Raina Fransisca atau biasa dipanggil rain. Namanya sama seperti hujan. Tetapi mereka berbeda. Kalau hujan, ia akan selalu datang walau sudah terjatuh berkali kali. Sedangkan rain, ia masih berusaha sabar walau cobaan datang menghampiri.
Memiliki fisik yang kurang sempurna, awalnya membuat rain merasa kurang percaya diri. Apalagi banyak sekali hinaan yang ia dapat tentang kekurangannya. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia dapat menerima keadaannya.
***
"eh, lihat deh princess kita udah datang."
"iya. jauh jauh deh, ntar ketularan princess nya."
"Masih punya muka Lo. padahal muka Lo enggak lebih dari buruk rupa."
Masih banyak hinaan yang masuk ke gendang telinga rain. Namun seperti biasa, ia hanya menampilkan senyum tipisnya. Ia sudah sering mendengar kata kata seperti itu saat ia melewati koridor sekolahnya.
Sampai di kelas pun, ia mendapat cacian dan tatapan ketidaksukaan dari teman teman sekelasnya. Ia memilih duduk di kursi paling belakang, agar tidak terlalu mencolok walaupun itu sangat mengganggu untuk melihat tulisan di depan karena terhalang oleh siswa siswi yang duduk di depannya.
Sampai saatnya kegiatan berakhir, rain segera keluar kelas. Hari ini hujan turun rintik-rintik. Rain berjalan keluar gerbang dan menuju ke rumahnya. Di tengah jalan, ia melihat seseorang terkapar di pinggir jalan.
"Itu siapa?" Tanyanya sembari menghampiri seseorang itu.
Setelah dekat, ia bisa melihat dengan jelas bahwa seseorang itu adalah seorang pria.
"Hei bangun!." Ucap rain keras karena derasnya hujan sembari menggoyangkan lengan pria itu.
"Aduh...ini gimana?" Gumamnya.
Ia kemudian menyeret lelaki itu dengan sekuat tenaganya ke teras depan toko yang sudah tutup. Selanjutnya ia menggoncang kan badannya agar segera sadar.
"Sshh..."Rintihan lelaki itu membuat rain menghentikan goncangan nya.
Mata yang tadi tertutup, kini perlahan lahan terbuka. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika netranya terpaku pada mata hitam bulat di sampingnya. Mereka bertatapan selama beberapa menit, Sampai suara....
'Duuaaarrr...'
Suara petir menyambar membuat Rain terlonjak dan refleks memeluk pria di depannya. Membuat pria yang sedang di peluknya langsung melingkarkan tangannya ke tubuh rain.
Setelah petir tak lagi menyambar dan hujan juga sudah reda, tetapi mereka masih dengan posisi yang sama. Seakan sama sama tak mau melepaskan.
Rain yang tersadar lebih dulu, langsung melepaskan pelukan mereka.
"Ehm... Maaf." Ucap Rain sambil menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya.
"Tidak apa apa." Jawab pria itu sembari tersenyum tipis
"Ryan Anggara." Sambungnya, sambil menyodorkan tangannya.
Rain menatap ragu tangan itu, antara menerima atau tidak.
Ryan yang merasa tidak mendapat tanggapan, otomatis menarik tangannya kembali.
"Maaf.." Ucap Rain tiba tiba.
Ryan yang mendengarnya, menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
""Kenapa?" Tanya Ryan, tetapi dijawab gelengan oleh rain.
"Eh?!." Kaget Rain saat ujung kerudung yang ia buat untuk menutupi wajah buruknya, ditarik Ryan membuat wajahnya terlihat jelas.
"Jangan--"
"Kenapa?" Ucapan rain dipotong Ryan dengan melontarkan pertanyaan.
"Kenapa? Malu?." Ulangnya.
"Enggak perlu malu. Kamu enggak usah menghindar. Hadapi semuanya dengan percaya diri. Ngerti?" Jelas Ryan sambil menatap manik mata rain.
"Iya." Jawab Rain sambil menganggukkan kepalanya.
Ryan tersenyum mendengarnya. Sedangkan Rain terpesona dengan senyuman rain, sehingga tanpa sadar ia menatap lurus Ryan.
"Udah lihatnya?." Tanya Rain dengan menampilkan senyum geli di wajahnya.
'Blush'
Seketika pipi Rain merona mendengar ucapan Ryan. Walaupun terlihat samar karena kekurangannya. Tetapi itu tertangkap jelas oleh matanya dan menambah kesan sendiri bagi Ryan.
"Gitu kan manis." Ucap Ryan seraya mengusap pucuk kepala Rain.
"Apaan sih." Sahut Rain sembari bangkit hendak pergi. Tetapi tangannya ditahan Ryan.
"Kita belum kenalan. Nama kamu siapa?" Tanya Ryan sambil tetap menggenggam tangan Rain.
"Raina Fransisca. Panggil saja Rain." Jawab Rain.
"Oke Rain. Ayo pulang. Aku antar." Ucap Ryan sambil menuntun Rain menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kejadian.
"Eh--" Ucapan Rain terpotong karena ia sudah digiring masuk mobilnya Ryan.
Sejak kejadian itu, semakin hari mereka semakin dekat. Bahkan di sekolah pun yang dulunya banyak yang menghina Rain, sejak ada Ryan di sampingnya tidak ada yang berani mengucapkan kata kotor untuk Rain.
"Jika ada yang berani menghina atau mencaci maki Raina Fransisca, maka orang itu saya pastikan tidak akan tenang!."
Ancaman itu membuat semuanya terdiam dan tidak ada yang berani membantah. Sejak saat itu, Kehidupan Rain jadi lebih berwarna karena adanya Ryan.
Hari demi hari mereka lewati dengan canda tawa. Sampai saat dimana Claryn, cewek yang sangat terobsesi dengan Ryan, menculik Rain dan dibawa ke sebuah rumah kosong yang sangat jauh dari penduduk.
"Kalau aku tidak bisa bersama Ryan, maka Lo juga enggak akan bisa bersamanya. Lagi pula, apa istimewanya dirimu!. Kau itu buruk rupa!, Jelek!. Berbeda dengan diriku. sangat berbeda!!." Teriak Claryn saat ia bersama Rain di sebuah ruangan kosong dengan keadaan tubuh Rain terikat dan mulutnya yang di lakban.
"Ehm...ehm..." Hanya gumaman yang dapat Rain keluarkan.
"Lo mau bicara?! iya?!. Oke gue beri kesempatan terakhir untuk Lo bicara sebelum Lo pergi jauh." Ucap Claryn sambil menarik kasar lakban yang ada di mulut Rain.
"Sshh..." Ringisan keluar dari mulut Rain saat lakban nya terlepas.
"Aku salah apa sama kamu?." Tanya Rain setelahnya dengan berderai air mata.
"Sebenarnya kamu tidak ada salah. Hanya saja, kamu semakin lama semakin dekat dengan Ryan. Dan aku tidak suka!!." Jelas Claryn sambil menunjuk wajah Rain dengan pisau yang ia bawa.
"Hiks...hiks...hiks.." Isakan terus keluar dari mulut Rain.
Karena bosan mendengar Isakan Rain, Claryn pun melakban kembali mulutnya dan pergi keluar meninggalkan Rain sendirian di ruangan gelap dan kosong itu.
3 Hari telah berlalu. Selama itu, Rain mendapatkan perlakuan fisik yang buruk. Dan selama itu, ia hanya makan 1 suap nasi sehari.
'Klek'
Suara pintu terbuka membuat Rain mendongakkan kepalanya. Ia hanya diam melihat Claryn berjalan ke arahnya dengan pisau yang selalu ia bawa untuk menyiksanya.
"Sudah saatnya Lo pergi!. Katakan selamat tinggal pada duniamu, Rain." Ucap Claryn dengan bisikan di akhir kalimatnya.
Claryn melepaskan ikatan Rain dan lakban yang menutup mulut Rain. Setelah itu...
'Jleb'
'Brak...'
"AKHH..." Teriakan Rain kesakitan bersamaan dengan pintunya yang di dobrak seseorang.
"RAIN!!." Teriakan terakhir dari seseorang yang dapat Rain dengar. Setelah itu, semuanya gelap.
***
Saat membuka mata, pertama kali yang Rain lihat adalah langit atap. Saat menolehkan kepalanya ke samping kanan, ia melihat seseorang yang membuat hidupnya berubah sedang tertidur dengan menggenggam tangannya.
"Sshh..." Ringisan keluar dari mulut Rain saat tangan kirinya hendak mengangkat tangannya.
Sedangkan Ryan, ia seketika membuka matanya kala mendengar ringisan itu.
"Rain." Ucap Ryan ketika melihat Rain sudah membuka matanya.
"Jangan banyak bergerak." Ucap Ryan kembali saat Rain hendak mengubah posisinya.
Sedangkan Rain hanya tersenyum menanggapinya. Ia bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Ryan kembali.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Rain sudah membaik. Karena Ryan selalu mendampingi Rain kemanapun ia pergi. Bahkan mereka akan berencana menikah setelah Rain pulih.
Kini, mereka berada di danau dengan pemandangan yang indah.
"Aku enggak nyangka hidupku akan bahagia. Aku pernah berfikir, jika hidupku cuma ada kesedihan. Seperti hujan, saat ia datang selalu bersama awan gelap." Ucap Rain sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Ryan.
"Asal kamu tahu, hidup itu enggak selalu sedih dan juga enggak selalu bahagia. Ada siang, ada malam. Ada langit, ada bumi. Ada kalanya kita bersedih, ada kalanya kita bersenang. Dan kamu harus tahu, setelah hujan, akan ada pelangi yang menghiasi langit." Jelas Ryan.
"Satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah larut dalam kesedihan. Karena sekarang kamu bukan Rain (hujan), melainkan Rainbow (pelangi). Aku berjanji tidak akan membiarkan Rain (hujan) datang ke hidupmu. Jika itu terjadi, aku akan membawakan Rainbow (pelangi) agar hidupmu kembali berwarna." Lanjutnya sembari memeluk Rain.
-End-