Hujan deras mengguyur kota sore itu. Nada berlari-lari kecil sambil memeluk tasnya erat-erat, mencari tempat berteduh. Dia tidak membawa payung, seperti biasa, karena selalu berpikir bahwa langit cerah akan bertahan.
Dia menemukan sebuah halte kecil di tepi jalan, kosong dan basah. Nada menghela napas, menatap jalanan yang berubah menjadi aliran kecil. Namun, sebelum dia sempat menikmati kesendiriannya, seorang pria dengan mantel abu-abu muncul dan ikut berteduh.
Pria itu tinggi, dengan rambut sedikit basah yang membuatnya terlihat berantakan namun menarik. Dia membawa sebuah payung, tapi tampaknya lebih memilih menunggu hujan reda daripada menggunakannya.
“Kau tidak membawa payung juga?” tanyanya, memecah keheningan.
Nada hanya menggeleng dan tersenyum canggung.
“Kota ini selalu penuh kejutan, ya. Langit cerah, tiba-tiba hujan.”
Nada terkekeh kecil. “Sepertinya hujan memang suka menguji kesiapan kita.”
Percakapan kecil itu berlanjut. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Arga, seorang penulis yang sedang mencari inspirasi untuk novelnya. Nada, seorang desainer grafis, menceritakan pekerjaannya yang sering membuatnya tenggelam dalam layar komputer hingga lupa dunia luar.
“Apa kau percaya hujan bisa mempertemukan orang?” tanya Arga tiba-tiba.
Nada mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Kadang, hujan seperti ini adalah cara semesta untuk mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan bertemu dalam keadaan lain.”
Nada tertawa pelan, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. “Itu ide menarik untuk novelmu.”
Ketika hujan mulai reda, Arga membuka payungnya. “Kita bisa jalan bersama. Aku akan pastikan kau sampai di tempat tujuan tanpa basah.”
Nada ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. Mereka berjalan beriringan di bawah payung yang cukup kecil untuk memaksa mereka dekat. Percakapan mereka mengalir seperti hujan yang baru saja berhenti, ringan namun mendalam.
Sesampainya di ujung jalan, Arga berhenti. “Ini tempatmu?”
Nada mengangguk. “Terima kasih, Arga.”
Arga tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kartu kecil dari sakunya. “Kalau kau tertarik membaca novelku nanti, hubungi aku.”
Nada mengambil kartu itu, lalu melihat Arga pergi, payungnya kembali melindungi dari rintik kecil yang masih turun.
Sejak hari itu, Nada sering mengingat pertemuan itu. Satu pesan sederhana yang dia kirimkan ke nomor di kartu itu membuka babak baru dalam hidupnya. Babak yang dimulai dari hujan dan berakhir pada sesuatu yang jauh lebih hangat—cinta.
Pesan: Terkadang, cinta datang dari hal-hal kecil yang tak terduga. Jangan takut membuka hati, karena siapa tahu, semesta sedang menyusun rencana terbaik untukmu.