Langit pagi tertutup kabut tebal saat Alda menjejakkan kaki di desa terpencil di lereng Gunung Semeru. Desa itu, Kerta Amerta, baru saja menjadi pembicaraan hangat karena banyak penduduknya yang hilang secara misterius. Sebagai jurnalis investigasi, Alda merasa terpanggil untuk mengungkap misteri ini.
Saat bertanya-tanya di sekitar desa, ia bertemu Arga, seorang pemandu gunung lokal yang kehilangan adik perempuannya dalam salah satu peristiwa hilangnya warga desa. Arga, meskipun enggan pada awalnya, akhirnya setuju untuk membantu Alda menyusuri jejak hilangnya para penduduk.
Malam pertama mereka di desa penuh dengan suara-suara aneh—desahan, gemerisik langkah, dan kilatan cahaya di hutan. Pagi harinya, mereka menemukan jejak kaki besar yang menuju ke arah gua tua di lereng gunung. Penduduk desa percaya gua itu terkutuk, tetapi Alda dan Arga tidak mempercayai takhayul.
Di dalam gua, mereka menemukan petunjuk-petunjuk aneh: bekas api unggun, sisa-sisa makanan, dan simbol-simbol aneh di dinding gua. Semakin masuk ke dalam, mereka menyadari bahwa tempat itu bukan sekadar gua alami. Ada ruangan-ruangan tersembunyi, seakan-akan seseorang pernah menjadikan tempat itu markas rahasia.
Namun, semuanya berubah ketika mereka mendengar suara tangisan. Mereka menemukan sekelompok penduduk desa yang hilang, terkurung di salah satu ruangan. Mereka menceritakan bahwa mereka diculik oleh sekelompok orang yang mengklaim bahwa desa itu menyimpan "harta karun" kuno yang bisa memanggil kekuatan dari dunia lain.
Ketegangan memuncak ketika para penculik kembali. Alda dan Arga harus bekerja sama dengan para penduduk untuk melarikan diri. Dengan kecerdikan dan keberanian, mereka berhasil keluar dari gua dan membawa bukti kejahatan itu ke pihak berwenang.
Meski misteri harta karun kuno tetap belum terpecahkan, Alda merasa puas telah membantu menyelamatkan para penduduk. Ia tahu, kisah ini bukan hanya tentang misteri, tetapi tentang keberanian melawan ketakutan dan arti penting dari sebuah persahabatan.