Pagi-pagi sekali, semua orang di panti sudah bangun. Biasanya, mereka baru bangun jam 7 pagi karena ada aktivitas rutin. Namun, hari ini berbeda. Semua orang sibuk membereskan baju dan memasukkannya ke dalam koper. Aku bingung, tapi kemudian ingat bahwa kemarin sore ada orang dari perusahaan besar datang ke panti dan mengajak kami liburan ke kota. Cepat-cepat, aku membereskan baju-bajuku dan memilih Miko, boneka beruang kecil yang paling aku sayangi, karena Kak Nayla hanya mengizinkan membawa satu barang.
Setelah dua jam bersiap-siap, kami berangkat ke stasiun kereta api. Di dalam kereta, sangat menyenangkan - luas, bersih, dan nyaman. Setengah perjalanan, aku dan yang lain tertidur karena perjalanan sangat jauh. Saat kereta berhenti, kami dibangunkan oleh pengurus panti. Aku keluar dari kereta, tapi teringat sesuatu. "Kak, bonekaku mana?" tanyaku bingung. Kak Mila bertanya, "Sudah cari di kursimu?" Aku menggelengkan kepala dan berbalik ke kursiku untuk mencari Miko, tapi tidak ada.
Aku sangat bingung dan sedih. Kak Rosa menenangkan, "Cup, cup, tenang, Kakak sudah suruh Kak Naila mencarinya." Beberapa waktu kemudian, Kak Naila datang dengan Miko ditangannya, tapi Miko sangat kotor dan robek. Aku bersorak ria, tapi juga sedih melihat keadaan Miko. "Miko, aku sangat menyayangimu," kataku sambil memeluk Miko. Miko adalah kenangan terakhir dari orang tuaku. Kata Bu Ratna, aku ditinggalkan di panti bersama Miko. Aku tidak akan pernah melepaskannya