Hujan deras mengguyur kota Bandung malam itu. Di sebuah kafe kecil yang remang-remang, seorang pemuda bernama Arya duduk sendirian, menyesap kopinya yang sudah dingin. Tatapannya kosong, menerawang jauh ke luar jendela. Hatinya terasa hampa semenjak kepergian kekasihnya, Luna, setahun yang lalu.
Luna meninggal dalam kecelakaan tragis, meninggalkan luka mendalam di hati Arya. Ia tak pernah bisa melupakan senyum manis Luna, tawanya yang renyah, dan tatapan matanya yang penuh cinta. Kenangan-kenangan itu terus menghantuinya, membuatnya terjebak dalam kesedihan yang tak berujung.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, membuyarkan lamunan Arya. Seorang gadis masuk, mengibaskan payungnya yang basah. Arya tertegun. Gadis itu sangat mirip dengan Luna. Wajahnya, senyumnya, bahkan caranya berjalan, semua mengingatkan Arya pada mendiang kekasihnya.
Gadis itu memesan secangkir teh hangat, lalu duduk di meja dekat jendela. Arya tak bisa mengalihkan pandangan darinya. Ia merasa ada kekuatan magis yang menariknya pada gadis itu. Tanpa sadar, ia bangkit dari kursinya dan menghampiri meja gadis tersebut.
"Permisi," sapanya ragu-ragu. "Maaf kalau saya lancang, tapi... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Gadis itu menatap Arya dengan mata teduh. "Sepertinya tidak," jawabnya lembut. "Nama saya Melati."
Arya memperkenalkan dirinya, lalu mereka terlibat dalam percakapan yang hangat. Semakin lama mereka berbicara, semakin kuat pula keyakinan Arya bahwa Melati adalah reinkarnasi dari Luna.
Malam-malam berikutnya, Arya dan Melati sering bertemu. Mereka menghabiskan waktu bersama, menjelajahi sudut-sudut kota Bandung, dan berbagi cerita. Arya merasa hidupnya kembali berwarna. Ia jatuh cinta pada Melati, sama seperti ia mencintai Luna.
Namun, ada sesuatu yang aneh dengan Melati. Ia selalu menghindari tempat-tempat ramai dan tak pernah mau diajak berfoto. Ia juga memiliki kebiasaan aneh, yaitu mencium aroma mawar hitam setiap malam sebelum tidur.
Suatu hari, Arya mengikuti Melati diam-diam. Ia melihat Melati memasuki sebuah rumah tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Penasaran, Arya memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Di dalam rumah, Arya menemukan sebuah ruangan rahasia. Di sana, ia melihat foto-foto Melati bersama seorang wanita yang sangat mirip dengannya. Di samping foto-foto itu, terdapat sebuah buku harian tua.
Arya membuka buku harian tersebut. Isinya membuat bulu kuduknya merinding. Ternyata, Melati bukanlah manusia biasa. Ia adalah arwah penasaran yang terjebak di dunia manusia. Ia bergentayangan untuk mencari cinta sejatinya yang telah meninggal dunia. Dan mawar hitam adalah bunga kesukaan kekasihnya.
Arya terkejut dan ketakutan. Ia tak menyangka bahwa gadis yang dicintainya adalah hantu. Namun, cintanya pada Melati sudah terlanjur dalam. Ia tak peduli lagi dengan kenyataan yang ada.
Melati muncul di belakang Arya. Wajahnya pucat pasi. "Kau sudah tahu rahasiaku," bisiknya lirih.
"Iya, Melati," jawab Arya. "Tapi aku tetap mencintaimu."
Melati meneteskan air mata. "Kau tak boleh mencintaiku, Arya. Aku bukan manusia. Aku hanya arwah penasaran."
"Aku tak peduli, Melati. Yang ku tahu, aku mencintaimu," ucap Arya tegas.
Melati memeluk Arya erat. Ia merasakan kehangatan tubuh Arya, sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama menjadi arwah.
"Terima kasih, Arya," bisik Melati. "Kau telah memberiku cinta yang selama ini ku dambakan."
Tiba-tiba, tubuh Melati mulai memudar. Cahaya putih menyelimuti tubuhnya. Arya panik. Ia tak ingin kehilangan Melati lagi.
"Melati, jangan pergi!" teriak Arya.
Melati tersenyum. "Aku harus pergi, Arya. Tapi cintamu akan selalu ku kenang."
Cahaya putih semakin terang. Melati menghilang di depan mata Arya, meninggalkan aroma mawar hitam yang memenuhi ruangan. Arya terduduk lemas, air mata mengalir di pipinya. Ia kembali kehilangan cinta dalam hidupnya.
Keesokan harinya, Arya kembali ke kafe tempat ia pertama kali bertemu Melati. Ia memesan secangkir kopi, lalu duduk di meja dekat jendela, tempat Melati biasa duduk. Ia menatap kosong ke luar jendela, mengenang kisah cintanya yang tragis dengan Melati, hantu berwajah cantik yang mencuri hatinya.
Di meja tempat Melati biasa duduk, Arya menemukan sekuntum mawar hitam. Ia mengambil mawar itu, mencium aromanya, lalu menyimpannya di dalam saku. Mawar hitam itu menjadi kenangan terakhirnya akan Melati, cinta sejatinya yang tak pernah bisa ia miliki.