Di sebuah desa kecil yang selalu diselimuti kabut tebal, seorang gadis bernama Rania tinggal bersama ibunya di sebuah rumah tua. Hidup mereka sederhana, tapi ada satu hal yang membuat desa itu berbeda—listrik tidak pernah ada di sana.
Penduduk desa mengandalkan lilin untuk menerangi malam. Namun, suatu hari, persediaan lilin di desa hampir habis, dan pasokan baru tidak kunjung datang karena jalan utama tertutup longsor.
Setiap keluarga hanya diberi satu lilin terakhir. “Gunakan dengan bijak,” pesan kepala desa.
Rania memandangi lilin terakhir itu di meja. “Ibu, bagaimana jika lilin ini habis sebelum pagi datang?” tanyanya khawatir.
Ibunya tersenyum lembut. “Kadang, kegelapan mengajarkan kita untuk menemukan cahaya lain.”
Malam itu, ketika lilin mulai menyusut, Rania memutuskan pergi ke gudang tua di belakang rumah. Ada sesuatu yang memanggilnya ke sana, seperti bisikan lembut di telinganya.
Di dalam gudang, dia menemukan kotak kayu yang sudah berdebu. Dengan hati-hati, Rania membuka kotak itu dan menemukan sebuah lentera kuno yang terbuat dari tembaga. Lentera itu terlihat usang, tapi anehnya terasa hangat di tangannya.
Rania membawa lentera itu ke dalam rumah. Ketika lilin terakhir hampir padam, dia menyalakan lentera dengan sumbu kecil yang ada di dalamnya. Lentera itu langsung menyala terang, tapi cahayanya bukan seperti api biasa—melainkan cahaya keemasan yang lembut dan hangat.
Yang lebih mengejutkan, lentera itu tidak pernah padam. Malam demi malam, lentera itu terus menyala, menerangi rumah mereka tanpa henti.
Kabar tentang lentera ajaib itu menyebar ke seluruh desa. Banyak orang datang ke rumah Rania, berharap menemukan secercah harapan di tengah kegelapan. Rania tidak keberatan berbagi cahaya lentera itu dengan siapa pun yang membutuhkan.
Namun, suatu malam, seorang pria misterius berkerudung hitam datang mengetuk pintu rumah Rania. “Aku adalah penjaga lentera itu,” katanya. “Lentera ini punya kekuatan besar, tapi hanya bisa diberikan pada hati yang murni. Kau harus memilih—tetap menyimpannya, atau mengembalikannya padaku untuk membawa cahaya ke seluruh desa.”
Rania terdiam, memandangi lentera yang telah menjadi penyelamat mereka. Tapi dia tahu apa yang harus dilakukan. “Bawalah lentera ini, tapi pastikan semua orang di desa bisa merasakan cahayanya.”
Pria itu tersenyum, lalu mengambil lentera tersebut. Saat pria itu pergi, keajaiban terjadi—seluruh desa perlahan-lahan terang oleh cahaya keemasan yang sama, seolah-olah lentera itu kini menyebarkan cahayanya ke setiap sudut.
Sejak malam itu, desa itu tidak pernah gelap lagi. Lentera terakhir Rania mengajarkan mereka bahwa harapan selalu ada, bahkan di tengah kegelapan yang paling pekat.
Pesan: Kadang, berbagi sesuatu yang berharga justru membawa lebih banyak cahaya ke kehidupan kita dan orang lain.