Kabut tebal menyelimuti, menghalangi mentari pagi membagi kehangatannya. Walaupun begitu, burung-burung sudah bernyanyi untuk menyambut hari baru. Semua makhluk berlomba-lomba mencari rejeki guna keberlangsungan hidup.
Begitu juga Dewi yang sedang menyusuri jalan menuju kebun di kaki gunung. Tidak seberapa jauh dia meninggalkan rumah, kakinya terhenti. Penampakan sebuah bunga mawar putih mengalihkan perhatiannya. Langkah pun semakin mendekat, lalu tangan mulai terulur.
"Hei, jangan sentuh!"
Suara berat menghentikan pergerakan Dewi, degup jantung seketika melonjak. Detaknya menggambarkan ketakutan yang tak terukur. Suara tersebut sungguh tidak asing bagi wanita itu walau sosoknya masih tertutup kabut. Seorang pria tua misterius karena selalu melindungi kebunnya dari tangan siapapun.
"Maaf, Pak Ryan. Bukan maksud—" Dewi tidak sanggup melanjutkan kata-kata kerena dibungkam oleh sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.
Sedetik kemudian, sepasang mata itu berubah sayu, lalu mengalihkan pandangan pada bunga putih yang masih terbalut embun. Tanpa terasa air menggenang di pelupuk mata Pak Ryan. Dia berjalan menghampiri mawar nan suci itu.
"Mawar itu mekar di atas penantian," ucap Pak Ryan seraya mengusap kelopak bunga dengan lembut.
Dewi mengernyitkan dahi. "Di atas penantian?"
Pak Ryan mengangguk pelan diiringi air mata yang perlahan menuruni pipi. Dia dengan cepat mengahapusnya menggunakan punggung tangan kanan dan kiri. Perlahan udara dia masukkan hingga memenuhi paru-paru, lalu diembuskan.
"Ya, istriku yang menanamnya dan ingin sekali melihatnya berbunga. Tapi, nasib berkata lain." Pak Ryan menundukkan kepala.
"Aku selalu menjaga dan sangat menunggunya berbunga. Hanya bunga itu yang ditinggalkan oleh cinta sebagai kenangan."
Dewi terdiam, mengerti dengan maksud perkataan Pak Ryan. Memang, istri pria itu meninggal sejak dua bulan yang lalu. Tentu saja bunga mawar putih tersebut sangat bermakna karena menyimpan kesedihan yang mendalam.
Sejak saat itu, Dewi kerap mengunjungi Pak Ryan. Mereka duduk bersama, berbicara tentang kehidupan, tentang cinta, dan tentang mawar putih yang seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Suatu ketika, kabut terlihat lebih tebal dari biasanya. Dewi berjalan menyusuri kebun, tetapi sepi yang didapat, tidak tampak keberadaan Pak Ryan. Langkahnya terhenti ketika menemukan sepucuk surat terikat pada tangkai bunga yang tengah mekar.
"Dewi, kutitipkan simbol cinta dan penantianku. Jagalah dengan baik sebelum layu karena keindahannya hanya saat mekar. Terima kasih atas waktumu selama ini untuk mendengarkan keluh-kesahku. –Ryan."
Tanpa terasa air mulai merangsak keluar dari kelopak mata. Sepucuk surat itu mulai kusut oleh genggaman tangan Dewi. Dia menatap bunga yang bukan hanya milik Pak Ryan lagi, melainkan miliknya juga—sebagai cinta, kenangan, dan harapan.
Kini, Dewi menjaga dan merawat dengan sepenuh hati warisan cinta yang ditinggalkan Pak Ryan. Perasaannya selalu dipenuhi cahaya walau kabut menyelimuti desa, seperti bunga mawar putih yang tengah mekar...