Jika dalam sebuah film sebuah adegan bisa di ulang berkali-kali jika terjadi kesalahan, apa dalam kehidupan nyata kau bisa mengulang hal-hal yang terjadi untuk mengubahnya…
Nama ku nalla, aku memiliki seorang adik bernama nina, ia lima tahun lebih muda dari ku, ayah ku bekerja sebagai seorang produser, dan hal inilah yang membuat waktu di rumah ku berjalan seperti pembuatan film, di mana kami memiliki kesempatan untuk merubah hal yang tak kami sukai, sedangkan mama tak ada hal yang istimewa darinya, ia hanya seorang ibu rumah tangga yang sangat menyayangi keluarganya.
Aku tak pernah mengingat satu hal pun yang tak ku sukai terjadi dalam rumah ini, karna sejak dulu hal yang tak ku sukai selalu di perbaiki di waktu yang sama, seperti saat mama membelikan ku boneka beruang berwarna coklat beberapa tahun lalu saat aku berumur 6 tahun.
“ma… kok bonekanya warna coklat sih kan nalla mau warna pink” aku mengeluh, “benarkah?” tanya mama terkejut dan segera pergi untuk menukar boneka, beberapa menit kemudian mama kembali dengan boneka beruang berwarna pink di tangannya.
“Kita ulang dari awal ya” mama mengambil jam weker di sebelah tempat tidur ku dan memutarnya di waktu yang sama seperti saat mama salah membelikan boneka tadi, kemudian menunjukanya pada ku untuk menunjukan bahwa tak ada waktu yang terbuang sia-sia tadinya, sehingga aku bisa melupakan kesalahan mama tadi.
Bagi anak kecil, saat itu hal yang di lakukan mama seperti sebuah keajaiban, di mana waktu bisa kembali pada saat aku tak menyukai suatu hal yang telah terjadi agar bisa merubah adegan itu seperti sebuah film.
Dan hal itu pun berlaku pada adik ku, sejak kecil ia mengangap hidup bagai film yang dapat di reka ulang, hari ini adalah hari ulang tahunnya namun Ia belum bisa meniup lilin karna hari ini ayah lembur, kami menunggu cukup lama hingga akhirnya ayah pulang pukul 22:01,
Saat tiba di rumah ayah ku segera menyadari wajah cemberut adik ku yang bahkan tak terlihat bahagia dengan kotak kado yang di pegang ayah ku.
“maafin ayah ya nina sayang, oh tunggu ayah bisa memperbaiki ini” ayah berlari ke kamar kami, *ya aku tidur di kamar yang sama dengan nina*,tak lama kemudian ayah kembali dengan jam weker di tangannya, ayah meletakan jam weker di atas meja yang menunjukan pukul 20:00
Nina kembali tersenyum dan menyambar hadiah yang di bawa ayah, yang langsung di sambut tawa oleh mama dan ayah ku, tampa sadar aku pun ikut tersenyum melihatnya, mengingat bahwa tipuan itu dulu sering di berikan pada ku hingga akhirnya kini aku tau bahwa meski jam itu di putar waktu tak akan pernah kembali.
Namun bagi adik ku hal itu terasa sangat nyata, bahwa hari ini ulang tahunnya berjalan dengan lancar dan melupakan bahwa ayah ku terlambat dua jam untuk kembali ke rumah, dan baik kedua orang tua ku mau pun aku tak ingin merusak momem-momen bahagianya itu dengan menjelaskan bahwa dia juga harus menerima hal-hal yang tak ia sukai dalam hidupnya,
Lagi pula siapa yang akan menjelaskan hal itu pada anak kecil seusia nina, jika aku menjelaskannya pun ia tak akan mengerti, namun seirin berjalannya waktu, saat ia tumbuh dewasa aku yakin ia akan menyadari semuanya sama seperti ku, fikir ku.
Hingga akhirnya malam yang mengerikan itu terjadi.
Malam itu aku asyik memainkan ponsel ku di samping nina yang telah tertidur pulas di sebelah ku, aku menemukan berita yang sedang heboh akhir-akhir ini di internet, seorang pembunuh berhasil kabur dari penjara dan kini menjadi buronan yang meresahkan seluruh kota.
Beberapa kali bel rumah ku berbunyi namun aku enggan keluar karna tau pasti ibu ku akan keluar untuk membuka pintu, namun tak lama kemudian aku mendengan suara berisik yang semangkin lama semangkin mengganggu ku,
Ibu berlari ke kamar ku dengan wajah panik, deru nafasnya terdengar jelas di telinga ku bahkan membuat nina yang telah lalap tertidur kembali terbangun, “cepat sembunyi, apa pun yang terjadi jangan keluar kalian harus selamat”
aku membawa nina bersama ku untuk bersembunyi di bawah tempat tidur, selang beberapa detik kemudian seorang pemuda datang dengan pisau yang berlumur darah di tangannya, ia menarik rambut mama dengan kasar, sedangkan mama terus melakukan perlawanan,
saat mama berhasil membebaskan diri mama segera berlari ke luar kamar, aku dan nina bisa melihat dengan jelas langkah kaki peria itu keluat dari kamar dan masi menggenggam pisau yg menitikan darah di lantai, beberapa upatan terus keluar dari mulutnya.
Aku yakin mama menyadari bahwa sekuat apa pun ia melawan ia tak akan bisa mengalahkan peria itu, jadi ia memancing peria itu keluar agar ia tak menemukan aku dan nina yang bersembunyi di bawah tempat tidur, jantung ku terus berdetak kencang, rasa takut menyelimuti sekujur tubuh ku yang kini terasa dingin seakan mati rasa, nina mulai menangis karna takut, namun aku segera menutup mulutnya dengan tangan ku, aku neraih ponsel di saku ku dan menelfon 112 untuk meminta bantuan.
Tak lama kemudian polisi pun tiba di rumah ku dan membawa kami keluar dari kamar, sekilas aku melihat peria mengerikan itu di borgol dan di Tarik paksa untuk masuk mobil polisi, sedangkan kedua orang tua ku sudah tak ada di dalam rumah, yang tersisa hanya genangan darah yang membasahi lantai rumah yang kini sangat berantakan seakan habis di terjang angin topan.
Para tetangga segera berdatangan, begitu pula sanak saudara ku, aku dan nina di bawa ke rumah paman ku.
Selama berminggu-minggu nina hanya memutar-mutar jam weker untuk mengembalikan waktu tepat pada malam itu, ia terlihat memejamkan matanya beberapa kali penuh harapan, namun tak ada yang berubah kedua orang tua ku tak akan pernah hidup kembali,
“kak coba kakak yang putar jamnya, hiks hiks hiks” nina menyodorkan jam weker itu pada ku sambil menagis frustasi, namun saat mendengar perkataan itu semua benteng yang ku bangun untuk menahan air mata ku pun hancur, aku kembali menagis tersedu-sedu dan memeluk tubuh kecil nina yang tak henti menagis dan merengek meminta ku memutar waktu untuknya.
-TAMAT-