Hai! Aku Wati. Aku bekerja di warung bakso yang ada di desa seberang. Jam kerjaku di mulai dari pukul 4 sore, pulang sekitar pukul 12 malam.
Tutup warungnya pukul sekitar pukul 11 malam namun karena harus berberes dulu akhirnya pulang pada pukul 12 malam.
Dari desaku ke desa seberang harus melewati perkebunan warga dan harus melewati jembatan yang terkesan angker karena di samping jembatan ada wilayah khusus pemakaman umum dan keluarga Barmawi.
Walaupun angker, aku tetap nekat kerja di desa seberang. Berkali-kali melewati tempat itu namun tak pernah bertemu dengan hal-hal yang berbau mistis.
Namun pada suatu malam, tepatnya pada malam Jumat, hujan gerimis, dan cuaca semakin dingin. Aku pulang seperti biasa namun kali ini terasa berbeda saat mau melewati wilayah jembatan itu.
Seketika tubuhku merinding. Dari kejauhan aku sudah membunyikan klakson sepeda motorku agar mahkluk yang tak kasat mata yang ada di depan bisa menyingkir.
Aku melihat ada seorang wanita bergaun putih yang sedang berdiri di jembatan. Aku fikir seorang wanita ingin bunuh diri jadinya aku pun turun dan menghampirinya.
"Permisi, Bu. Ibu kenapa malam-malam ada di sini?" tanyaku yang sudah berada di dekat wanita bergaun putih tersebut. Wanita itu tak menjawab bahkan bergerak pun tidak.
Aku memberanikan diri untuk bersuara lagi. "Apa ibu butuh tumpangan?" tanyaku, barangkali fikiranku salah bahwa wanita itu hanya menunggu tumpangan dan bukan ingin bunuh diri.
Wanita itu masih tetap diam, tapi kali ini dia bergerak, berjalan menuju arah motorku. Jadi aku tak bertanya lagi dan mengendarai motorku yang sengaja tak ku matikan mesinnya.
"Ayok naik Bu!" Seruku ketika sudah siap untuk menancapkan gas. Wanita itu pun segera naik.
Karena merasa terlalu canggung, aku ajak lagi untuk bercerita namun lagi lagi tak ada sahutan dan suara dari belakang. Ketika sudah mau dekat di desaku, aku memutar spion ke arah jok penumpang di belakang.
Aku kaget karena mata wanita itu sedang menatapku juga dari spion. Matanya merah se merah darah, wajahnya pucat pasi, bahkan yang tadinya rambut wanita rapi sekarang malah acak acakan kek belum sisiran selama sebulan saja.
"Ibu!!! Kenapa, Bu!!" tanyaku terkejut. Dia masih diam dan terus menatapku.
Setelah itu dia tersenyum aneh di sana, lalu dia seketika mengeluarkan suara menyeramkan.
Khikhikhikhi! Hahahaha!
Dia langsung terbang dan menghilang. Di sana aku tersadar bahwa wanita bergaun putih itu bukan manusia melainkan mahkluk lain. Aku langsung berdoa dan meminta perlindungan Allah Swt.
TAMAT