BUNGA DIBALIK DURI
Kain putih terbentang di depanku, menunggu sentuhan kuas yang akan menghidupkannya. Aku, Rara, gadis desa yang hobi melukis, memiliki mimpi besar: menjadi pelukis terkenal. Kehidupan di desa yang tenang dan damai selalu menjadi inspirasiku. Di sini, aku dekat dengan ibu, sosok yang selalu mendukung mimpi-mimpiku.
Masa-masa awal di SMA terasa menyenangkan. Aku bertemu dengan teman-teman baru, dan suasana sekolah yang ramai membuatku merasa bahagia. Namun, kebahagiaan itu mulai terusik ketika Ardi, seorang siswa laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang suka menjelek-jelekkan orang lain, mulai mengganggu.
"Lihat tuh, si Rara, kayak orang kampung banget," bisik Ardi kepada teman-temannya, sambil menunjukku dengan jari telunjuknya. Aku berusaha mengabaikannya, berharap kata-katanya tak menyentuh hatiku. Namun, semakin hari, kata-katanya semakin menyakitkan.
Saat praktek di lapangan, aku tak bisa melakukan gerakan yang diminta oleh guru. Ardi dan teman-temannya langsung menertawakan ku. "Hahaha, kayak orang kera!" teriak Ardi, sambil menunjukku dengan jari telunjuknya. Aku terdiam, air mataku berlinang. Rasa malu dan sakit hati menghantamku. Aku ingin menghilang dari sekolah ini, dari dunia ini.
Di rumah, aku menangis di pelukan ibu. "Nak, jangan pernah nyerah ya, walaupun kamu selalu dikucilkan di sekolah oleh orang lain. Kamu tetap sabar ya, karena Ibu tahu kamu seorang anak perempuan Ibu yang kuat dan penyabar. Ibu yakin kamu pasti bisa melewati ini semua," kata Ibu, sambil mengelus rambutku. Kata-kata Ibu memberikan kekuatan dan semangat baru untukku.
Namun, rasa sakit itu kembali datang. Aku kehilangan peralatan sekolahku. Aku merasa putus asa. "Mungkin lebih baik aku menghilang saja," batinku. Aku teringat kembali kata-kata Ibu. "Aku harus kuat. Aku harus bisa melewati ini semua," gumamku dalam hati.
Aku memutuskan untuk melawan rasa sakit dengan melukis. Kuas di tanganku bergerak dengan lincah, melukiskan semua perasaan yang terpendam di dalam hatiku: rasa sakit, kekecewaan, dan juga harapan. Lukisan-lukisanku menjadi cerminan jiwaku. Aku menemukan kekuatan dalam seni, dan aku menemukan kembali jati diriku.
Saat pameran sekolah, aku memamerkan hasil lukisanku. Aku merasa bangga dengan diriku sendiri. Aku telah berhasil melewati masa sulit dan menemukan jati diriku sebagai seorang seniman. Aku tahu, di balik duri kehidupan, selalu ada bunga yang indah siap untuk mekar