Aku Ema umur dua puluh tahun ,sedang kuliah dan sudah punya pacar. Wawan adalah nama pacarku, dia kakak angkatan dikampus. Manis tapi juga ngeselin, sering mengkritik penampilanku yang cuek dengan hobyy main gitar serta sepedaan.
Pagi ini Wawan datang dengan kendaraan maticnya, setelah menyandarkan dihalaman depan Wawan menyusulku diteras samping. Aku sedang memetik gitar tua ayah untuk mengisi kegabutan yang datang. "Gitar aja yang dipeluk, aku kapan?" Kata Wawan setelah duduk di sampingku. Aku mendelik kearahnya ,tapi dia malah tertawa dan mencubit pipiku. Tentu saja aku cemberut menangapi ulahnya. "Tambah manis kok jika cemberut" Wawan bergelak setelahnya. Aku tentu saja kesal tapi senang juga sih digombalin kayak gitu. Hehehe....
"Mau jalan gak?" tanya Wawan setelah tak lagi tertawa. "Hemmm... kemana?" Tanyaku ragu, bukan karena gak mau tapi malas aja. Sudah bisa ditebak nanti pastinya aku di suruh berpenampilan seperti yang dia mau.
"Serah kamu, mumpung aku free hari ini" kata Wawan setengah mengharap. Aku menghela nafas dan masih diam memikirkan antara mengabulkan dan menolak permintaanya tersebut.
"Mau sieh... Tapi gak ada drama ceramah ini itu" aku berkata memberinya syarat setelah menimbang beberapa detik. Wawan tersenyum jail dan menaikan satu alis, ehhh kan jadi tambah tampan. Eyahhhh....
Akhirnya Wawan pun pamit pada mamaku untuk mengajakku jalan.
***
Sudah lebih dari setengah jam kami membelah jalan dengan motor metic Wawan, tapi sepertinya dia belum berniat berhenti pada suatu tempat. Aku hanya mendengus melihat ulahnya yang kadang tak punya tujuan jika sedang jalan seperti ini, kan jadi membuang waktu dengan berputar-putar tak jelas gini. Hufhhh...
Setelah perjalananan sudah lebih dari satu jam baru aku sadar jika jalan ini menuju area perbukitan yang sedang viral karena taman yang di bangun untuk lokasi wisata keluarga, meskipun pada kenyataannya kebanyakan pengunjung adalah pasangan muda mudi yang sedang kencan. Mungkin seperti yang sekarang aku dan Wawan lakukan. Asyikkkk....
"Turun gih..." Kata Wawan setelah mendapat tempat untuk parkir. Wawan memposisikan parkiran motornya agar berjejer rapi bersama kendaraan yang lain setelah aku turun. Aku mengamati segala gerak geriknya yang ternyata manis juga dalam keadaan cuaca yang cukup panas ini. Hemmm ... apa aku mulai bucin?
"Yuk ..." Ajak Wawan sambil meraih tangganku untuk digandengnya. Kami berjalan pelan sambil bergandeng tangan menikmati alam perbukitan yang sudah tertata indah ini. Ada beberapa tempat untuk spot foto yang dibangun seakan-akan berapa diatas awang-awang. Ada juga tanaman hias yang dibentuk menyerupai hati serta tulisan-tulisan cinta mengambarkan perasaan orang yang sedang mengabadikan moment ditanam ini. Ada juga payung-payung warna-warni serta lampion-lampion, menambah kesan ceria yang romantis. Mungkin bagi mereka yang suka extrim ada permainan tali temali yang dibentuk tangga serta jembatan diantara pohon-pohon besar yang rindang.
"Ayo duduk disana" ajak Wawan seraya menarik tanganku menuju bangku tak jauh dari sungai kecil yang mengalir dari atas bukit. Aku hanya menurut saja, toh pemandangannya sama bagusnya. Setelah aku duduk Wawan malah berlalu menuju kedai minuman dan beberapa camilan. Aku tersenyum menyadari sikapnya yang manis sedari tadi, tak seperti biasanya yang suka komplain apapun yang aku pakai dan aku lakukan. Wawan datang dengan dua botol jus mangga dan sepaket kentang goreng sebagai camilanya. "Terima kasih cinta ..." Ucapku setelah menerima yang dia sodorkan. "Hemmm ... Kalo begini baru bilang cinta, dari kemaren kemana aja" Wawan mengerutu tak jelas dengan sedikit cemberut. Aku tertawa melihat wajahnya yang tetap manis meskipun terlihat konyol. "Tambah manis kalo cemberut" ucapku mencubit satu pipinya, membalas perlakuannya padaku tadi saat dirumah. Wawan mendelik menyadari jika aku sedang bals dendam. "Awas aja, aku balas lebih dari mencubit pipi" kata Wawan kesal, dan aku tertawa lepas mendengarnya mengancam. Kami pun menikmati acara kencan siang ini dengan banyak bercerita dan sesekali saling adu cubit jika sedang gemas sendiri.
Waktu terasa cepat jika hati dalam suasana gembira seperti sekarang dan langit ternyata sudah menjadi sedikit jingga tanda hari sudah sore.
Aku mengajak Wawan pulang meskipun pengunjung masih rame dan sepertinya malah semakin rame dibanding siang tadi sewaktu kami baru sampai.
"Yuk, udah sore" ajaku berdiri dan menarik tangannya. Wawan pun ikut berdiri, tapi baru juga mau melangkah Wawan memicingkan matanya seperti mengawasi sesuatu. "Apa aku salah liat" guman Wawan pelan seperti untuk dirinya sendiri. Aku mengerutkan dahi, menebak apa yang sedang dia awasi. Tak jauh dari kami berada, sepasang muda mudi tampak duduk sambil berpelukan mesra meskipun terlihat dari arah belakang. Aku memepertajam penglihatan, dan sepertinya aku juga kenal. "Siapa ya?" Tanyaku dalam hati. Tanpa aku sadari ternyata Wawan sudah berada diantara mereka dan berteriak menyebut nama seseorang "Serly!"
Aku ikut terbelalak menyadari siapa cewek tersebut dan mengatur nafas, Serly adalah teman sekampus Wawan. Yang aku tahu mereka dekat tapi sekedar teman, itulah sebabnya aku mengiyakan permintaan Wawan saat bertanya apa aku mau jadi pacarnya. Tapi sepertinya ada cerita lain yang tak aku ketahui diantara mereka.
"sama siapa lagi kamu jalan sekarang ?" Tanya Wawan dengan nada yang terlihat frustasi pada Serly. Sedangkan Serly sendiri juga kaget, berdiri dan tersenyum miring melihat Wawan yang tiba-tiba bersikap aneh melihatnya kencan dengan cowok lain. "Kenapa? Kan gak ada aturan antara kita untuk mencampuri privasi masing - masing mau kencan dengan siapa pun" jawab Serly santai. Aku mengeryit bingung mendengar jawaban Serly barusan. " Lihat Ema bingung melihat sikapmu ini, apa kau tak sadar jika sedang kencan dengan ema? Atau kamu membayangkan sedang kencan denganku tadi?" Kata Serly menambah kebingunganku. Sedangkan cowok yang tadi kencan bersama serly hanya duduk terdiam ditempatnya yang tadi. Wawan tampak kaget dan terlihat gugup menyadari keberadaanku. "Em... Aku ... Aku bisa jelaskan ini" kata Wawan terbata kepadaku. Aku melihat kearah matanya, ada keraguan disana dan aku bisa menebak apa yang sedang terjadi. Aku bukan cewek bodoh menghadapi situasi seperti ini, aku paham apa yang mereka rasakan. Aku memang cewek cuek dalam hal apapun tapi mereka lupa kadang penampilan bukan sejati dari dasar hati karena sensitivitas tak harus tampak dari penampilan yang ada. Aku menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Selesaikan urusan hati kalian, aku tak akan mencampurinya. Aku cukup tau diri" setelah mengucapkan kalimat yang sulit tersebut aku berlalu dari mereka dan mencari Abang ojek untuk pulang menenangkan diri dengan gitar tua ayah.
TAMAT