Kilau Kembang Api di Antara Kita
Sore itu, Tatsuya mengirimkan pesan singkat.
"Akari, apakah kamu punya waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu ke Festival Kembang Api di tepi sungai."
Pesan itu terkirim, namun jawaban tak kunjung datang. Sambil gelisah, ia duduk di bangku taman yang biasa mereka kunjungi. Ketika ia hampir menyerah, notifikasi berbunyi.
"Baiklah, tapi hanya sebentar, ya."
Tatsuya tersenyum tipis. Itu cukup baginya.
Tepi sungai dipenuhi orang-orang yang menantikan detik-detik pergantian tahun. Akari datang mengenakan yukata biru dengan motif bunga sakura, rambutnya dikuncir rapi. Tatsuya merasa dadanya sesak melihatnya.
Mereka berjalan di sepanjang sungai, membicarakan hal-hal sepele. Tatsuya ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya terasa kelu. Akari, di sisi lain, tampak menikmati suasana tanpa menyadari kegelisahan Tatsuya.
"Ayo kita cari tempat untuk menonton kembang api," kata Akari sambil tersenyum.
Mereka menemukan tempat duduk di bukit kecil yang sedikit jauh dari keramaian. Langit mulai gelap, dan kembang api pertama meledak, melukiskan warna-warna cerah di langit.
"Akari," kata Tatsuya tiba-tiba, suaranya bergetar.
Akari menoleh, sedikit terkejut. "Ada apa?"
"Aku... aku tahu ini mungkin tidak penting bagimu, tapi aku ingin mengatakannya. Aku suka padamu. Sudah lama."
Keheningan terasa panjang. Akari menatapnya, mata cokelatnya berkilauan di bawah cahaya kembang api.
"Aku tahu," jawab Akari akhirnya. "Dan aku juga merasakan hal yang sama."
Tatsuya membelalak. Ia hampir tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
"Tapi..." lanjut Akari, "aku harus pindah ke kota lain minggu depan karena pekerjaan ayahku. Aku takut kalau aku menerima perasaanmu, kita akan semakin sulit untuk berpisah."
Tatsuya menggenggam tangannya. "Aku tidak peduli seberapa jauh jarak kita. Aku ingin bersamamu, Akari. Kita bisa mencoba. Tolong, beri aku kesempatan."
Akari terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Kamu benar-benar keras kepala, ya."
Langit kembali dihiasi letupan warna-warni. Akari mengangguk pelan. "Baiklah. Kita coba."
Di tengah gemuruh kembang api dan sorakan orang-orang, mereka saling tersenyum. Tahun baru membawa awal yang baru, tidak hanya untuk dunia, tetapi juga untuk mereka.
Malam itu, Tatsuya dan Akari mengucapkan selamat tinggal di stasiun kereta dengan janji untuk terus berjuang bersama. Meskipun jarak memisahkan, hati mereka tetap dekat.
Karena seperti kembang api, meskipun indah hanya sesaat, ia akan selalu menjadi kenangan yang berharga di hati mereka.
Setelah festival kembang api selesai, Tatsuya dan Akari berjalan perlahan menuju rumah Akari. Malam itu terasa damai, dengan bintang-bintang bersinar redup di atas mereka. Akari mengenakan yukata biru dengan motif bunga sakura, angin malam sesekali meniupkan helai rambutnya yang terurai.
“Kembang apinya sangat indah, ya,” kata Akari sambil memandang ke langit, meskipun sudah tidak ada lagi cahaya di sana.
“Iya, tapi malam ini ada yang lebih indah,” jawab Tatsuya pelan.
Akari menoleh, terkejut mendengar kata-katanya. “Apa maksudmu?”
“Tidak apa-apa,” Tatsuya mengalihkan pandangannya sambil tersenyum. “Aku hanya merasa beruntung bisa menghabiskan malam ini bersamamu.”
Mereka tiba di depan rumah Akari. Cahaya lentera di pintu rumahnya menerangi wajah Akari yang sedikit memerah. Dia memegang ujung yukatanya, tampak ragu untuk masuk.
“Tatsuya… terima kasih sudah mengajakku hari ini,” katanya lembut. “Aku akan merindukan malam seperti ini.”
Tatsuya menahan napas. “Aku juga. Tapi kita akan tetap saling berhubungan, kan? Walaupun jarak memisahkan kita.”
Akari tersenyum kecil. “Tentu saja. Aku janji.”
Tatsuya merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan gantungan kunci berbentuk bunga sakura.
“Ini,” katanya sambil menyerahkannya kepada Akari. “Aku membelinya di festival tadi. Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan… dan pengingat bahwa aku akan selalu ada di sini untukmu.”
Akari mengambil gantungan kunci itu dengan hati-hati, memandangnya sejenak sebelum tersenyum. “Terima kasih, Tatsuya. Aku akan menjaganya baik-baik.”
Dia melangkah masuk ke rumahnya, namun sebelum pintu tertutup, dia berkata, “Selamat tahun baru, Tatsuya.”
“Selamat tahun baru, Akari,” balas Tatsuya.
Malam itu, di bawah cahaya bulan, Tatsuya berjalan pulang dengan hati yang penuh harapan, meskipun masa depan mereka penuh tantangan. Ia tahu, perasaan ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.