luka batin bisa sembuh, bahwa depresi bukanlah akhir.
Malam itu, di usia 16 tahun, ia menangis sambil memeluk erat buku tulisnya. Tetesan hujan di luar jendela seperti berbicara, membisikkan harapan yang nyaris padam. “Kalau saja mereka bisa mengerti...” lirihnya, mencoba menyemangati diri.
Kini, di penghujung Sekolah Menengah Atas, Sendu duduk di depan layar komputer. Formulir pendaftaran fakultas kedokteran terpampang jelas. Tangannya gemetar. Aku bisa. Aku harus bisa. Bukan karena desakan orang tua, tetapi karena ia ingin membantu mereka yang pernah merasakan apa yang ia rasakan yaitu tenggelam di kegelapan.
Di sekelilingnya, teman-temannya duduk bersama. Titi, Gina, Dewi, dan Ansel, masing-masing membawa cerita mereka sendiri, tetapi semuanya hadir untuk mendukung Sendu.“Kamu yakin, Sendu?” tanya Titi sambil memegang secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menatap dalam, seolah mengingat sesuatu. “Kamu tahu, aku pernah mencoba sesuatu yang aku yakini, tapi akhirnya aku gagal. Waktu itu aku pikir aku nggak punya tempat di dunia ini. Tapi, sekarang aku sadar, aku hanya kurang memberi diriku waktu untuk belajar.”
Sendu mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan menatap Titi. “Tapi bagaimana kalau aku juga gagal? Bagaimana kalau aku mengecewakan mereka?"
“Kamu nggak akan tahu kalau nggak mencoba,” jawab Titi sambil tersenyum kecil. Gina menyela, menatap Sendu dengan serius. “Aku pernah merasa seperti kamu. Orang tuaku ingin aku jadi akuntan karena itu pekerjaan ‘aman.’ Tapi aku nggak suka. Aku ingin jadi seniman. Aku sempat ragu untuk bilang ke mereka, tapi setelah aku tunjukkan hasil karyaku, mereka akhirnya paham. Kadang, kamu cuma perlu menunjukkan bahwa kamu serius, Sendu.” Dewi, yang biasanya pendiam, akhirnya angkat bicara. “Kamu tahu, Sendu, aku nggak pernah cerita ke siapa-siapa, tapi aku dulu nggak percaya diri sama kemampuan menulisku. Tapi kamu yang bilang kalau ceritaku bagus waktu SMP. Itu mengubah cara pandangku. Sekarang aku tahu, terkadang kita butuh orang lain untuk percaya pada kita sebelum kita percaya pada diri sendiri. Dan aku percaya sama kamu.” Ansel menambahkan, “Kami semua ada di sini buat kamu, Sendu. Kalau kamu merasa takut atau ragu, ingatlah, kamu nggak sendiri.”
Sendu tersenyum, rasa hangat merayapi hatinya. “Terima kasih, teman-teman. Aku rasa sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
Ia kembali menatap layar komputer. Ini jalanku, pikirnya. Aku akan melewati badai ini dan menemukan langit biru di baliknya.
Sendu menatap langit di luar jendela. Hujan yang semalam turun telah reda. “Aku ingin orang tahu, hidup memang berat, tapi itu bukan alasan untuk menyerah,” gumamnya. “Kegagalan, kesedihan, semua itu bagian dari perjalanan. Jika kita berani menghadapi badai, kita akan menemukan langit biru yang menunggu.”
Langit itu cerah. Sama seperti keyakinan baru yang tumbuh di hati Sendu.