“SIAPA YANG HAMIL?! AKU TIDAK HAMIL!” Bentak Diana.
# # #
##
Apakah aku bodoh?
Sehingga aku dengan mudah terbujuk rayuannya. Termakan oleh kata-kata manis dan janjinya. Janji-janji palsu sebagai harga atas diriku dan kehormatanku.
Diana menatap wajahnya sendiri di cermin. Di basuhnya wajah beberapa kali. Ia masih shock. Tangannya bergetar memegang testpack. Alat itu menunjukkan tanda positif.
“Positif,” lirih Diana. “Aku? Hamil?” Ucapnya tak percaya.
Di usapnya air mata, dilemparnya alat itu ke dalam bak sampah. Bergegas ia memakai jaket dan pergi.
#
Hiruk pikuk suasana diskotik menyebar di seluruh ruangan. Aroma bir terasa kuat menyengat hidung. Diana merasa mual, tapi di tahannya. Secepat mungkin ia harus bertemu laki-laki itu. Sang ayah dari anak dalam kandungannya.
“Tian!” Panggil Diana, “Kita harus bicara.”
Cowok bernama Tian bangkit dari duduknya dan langsung mendekap Diana.
“Ada apa sayang?” Tanya Tian mesra.
“Aku hamil.” Ucap Diana, di tatapnya mata Tian penuh harap. “Aku mengandung anak kamu,”
“HAHAHAHA!” Tawa Tian lepas. “Hamil? Kalau kamu hamil ngapain bilang ke aku? Atau kau ingin mengajarkan hal nakal pada anakmu ini?” Sindir Tian meremehkan.
Tian mengusap perut Diana penuh nafsu. “Aku bisa mengajarkannya kalau kamu mau,” tangannya menelisik ke dalam baju Diana.
“Ini anak kamu Tian.” Tegas Diana.
Mereka berdua saling tatap. Tian melepaskan pelukannya pada Diana, lalu kembali duduk diantara dua wanita penghibur yang sudah menemaninya sejak tadi.
“Anak aku? Bagaimana kamu bisa yakin?” Tanya Tian sanksi.
Alis Diana mengerut, “Maksud kamu?”
“Kamu pikir aku bodoh? Cewek murahan seperti kamu pasti pernah tidur dengan banyak cowok.” Sindir Tian. “Kamu minta aja salah satu dari mereka buat nikahin kamu. Beres kan,”
“Tapi ini beneran anak kamu!”
“Diana, Diana. Meskipun benar janin yang ada di rahim kamu itu anakku, kamu pikir aku mau nikahin kamu? Aku masih mau bebas. Aku masih mau nikmatin hidup ini! Ngerti?!” jelas Tian.
PLAK!
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi kanan Tian.
“Tega kamu!” ucap Diana lalu cabut dari tempat itu.
Pikiran Diana campur aduk. Tak percaya rasanya ia pada perubahan sikap Tian. Tian yang dulu begitu ia percaya. Tian yang dulu begitu perhatian dan begitu memanjakannya. Ternyata dia tak lebih dari seorang cowok bejat yang telah merenggut kesucian seorang gadis polos. Diana terlalu naif sebab menyerahkan segalanya hanya karena cinta.
Dikutukinya dirinya sendiri karena terlalu bodoh. Air matanya mengalir bercampur dengan deras air hujan.
“Argggghhh! Hiks hiks!”
#
Suasana pagi ini tak seindah hari-hari biasa. Meskipun matanya lembam karena menangis semalaman, Diana tetap berangkat ke sekolah. Tanpa semangat ia memasuki kelas XII-IPA 2, lalu duduk diam dibangkunya.
“Kamu kenapa na?” Tanya Jessika teman sebangkunya.
“Cuma gak enak badan kok,” bohong Diana.
Jessika mengangguk, tapi dia sempat melihat perubahan pada diri Diana dibandingkan beberapa minggu lalu. Terbersit niat untuk menggoda Diana.
“Kamu makin gemuk aja, jangan-jangan hamil ya?” Gurau Jessika polos.
Mendengar kata-kata itu emosi Diana serta merta naik, “Siapa yang hamil, aku gak hamil tahu!” Bentak Diana, dengan kesal ia meraih tasnya dan cabut keluar kelas.
Melihat hal itu Jessika hanya bengong. Dia tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
Diana pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Tidak hanya untuk sehari itu, tapi selama dua minggu ia tidak pergi kemana-mana. Nafsu makannya berkurang drastis begitu juga dengan kesehatannya. Tak mau ia dibawa ke dokter, sebab perasaan takut dan cemas selalu menghantuinya sepanjang malam.
Mendengar kabar tentang keadaan sang adik, Revan segera pulang dari luar kota. Sampai dirumah, kekacauan terjadi.
“Mama ada apa?” tanya Revan heran melihat Mamanya histeris.
“Adik kamu mengurung diri di kamar!” pekik Mama.
Setelah mendengar penjelasan Mama, Revan bergegas ke kamar adiknya. Dia mengetuk pintu kamar Diana beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Akhirnya karena didesak Mama, dengan sekuat tenaga Revan mendobrak pintu kamar Diana.
BRAKK!
#
Diana memandangi tumpahan air di lantai. Bak mandi terisi penuh oleh air hingga luber. Perlahan ia masuk dan membenamkan diri dalam bak mandi. Ia tak merasakan apapun, tak mendengar apapun, yang ada hanya ketenangan.
BRAKK!
Pintu kamar berhasil di buka. Genangan air sudah memenuhi seisi ruangan. Diana tidak ada di tempat tidurnya. Revan melirik ke pintu kamar mandi yang agak terbuka, berjalan mendekat, barangkali adiknya ada disana.
“Diana ini kakak. Kamu ada di dalam?” panggil Revan. Tak ada jawaban. “Diana?” diulanginya sekali lagi. Nihil.
Firasatnya buruk mengamati genangan air yang tak kunjung berhenti mengalir melalui dasar pintu kamar mandi. Di bukanya lebar-lebar pintu itu, segera matanya menangkap sosok Diana. Tenggelam di dasar bak mandi.
“DIANA!”
Revan mengangkat tubuh Diana, mengeluarkannya dari bak mandi lalu membaringkannya di ranjang. Mamanya masuk dan saat melihat kondisi Diana, segera Mama menelepon Dokter. Tidak lama kemudian seorang dokter datang bersama dengan Papa.
“Keadaannya buruk, ini akan membahayakan keadaan janinnya.” Terang dokter seusai memeriksa Diana.
Semua mata terbelalak terkejut.
“Janin dokter?” tanya Mama memastikan pendengarannya.
Dokter mengangguk, “Benar. Usia kandungannya masih muda, jadi akan rawan terhadap gangguan.”
“Hamil,” ucap Papa kaget.
Mendadak sakit jantung Papa kambuh. Sebuah ambulance di datangkan. Papa segera dilarikan ke rumah sakit. Mama menemani Papa, sedangkan Revan menunggui Diana di rumah.
“Bagaimana keadaan suami saya dokter?” tanya Mama cemas.
“Sabar ya bu, kami minta maaf. Suami ibu tidak dapat di selamatkan,”
“Suami saya,” Mama shock hingga jatuh pingsan. Tidak kuasa Mama mendengar kabar buruk ini.
#
Berita tentang kehamilan Diana menyebar luas di sekolah. Dalam waktu singkat kecacatan pada diri Diana diketahui semua orang. Pihak sekolah mengambil langkah cepat dengan mengeluarkannya dari sekolah. Cemoohan dari tetangga dan teman-temannya tidak dapat di hindarkan.
Seminggu lamanya Diana baru siuman. Tubuhnya terasa lemas bukan main. Matanya menyapu seisi ruangan. Hanya ada Mama dan Revan yang menunggui di sisinya.
“Kamu sudah sadar sayang,” kata Mama lemas. Kesehatannya menurun sejak kepergian Papa.
“Ma, aku kenapa? Papa mana?” tanya Diana.
Mama tak kuasa menahan air matanya. Dipeluknya anak gadisnya itu dengan sayang.
“Papa baik-baik saja, jangan terlalu di pikirkan. Kasihan nanti kandungan kamu,” ucap Mama sembari mengusap punggung Diana.
“Aku hamil?” tanya Diana terkejut, matanya menatap tak percaya.
Seketika kenangan buruk yang sempat terlupa kembali memenuhi otaknya. Semua begitu jelas. Tangis Diana pecah, dipeluknya Mama erat.
“Maafin Diana ma, maafin Diana....” rintihnya.
“Iya sayang,”
Kedua ibu dan anak itu menangis pilu. Untuk beberapa saat lamanya mereka larut dalam suasana hati masing-masing.
#
Mama dan Revan keluar dari kamar. Diana sedang istirahat di kamarnya, kelelahan menangis. Setelah apa yang terjadi, mereka memutuskan untuk melupakan semuanya.
“Revan, untuk saat ini jangan beritahu adik kamu tentang apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Mama.
“Revan ngerti ma, Mama juga harus jaga kesehatan. Jangan sampai membuat Diana curiga,” kata Revan mengusap pundak Mamanya untuk menguatkan hati.
“Meskipun Papa meninggal kena serangan jantung setelah mendengar kabar kehamilan Diana, Mama tetap tak bisa menyalahkannya....” isak Mama.
“Sabar ya ma, semua akan baik-baik saja.” Tenang Revan.
Diana menutup mulutnya, air matanya mengalir. Telinganya menangkap jelas pembicaraan Mama dan Revan. Hatinya hancur mendengar kenyataan yang telah terjadi. Perasaannya teriris lebih dalam.
Ini gara-gara aku. Papa mati gara-gara aku. Mama dan kak Revan pasti sangat membenciku. Karena kebodohan dan kenaifanku ini, mereka semua harus ikut tersiksa. Batin Diana kalut.
Diana yang tidak sengaja mendengar pembicaraan itu berlari kembali ke kamarnya. Di ambilnya pisau lipat dari laci meja rias. Seraya menatap wajahnya di cermin, ia memotong nadinya sendiri. Darah segar menetes di lantai.
#
“Diana. Diana.” Panggil Revan.
Diana mengerjapkan mata, samar-samar ia menangkap sosok Revan di hadapannya.
“Kau siapa?” tanya Diana.
“Ini aku, Revan.” Jawab Revan.
“Kamu siapa?” ulang Diana. “Aku siapa?”
“Aku kakakmu Diana,” jawab Revan tak menyerah.
“Kakak?” Diana tersenyum, “Kakak, aku hamil.” Ucapnya. “Aku hamil....haha....” tawa Diana.
“Iya, kakak tahu kamu hamil. Tapi,”
“Hamil?” tanya Diana, seketika ekspresinya berubah. “Aku hamil. Aku hamil....” isaknya.
Air mata Diana menetes. Revan memeluk adiknya, berusaha menenangkannya. Bukannya tenang, Diana malah mengamuk tak jelas. Membuat Revan harus memeganginya agar tidak melukai dirinya sendiri.
“SIAPA YANG HAMIL?! AKU TIDAK HAMIL!” bentak Diana. “AKU TIDAK HAMIL!” ulangnya.
Diana semakin mengamuk. Beberapa dokter dan perawat masuk, Diana diberi obat bius, hingga ia tertidur.
Revan menatap cemas, “Apa dia akan begini terus dokter?”
“Kejiwaannya sudah terganggu, sulit untuk memulihkan kepercayaan dirinya.” Jelas Dokter.
“Bukankah kandungannya sudah keguguran. Apakah kalau dia tahu itu tidak akan membantu?”
Dokter menggeleng, “Selama dia masih merasa bersalah, dia sulit untuk sembuh.”
Revan duduk di sebelah Diana, di pandanginya wajah sang adik. Perasaan sayang serta kasihan memenuhi dadanya. Di kecupnya kening Diana lembut.
Kau tetaplah cantik meskipun separuh jiwamu pergi. Kau akan tetap disayang meskipun kau telah bersalah.
Adikku yang manis dan nakal, yang telah kehilangan kebebasannya sendiri. Bagaikan seekor kupu-kupu yang kehilangan sayapnya.
“Kakak akan selalu tunggu kamu,”
# # #
Tamat.
Baca Novel IndahRashie 👍
Terima kasih 🥰