Hari itu, enam tahun yang lalu saat pertama kali aku menginjakkan kaki ku di halaman sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pencak silat yang merupakan satu-satunya kegiatan ekstra kurikuler unggulan di sekolahku. Ya, namaku Reine Alina Aniceta, biasa dipanggil Alin. Beberapa kakak kelasku sudah datang waktu itu, namun tak semuanya aku kenal. Hanya beberapa saja yang aku tahu namanya. Dengan penuh percaya diri aku bertanya kepada mereka, "Mbak, kalau mau ikut latihan pencak silat daftarnya ke siapa?", tanyaku kepada salah satu kakak kelas yang aku ketahui bernama Sekar. Dia kakak kelasku yang waktu itu duduk di kelas 4. Sekar pun menjawab, "daftar langsung ke pelatihnya, mbak Risa". " Oke mbak, terimakasih ya" Jawabku. Sekar pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Aku langsung memghampiri mbak Risa saat dia tiba di sekolah. Aku bilang kalau aku mau ikut latihan pencak silat. "Permisi mbak. Mbak, saya mau ikut latihan pencak silat". " O... Iya, silakan. Langsung masuk ke barisan saja ya. Kita akan segera mulai pemanasan". Sambil menganggukkan kepala, aku pun bergegas masuk ke barisan, mengikuti teman- teman yang sudah terlebih dahulu berbaris.
Aku mengikuti setiap gerakan pemanasan yang di pimpin mbak Risa. Aku belum tahu seperti apa itu pencak silat. Saat itu, aku hanyalah anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang pencak silat. Namun beruntungnya, kedua orang tuaku mendukungku.
Hari pertama latihan aku lalui dengan senang hati. Mbak Risa mengajariku beberapa gerakan dasar, seperti pukulan, tendangan dan kuda-kuda. Karena masih pemula dan baru pertama kali ikut latihan tentu saja gerakan ku masih jauh dari kata sempurna. Meski hanya gerakan dasar, nyatanya cukup membuatku lelah. Mungkin karena aku belum terbiasa melakukannya.
Di sela-sela waktu istirahat, mbak Risa mengatakan padaku "di rumah di latih terus ya Lin gerakannya. Kamu kecil seperti mbak Risa, lebih di turunkan lagi biar kelihatan kuda-kudanya"." Siap mbak", jawabku. Tidak hanya aku, Teman-teman yang lain juga diminta mbak Risa untuk tetap latihan di rumah. Tidak perlu lama yang penting konsisten. Seperti yang mbak Risa katakan, "Pencak silat itu soal konsistensi. Kalau kamu terus berlatih, kamu akan jadi luar biasa"." Iya mbak", jawab kami serentak.
Hari itu, aku juga diajari gerakan seni tunggal oleh mbak Risa. Ya, jurus pertama tangan kosong. Meski dengan susah payah aku menghafalnya, namun akhirnya aku bisa melakukannya. Dengan senyum memgembang mbak Risa mengatakan padaku "bagus Lin, nanti di hafalkan lagi ya gerakannya dirumah. Di ulang-ulang setiap hari, minggu depan ditambah lagi gerakannya". Dengan senang hati pula aku menjawab " Siap mbak, aku akan latihan dirumah".
Satu persatu anak diminta untuk mempraktekkan gerakan seni tunggal. Setelah semua mendapatkan giliran, mbak Risa menyampaikan apa saja yang menjadi tugas kami dirumah. Setiap anak mendapatkan tugas yang berbeda-beda karena memang pencapaian kami berbeda. Aku dengan tugasku yang harus ku hafalkan dan teman-teman dengan tugasnya masing-masing. Kami mengakhiri latihan hari itu dengan berdo'a bersama.
Terimakasih readers.