Aku, Tasya, siswa kelas XI, tidak sengaja bertemu Raka, siswa pindahan dari Jakarta, di bawah atap sekolah saat hujan deras. Kami berbagi cerita dan tertawa bersama. Raka memiliki senyum menarik dan mata tajam yang membuatku terpesona. Namun, ada yang aneh - Raka selalu menghindari pertanyaan tentang keluarganya.
Seiring waktu, kami semakin dekat. Raka sering mengantar aku pulang. Aku mulai merasa suka, tapi ragu-ragu. Apakah aku benar-benar menyukainya atau hanya kasihan karena dia tampak kesepian? Suatu hari, aku menemukan Raka duduk sendirian di taman sekolah, menatap foto keluarganya. Aku melihat kesedihan di matanya.
Aku mendekati Raka dan bertanya tentang keluarganya. Raka membuka rahasia: ayahnya meninggal, ibunya sakit parah. Aku merasa tergerak dan memeluknya. "Aku ada di sini untukmu," kataku. Raka menatapku dengan mata basah. "Aku menyukaimu, Tasya." Aku tersenyum. "Aku juga menyukaimu, Raka."
Orang tua angkat Raka memanggilnya ke Jakarta karena ibunya memburuk. Raka harus meninggalkan aku. Aku merasa kehilangan. Sebelum berangkat, Raka memberikan aku kalung dengan liontin hati. "Kau selalu di hatiku," katanya.
Aku menunggu kabar dari Raka. Suatu hari, aku menerima surat dari Raka. Ibu Raka telah meninggal. Aku memutuskan untuk mengunjunginya di Jakarta. Aku melihat kesedihan mendalam di matanya, tapi juga cinta yang tulus.
Aku dan Raka berdiri di depan makam ibunya. Raka memeluk aku erat. "Aku tak bisa hidup tanpamu, Tasya." Aku tersenyum. "Aku juga tidak bisa hidup tanpamu, Raka." Kami berdua menyadari bahwa perasaan kami bukan hanya kasihan, tapi cinta yang tulus dan abadi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Tasya dan Raka membuktikan bahwa kasihan bisa berubah menjadi cinta yang mendalam."
@Ifv_ka.aa