Rumah kos tua itu sudah terkenal di kalangan mahasiswa sebagai tempat yang angker. Namun, bagi Amara, itu adalah satu-satunya pilihan yang terjangkau. Selain itu, ia tak pernah percaya pada cerita-cerita mistis. Baginya, rumor hanya bumbu untuk menakuti orang.
Kamar yang ia pilih berada di lantai dua, di ujung lorong sempit. Dindingnya kusam, dengan cermin besar yang terpasang di dekat lemari. Pemilik kos berpesan agar Amara tidak memindahkan cermin itu. Alasan mereka terdengar sederhana: “Cermin itu sudah ada sejak rumah ini dibangun.” Amara mengangguk tanpa banyak berpikir.
Hari pertama berjalan biasa saja. Ia mulai menata barang-barangnya, menempelkan beberapa foto keluarga di dinding, dan menyibukkan diri dengan tugas kuliah. Namun, malam tiba, dan suasana kamar itu berubah. Amara merasa ada sesuatu yang mengawasi dari balik cermin. Ia mengabaikannya, berpikir itu hanya imajinasinya karena lelah.
Malam kedua, hal aneh mulai terjadi. Saat Amara bercermin, ia melihat bayangan seorang wanita berdiri di sudut kamar. Ketika ia menoleh, sudut itu kosong. Namun, di cermin, bayangan itu tetap ada, menatapnya dengan tatapan kosong.
Amara mencoba menenangkan diri. Ia bahkan menelepon sahabatnya, Dika, untuk menemaninya malam itu. Dika datang dengan skeptis, menganggap Amara terlalu banyak mendengar cerita hantu dari penghuni lain. Mereka bercanda untuk menghilangkan ketegangan, tetapi cermin itu kembali menarik perhatian mereka.
Saat mereka bercermin bersama, bayangan Dika tiba-tiba berubah. Wajahnya terdistorsi, dengan senyum yang terlalu lebar dan mata yang hitam pekat. Amara menjerit, tetapi Dika—yang berdiri di sampingnya—tidak melihat apa-apa.
“Aku nggak lihat apa-apa, Mar,” kata Dika. Namun, saat ia mendekati cermin, kaca itu berembun, dan sebuah tulisan muncul: “Kamu selanjutnya.”
Ketakutan, mereka berdua memutuskan untuk menutupi cermin dengan kain putih. Malam itu, Amara tidak bisa tidur. Dari balik kain, ia mendengar suara berbisik, seperti seseorang memanggil namanya.
Keesokan paginya, Amara mencoba bertanya pada pemilik kos tentang cermin itu. Wajah pemilik kos berubah pucat, dan ia hanya berkata, “Cermin itu bagian dari rumah ini. Siapa pun yang menyingkirkannya akan mendapatkan kutukan.”
Amara tidak menyerah. Bersama Dika, ia mencari tahu asal-usul rumah itu. Mereka menemukan bahwa rumah tersebut dulunya milik seorang wanita bernama Sari, yang tewas secara tragis karena bunuh diri di depan cermin itu. Ada rumor bahwa arwahnya terperangkap di sana, dan siapa pun yang tinggal di kamar itu akan menjadi targetnya.
Malam itu, Amara memutuskan untuk menghadapi rasa takutnya. Ia menyalakan lilin dan berdiri di depan cermin, memanggil nama Sari. Cermin itu perlahan bergetar, dan bayangan wanita berambut panjang dengan mata penuh luka muncul.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Amara dengan suara gemetar.
Bayangan itu tidak menjawab, tetapi air mata darah mengalir di wajahnya. Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke lemari di samping cermin. Amara membuka lemari itu dan menemukan sebuah kotak tua berisi surat-surat.
Isi surat-surat itu mengungkapkan bahwa Sari tidak bunuh diri; ia dibunuh oleh suaminya yang kemudian menggantungkan tubuhnya di depan cermin untuk menyembunyikan bukti. Amara berjanji untuk membawa surat-surat itu ke polisi agar kebenaran Sari terungkap.
Setelah surat-surat itu dilaporkan, cermin di kamar Amara pecah dengan sendirinya. Tidak ada lagi suara berbisik, tidak ada lagi bayangan aneh. Namun, setiap kali Amara melewati cermin di tempat lain, ia merasa seperti ada yang masih mengawasinya dari kejauhan.