Pukul tujuh malam, Naya duduk di bangku taman dekat rumah, menunggu Dimas, cowok yang ia pacari sejak setahun lalu. Dia sudah lima belas menit terlambat, tapi Naya hanya menggigiti kuku jari, menatap layar ponselnya yang kosong tanpa pesan.
“Aku tadi salah apa, ya?” gumamnya sambil menggenggam erat tali tas kecilnya.
Tiba-tiba, suara motor meraung menghampiri. Dimas memarkir motor di depan Naya tanpa basa-basi. Jaket kulit hitamnya terlihat lusuh, tapi senyum tetap memikat.
“Sorry telat. Tadi nganter nyokap dulu,” katanya sambil melepas helm, lalu duduk di samping Naya.
“Oh…” Naya tersenyum tipis, walau sedikit kecewa. “Aku kira kamu lupa janji sama aku.”
Dimas meliriknya tajam. “Lo nyindir gue? Gue capek banget hari ini, Nay. Kalau lo mau ribut soal telat-telatan gini, gue mending balik sekarang.”
“Eh, nggak! Nggak gitu maksudku!” Naya buru-buru menenangkan, panik melihat raut muka Dimas berubah muram. “Aku cuma… ya, kangen aja.”
“Gue juga kangen sama lo,” katanya, menarik Naya ke pelukannya. Tapi sebelum Naya sempat tersenyum lega, Dimas menyelipkan kalimat yang membuat hatinya kembali berat. “Makanya lo jangan bikin gue bete, ya.”
****
Malam itu mereka makan di warung mie ayam favorit Naya. Sepanjang makan, Dimas terus sibuk dengan ponselnya, entah membalas siapa. Naya hanya menunduk, memainkan sendok garpu di tangannya.
“Masih laper, nggak?” tanya Dimas sambil mengetik.
“Udah cukup, sih.”
Dimas mengangguk, lalu berdiri. “Ya udah, gue tunggu di motor. Lo bayarin aja, ya.”
Naya membeku. “Aku?”
“Lah, terus siapa lagi?” Dimas menatapnya santai. “Gue tadi udah ngeluarin bensin buat jemput lo, lo nggak mau ngebales itu? Yah, sekalian bantu gue hemat dikit, dong.”
Tanpa protes, Naya mengeluarkan dompetnya dan membayar makan malam mereka. Ia tahu itu tidak adil, tapi hatinya selalu memaklumi. “Mungkin dia lagi kepepet uang,” pikirnya.
****
Seminggu setelah itu, Dimas tiba-tiba hilang kontak seharian penuh. Naya khawatir. Puluhan pesan dan panggilan tidak dijawab.
Malamnya, Dimas muncul di depan rumah Naya seperti tidak ada apa-apa.
“Dim, kamu kemana aja sih?! Aku tuh khawatir banget!” Naya langsung memarahi begitu ia membuka pintu.
“Lah, gue kan lagi sibuk, Nay. Lo nggak ngerti apa kerjaan gue numpuk?” jawab Dimas santai, sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Sibuk? Tapi kamu nggak bilang apa-apa sama aku. Aku nunggu kabar seharian, Dim! Apa susahnya balas satu chat aja?”
Dimas menghela napas panjang, memasang wajah sedih. “Gue nggak nyangka lo seposesif ini, Nay. Gue tuh butuh ruang juga, ngerti nggak? Lo nggak percaya sama gue, ya? Apa gue nggak cukup nunjukin kalo gue sayang sama lo?”
Naya terdiam, lidahnya kelu. “Aku… aku percaya, kok…”
“Nah, kalau percaya, kenapa lo ribet banget nanya-nanya gini? Lo nggak mau gue tenang, ya?” Dimas menatap Naya dengan mata yang seolah-olah terluka.
Naya merasa hatinya remuk. “Maaf… aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”
Dimas langsung tersenyum, menarik Naya ke pelukannya. “Gue tau lo cewek baik, Nay. Makanya gue sayang banget sama lo. Tapi please, jangan kayak gini lagi, ya. Gue tuh cuma lo, lo ngerti?”
Dan seperti biasa, Naya luluh.
Seminggu kemudian, Naya tidak sengaja melihat sesuatu di Instagram. Sebuah foto Dimas sedang bersama seorang cewek di kafe, tangan Dimas melingkar di bahu si cewek. Caption foto itu: "My favorite person 💕"
Naya langsung menelepon Dimas, nadanya gemetar. “Dim… ini apa maksudnya?”
“Apaan sih, Nay? Lo lagi-lagi bikin masalah?” Dimas terdengar kesal.
“Lo bilang gue cuma satu-satunya buat lo, tapi ini apa?! Lo sama cewek lain, Dim!” Suara Naya meninggi.
“Lo liat dari mana? Jangan gampang percaya sama foto-foto nggak jelas, Nay. Gue bener-bener capek sama lo. Lo tuh nggak ngerti gue sama sekali.”
“Capek? Gue yang capek, Dim! Gue yang terus ngalah, gue yang selalu nungguin lo, gue yang bayar semuanya, gue yang percaya sama semua omong kosong lo! Tapi sekarang lo bilang gue nggak ngerti lo?”
“Lo nggak ngerti, Nay. Lo cuma mikirin diri lo sendiri. Kalau lo emang nggak mau percaya sama gue, ya udah, putus aja!”
Kata-kata itu membekas seperti tamparan di wajah Naya. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan air matanya.
“Oke, kita putus.”
“Lah, serius nay?” Dimas terdengar panik.
“Serius, lah. Gue nggak sebego itu lagi buat buang waktu gue sama orang kayak lo.” Naya menutup telepon dengan tangan gemetar, tapi perasaan lega mulai muncul di hatinya.
****
Malam itu, Naya menangis sejadi-jadinya di kamar. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa lega. Bukan karena kehilangan Dimas, tapi karena akhirnya ia berani untuk melepaskan sesuatu yang hanya membuatnya semakin stres.
Ia menatap dirinya di cermin, mata sembab tapi penuh tekad. “Nay, lo bisa dapet yang lebih baik,” bisiknya pada pantulannya sendiri.