Judul: Malam Tahun Baru di Atas Awan
Di sebuah kota kecil di kaki gunung, Gema duduk termenung di balkon rumahnya. Hawa dingin menusuk, tapi dia tetap di sana, mengenakan jaket tebal sambil memandang ke langit. Tahun baru sudah dekat, tapi dia merasa aneh. Biasanya, malam tahun baru dirayakan ramai-ramai dengan keluarga besar. Kali ini berbeda.
"Kita akan merayakannya lebih dekat ke bintang-bintang," kata ayahnya pagi tadi. Gema mengerutkan dahi mendengar itu. Namun, ia segera mengerti saat ayahnya membawa keluarga mereka ke puncak gunung yang tak jauh dari rumah.
Setelah perjalanan singkat yang penuh canda, mereka sampai di sebuah titik dengan pemandangan luar biasa. Kota di bawah mereka tampak seperti lautan cahaya, sementara langit di atas penuh bintang.
Di sana, ayahnya menyalakan sebuah lentera kecil. "Kita sering lupa, tahun baru bukan cuma soal kemeriahan. Ini soal harapan baru," katanya sambil menyerahkan lentera itu ke Gema.
Gema menuliskan keinginannya di atas lentera itu dengan spidol: Semoga 2025 membawa kebahagiaan untuk semua. Dia melepaskannya ke langit. Lentera itu melayang, bergabung dengan lentera-lentera lain yang dilepaskan keluarga-keluarga di sekitar mereka.
Saat jarum jam mendekati tengah malam, kembang api mulai menghiasi langit. Tapi bagi Gema, keindahan sebenarnya adalah keheningan di antara bintang-bintang dan harapan yang ia lepaskan.
Pukul 00.00, mereka memeluk satu sama lain. "Selamat tahun baru, Gema," kata ayahnya sambil tersenyum. Gema mengangguk, merasakan kehangatan yang tak bisa diukur oleh pesta apa pun.
Di atas gunung itu, di malam tahun baru, dia menemukan sesuatu yang lebih berharga: kebersamaan dan harapan.
Tamat
𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗕𝗮𝗿𝘂 𝟮𝟬𝟮𝟱! 𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗦𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗜𝗺𝗽𝗶𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗻 𝗖𝗶𝘁𝗮-𝗖𝗶𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱