Alyssa (nama samaran), 25 tahun, hidup dengan rutinitas yang ketat. Sebagai desainer grafis sukses, dia memiliki segalanya, kecuali satu hal: pengalaman jatuh cinta. Teman-temannya sering berbagi cerita cinta mereka, tapi Alyssa hanya mendengarkan dengan senyum dan rasa penasaran.
Suatu hari, Alyssa bertemu dengan cowok tampan, Raka, di sebuah kafe. Mereka berbincang tentang desain dan seni. Alyssa merasa nyaman, tapi tidak ada getaran cinta. Raka menyukainya, tapi Alyssa tidak merasakan apa yang dia rasakan.
Alyssa mulai bertanya-tanya, apakah dia abnormal? Apakah cinta hanya mitos? Dia mencari jawaban dalam buku-buku psikologi dan filsafat, tapi tidak menemukan kepastian.
Suatu malam, Alyssa berjalan di taman dan melihat pasangan-pasangan berpegangan tangan. Dia merasa sedikit iri, tapi tidak cemburu. Dia sadar bahwa cinta tidak harus dialami semua orang.
Keesokan harinya, Alyssa menerima pesan dari Raka, mengajaknya berkencan. Alyssa menolak dengan sopan, menjelaskan bahwa dia tidak merasakan apa yang dia cari.
Raka membalas, "Mungkin cinta tidak harus dramatis atau romantis. Mungkin cinta adalah kebersamaan dan pengertian." Alyssa merenungkan kata-kata itu.
Minggu berikutnya, Alyssa bertemu dengan seorang pria lain, Fahri, yang berbagi minat sama. Mereka berbincang tentang fotografi dan petualangan. Alyssa merasa nyaman, tapi masih tidak merasakan cinta.
Fahri tidak menekannya. Mereka tetap berteman. Alyssa menyadari bahwa hubungan tidak harus romantis untuk menjadi berarti.
Alyssa memutuskan untuk fokus pada dirinya sendiri. Dia melanjutkan hobi dan mengejar impian. Kanvas hidupnya masih kosong dari cinta, tapi penuh dengan warna-warna kehidupan.
Mungkin, suatu hari, Alyssa akan menemukan cinta. Atau mungkin tidak. Tapi dia tahu, hidupnya sudah indah, bahkan tanpa cinta.
Pesan Moral:
1. Cinta tidak harus dialami semua orang.
2. Hubungan tidak harus romantis untuk menjadi berarti.
3. Fokus pada diri sendiri dan mengejar impian.