Di Ujung Harapan
Senja yang Berat
Hidup adalah serangkaian harapan yang sering kali patah, dan Rina merasakannya setiap hari. Di usia yang sudah senja, seharusnya ia menikmati waktu bersama suami, merasakan kedamaian dari hasil kerja keras di masa muda. Namun, kenyataan itu begitu jauh dari impian. Setiap pagi, Rina bangun lebih awal, menyarungkan baju kurung lusuh yang semakin menua, dan pergi menuju sekolah kecil yang jauh dari rumah. Ia adalah seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar yang terletak di pinggiran kota.
Jarak yang ditempuhnya untuk mengajar semakin berat dengan bertambahnya usia. Namun, itu adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan untuk menghidupi dirinya dan suaminya, Arman. Suaminya, yang dulu tampak gagah dan penuh semangat, kini hanya duduk di rumah menunggu hari berlalu, atau lebih sering lagi, pergi memancing di sungai dekat desa tanpa pernah jelas hasil tangkapannya.
Rina terkadang merasa seperti sebuah bayang-bayang, berjalan tanpa arah. Dalam hati, ia bertanya-tanya mengapa ia masih bertahan. Namun, ketika melihat wajah anak-anak di kelas yang penuh harapan, ia merasa ada sesuatu yang layak dipertahankan. Namun, di balik itu semua, ada rasa kecewa yang terus mengendap. Suaminya yang dulu selalu mendukung, kini lebih suka terlarut dalam kesenangan sendiri. Mengapa ia tetap terjebak dalam rutinitas yang penuh sengsara ini?
Kebisuan Arman
Arman, suaminya, adalah pria yang telah lama kehilangan arah. Dulu, ia seorang buruh serabutan yang penuh semangat, selalu punya ide dan gagasan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Namun, beberapa tahun terakhir, hidupnya seolah mati suri. Ia tidak lagi mencari pekerjaan tetap. Ia lebih memilih memancing, satu-satunya kegiatan yang memberinya sedikit ketenangan.
Rina sering kali pulang dari mengajar dan menemukan Arman duduk termenung di dekat kolam ikan kecil yang ia bangun di belakang rumah. Sesekali ia melihat Arman membawa hasil tangkapan, namun jarang sekali cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Suaminya seakan terjebak dalam dunia yang tidak mengharapkan apapun lagi dari hidupnya.
"Arman, kenapa kamu tidak mencari kerja?" Rina pernah bertanya dengan nada yang penuh harap.
Arman hanya menjawab dengan senyum yang lebih terlihat seperti keputusasaan, "Aku bahagia dengan cara ini, Rina. Memancing memberi kedamaian, lebih dari pekerjaan apapun."
Rina menelan kata-kata itu dalam diam. Ia tahu Arman tidak akan mengerti betapa ia harus berjuang setiap hari untuk sekadar bertahan hidup. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima kenyataan itu. Begitu banyak pengorbanan yang telah ia lakukan, tetapi seolah itu tidak pernah cukup.
Di Bawah Langit yang Sama
Hari demi hari berlalu, dan Rina mulai merasakan kelelahan yang semakin menyeluruh. Namun, ia tidak bisa menyerah. Anak-anak di kelasnya, walau miskin dan sering tidak lengkap perlengkapannya, memiliki semangat belajar yang luar biasa. Mereka adalah alasan mengapa Rina terus bertahan. Walaupun upahnya sebagai guru honorer tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tahu bahwa ia tidak bisa mengecewakan mereka.
Di sisi lain, Arman tetap dengan rutinitasnya, memancing, kembali ke rumah dengan hasil yang tak seberapa. Setiap kali Rina melihatnya, hatinya bergetar. Ia merasa seolah terperangkap dalam kehidupan yang tidak pernah ia pilih. Di usianya yang semakin senja, ia berharap bisa melihat tanda-tanda perubahan dari suaminya. Namun, itu seolah hanya mimpi di siang bolong.
Pada suatu malam, ketika Rina baru saja pulang dari sekolah dan Arman baru saja kembali dari memancing, ia duduk di meja makan dengan wajah yang murung.
"Rina, kamu capek?" tanya Arman, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dengan suara lembut.
Rina menatapnya, dan dalam diam, hatinya mulai retak. "Aku capek, Arman," jawabnya pelan. "Aku lelah, tapi aku tidak tahu harus bagaimana."
Arman terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Hatinya tahu bahwa ia telah gagal sebagai suami. Namun, kebisuan itu telah lama menjadi temannya. Di bawah langit yang sama, mereka hidup dalam ketegangan yang tak terucapkan.
Sebuah Pilihan
Semakin lama, Rina merasa seperti ada yang hilang dalam dirinya. Ia mulai bertanya-tanya apakah pengorbanannya selama ini sia-sia. Namun, suatu sore, ketika ia kembali ke rumah dan mendapati Arman sedang duduk dengan wajah serius, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
"Rina," Arman berkata, "Aku akan mencoba sesuatu yang baru. Mungkin aku tidak bisa memancing lagi, aku akan mencari pekerjaan."
Rina hanya menatapnya. Kata-kata itu seperti angin segar, meskipun ia tahu perjalanan mereka tidak akan mudah. Tetapi setidaknya, ada harapan. Ada keputusan untuk berubah, bahkan jika itu datang terlambat.
Rina menghela napas panjang. "Aku hanya ingin kita berjuang bersama, Arman. Tidak sendiri-sendiri."
Malam itu, mereka duduk bersama di bawah bintang-bintang, berbicara tentang masa depan. Rina tahu bahwa jalan mereka tidak akan mudah, namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada secercah harapan yang menyinari gelapnya hidup mereka.
Harapan yang Tumbuh
Perlahan-lahan, Arman mulai mencari pekerjaan. Meskipun ia merasa canggung dan tak terbiasa, ia mencoba. Rina terus mengajar, meskipun usianya semakin tua dan tubuhnya mulai melemah. Namun, mereka berdua, dalam diam dan usaha, mulai merasakan perubahan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memberi mereka harapan.
Di tengah kesulitan itu, Rina dan Arman menemukan sesuatu yang lebih penting dari segala perjuangan mereka: mereka menemukan kembali satu sama lain. Di ujung harapan, mereka menyadari bahwa meskipun dunia tak selalu adil, cinta dan pengorbanan masih mampu membawa mereka bertahan.