Terpaksa Menikah dengan Sekretarisku
Matahari mulai tenggelam ketika aku duduk di kursi direkturku, memandangi berkas-berkas yang harus segera kutandatangani. Lelah mulai merayap ke tubuhku, tapi aku tahu pekerjaan ini tak akan menyelesaikan dirinya sendiri. Di hadapanku berdiri sekretarisku, Nadira, wanita yang selalu tampak tenang meski duniaku berantakan.
Nadira tidak hanya sekretaris, dia adalah kekuatanku selama bertahun-tahun. Ia orang pertama yang tiba di kantor setiap pagi dan yang terakhir pulang. Tapi hari ini, tatapannya tidak seperti biasanya. Ada kegelisahan di matanya.
"Pak Arya," suaranya bergetar, "saya perlu berbicara dengan Anda."
Aku menghela napas, mencoba mengabaikan rasa ingin tahuku. "Ada apa, Nadira?"
"Saya... Saya akan menikah bulan depan," katanya pelan.
Aku tertegun. Hatiku seperti dihantam sesuatu yang keras. Entah kenapa, berita itu terasa menghancurkan. Selama ini, aku selalu merasa Nadira akan tetap di sisiku, mendukungku tanpa syarat.
"Selamat," jawabku singkat, meski suaraku terdengar datar.
Namun, malam itu menjadi awal dari rentetan kejadian yang tak pernah kubayangkan. Beberapa hari setelah pengumuman Nadira, Ayahku memanggilku pulang.
"Arya," katanya tegas, "kau harus menikah segera."
Aku menatap Ayah dengan bingung. "Kenapa, Yah? Aku belum siap."
"Kita sedang di ambang krisis. Perusahaan keluarga akan hancur jika kau tidak segera menikah dengan seseorang yang bisa menyelamatkan reputasi kita," jelasnya.
Aku tidak ingin menikah hanya karena bisnis. Tapi aku tahu, aku tidak bisa menolak perintah Ayah.
"Aku tidak punya calon," jawabku akhirnya.
Ayah tersenyum tipis. "Kau punya. Sekretarismu."
Jantungku berhenti sejenak. "Nadira?"
Ayah mengangguk. "Dia pintar, loyal, dan memiliki reputasi bersih. Pernikahan ini akan menyelamatkan semuanya."
Aku menolak mentah-mentah, tapi Ayah tidak mau mendengar. Sementara itu, Nadira yang baru mendengar rencana ini tampak terkejut.
"Saya? Menikah dengan Anda?" tanyanya dengan mata membelalak.
"Ini hanya pernikahan formal," jelasku dingin. "Setelah masalah ini selesai, kita bisa bercerai."
Nadira diam sejenak. Aku melihat matanya berkaca-kaca, tapi ia menundukkan kepala dan menjawab, "Baik, jika itu demi kebaikan Anda."
---
Hari pernikahan kami tiba. Semua orang tampak bahagia, kecuali kami berdua. Nadira tampak cantik dengan gaun putih sederhana, tapi tidak ada senyum di wajahnya. Aku hanya bisa berharap semua ini segera berakhir.
Setelah menikah, hidup kami berubah. Nadira pindah ke rumahku, tetapi hubungan kami tetap profesional. Ia tetap bekerja sebagai sekretarisku, menjalankan tugasnya seperti biasa. Namun, aku mulai menyadari sesuatu yang berbeda.
Nadira begitu perhatian. Ia selalu memastikan aku makan tepat waktu, mengingatkanku untuk istirahat, bahkan merawatku ketika aku sakit. Pelan-pelan, dinding yang kubangun di antara kami mulai runtuh.
Suatu malam, aku pulang terlambat. Aku menemukan Nadira tertidur di sofa, menungguku dengan makanan yang sudah dingin. Hatiku tersentuh melihat betapa pedulinya ia, meski aku tidak pernah memberinya alasan untuk melakukannya.
"Nadira," panggilku lembut.
Ia terbangun dan segera bangkit. "Pak Arya, Anda sudah pulang? Maaf, saya ketiduran."
Aku menatapnya. "Kenapa kau melakukan semua ini?"
Nadira terdiam sejenak sebelum menjawab, "Karena saya ingin melihat Anda bahagia."
Kata-katanya membuat hatiku bergetar. Untuk pertama kalinya, aku melihat Nadira bukan hanya sebagai sekretarisku, tapi sebagai seseorang yang tulus mencintaiku.
---
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu pagi, aku menemukan Nadira pingsan di dapur. Panik, aku membawanya ke rumah sakit. Dokter memberitahuku sesuatu yang menghancurkan dunia kecilku.
"Nyonya Nadira mengidap kanker stadium akhir," kata dokter dengan nada serius.
Dunia seakan berhenti berputar. Aku tidak percaya apa yang kudengar. Nadira, wanita yang selama ini menjadi sumber kekuatanku, sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Ketika ia sadar, aku menggenggam tangannya erat. "Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanyaku dengan suara bergetar.
Ia tersenyum lemah. "Karena saya tidak ingin membebani Anda. Pernikahan ini sudah cukup sulit untuk Anda."
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Untuk pertama kalinya, aku sadar betapa besar pengorbanannya.
Sejak hari itu, aku berjanji untuk mendampinginya. Aku mengambil cuti dari pekerjaan dan menghabiskan setiap momen bersamanya. Aku ingin membuatnya bahagia, meski aku tahu waktu kami terbatas.
Kami mulai melakukan hal-hal yang sederhana tapi berarti: berjalan di taman, menonton film favoritnya, atau sekadar berbicara hingga larut malam.
"Nadira," kataku suatu malam, "aku mencintaimu."
Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Saya juga mencintai Anda, Pak Arya."
---
Bulan-bulan berlalu, dan kondisi Nadira semakin memburuk. Hingga akhirnya, pada suatu pagi yang tenang, ia menghembuskan napas terakhirnya di pelukanku.
Aku hancur, tetapi aku tahu ia pergi dengan bahagia. Ia telah mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya, cinta yang tulus dan tanpa syarat.
Kini, setiap kali aku melihat langit malam, aku selalu ingat Nadira. Ia mungkin telah pergi, tetapi cintanya akan selalu hidup dalam hatiku, menjadi kekuatan yang membimbingku melewati sisa hidupku.
Kasih itu bukan tentang seberapa lama kita bersama, tetapi tentang seberapa dalam kita mencintai seseorang di waktu yang singkat.
---