Tiga tahun lamanya, kami menjalani LDR (long distance relationship), dan Jum'at menjadi hari yang kami nantikan. Saat alam berubah dari terang menjadi gelap, ketika matahari terbenam dan digantikan bulan serta bintang-bintang, itulah saat-saat yang kami nantikan. Menantikan kepulangan sosok kepala keluarga yang sangat kami sayangi, yang biasa kami panggil "ayah". Ayah yang bekerja sebagai guru ASN di luar kota yang jaraknya cukup jauh.
Setiap hari Senin, di pagi buta, dengan sepeda motor bututnya, ayah meninggalkan rumah. Jarak tempuh yang cukup jauh, 4 jam perjalanan. Menyusuri jalan berliku, hutan belantara dan menerjang jalanan berdebu yang penuh kabut sudah menjadi sarapannya setiap hari Senin.
Tas kerjanya yang penuh dengan dokumen-dokumen, laptop dan materi-materi pembelajaran siap menemani perjalanannya. Wajahnya yang penuh semangat, meski kami tahu di dalam hatinya ada rindu yang akan ia pendam untuk kami, istri dan anak-anaknya. "Hati-hati ya yah. Kalau capek istirahat, jangan dipaksakan" ucapku sambil menjabat dan mencium tangannya. "Iya, titip anak-anak ya Nda" jawabnya dengan tersenyum. "Iya yah, kabari kami kalau sudah sampai" jawabku. "Siap" jawabnya sambil menghidupkan sepeda motor dan langsung melajukannya.
Sebagai abdi negara yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa, ayah tak pernah sekalipun mengeluh. Semua itu ia lakukan demi keluarganya. Di tengah segala keterbatasan, cinta, do'a dan kerja keras, ayah terus berusaha menghadirkan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Pendidikan anak-anaknya adalah yang utama, karena baginya pendidikan adalah nafas dan keluarga adalah denyut nadinya. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya.
Rutinitas yang harus ia jalani dan jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah hingga tempat ia mengabdikan diri, memaksa ayah untuk pulang setiap lima hari sekali. Dan akhir pekan menjadi moment yang paling kami nantikan. Meskipun hanya dua hari, namun kebersamaan itu seperti oase di tengah padang pasir.
Saat deru sepeda motor menyapa telinga, kami segera menyambutnya. Meski lelah terukir di wajahnya, namun senyumnya tetap menjadi penawar rindu bagi kami. Setiap kepulangannya adalah hadiah yang selalu kami tunggu dengan penuh cinta. "Assalamu'alaikum" sapanya. "Wa'alaikum salam, masuk yah. Tasnya biar aku yang bawa" jawabku sambil tersenyum. "Iya, aku mau istirahat dulu" ucapnya sambil mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga kami.
Aku membawakan teh hangat dan beberapa potong pisang goreng untuknya. "Terimakasih ya yah, terimakasih sudah berjuang untuk keluarga kita. Terimakasih untuk setiap peluh yang jatuh di jalan. Dengan perjuanganmu, engkau bangun masa depan anak-anak kita" ucapku di sela-sela obrolan ringan kami. "Tidak perlu berterimakasih Nda, itu sudah menjadi kewajibanku. Cukup do'akan aku saja, supaya tetap sehat" jawabnya dengan lembut. "Aamiin....iya, aku selalu mendo'akan ayah" jawabku.
Bagi kami, akhir pekan bukan hanya sekedar kepulangan ayah. Lebih dari itu, akhir pekan adalah cinta dan kebersamaan. Ia adalah pengingat sederhana, bahwa cinta mampu bertahan diantara ruang dan waktu.
Terimakasih ayah...
Terimakasih telah pulang.
Terimakasih telah menyapa kami dengan senyummu yang tulus.
Engkau adalah akhir pekan yang selalu kami nantikan. 😘
Thanks readers.