Di sebuah kota yang terus-menerus dilanda hujan, Aksa duduk termenung di sudut sebuah kafe kecil. Matanya memandang kosong ke jendela berembun, di mana tetesan hujan berkejaran seperti perlombaan tanpa tujuan. Hujan selalu membuatnya teringat pada dirinya sendiri—selalu bergerak, tetapi tidak pernah sampai ke mana-mana.
Aksa adalah seorang pria muda dengan beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh usianya. Dia pernah bermimpi menjadi seorang musisi terkenal, tapi kenyataan berkata lain. Gitar yang dulu setia berada di tangannya kini bersandar berdebu di sudut kamarnya, tidak tersentuh selama bertahun-tahun. Setiap senar yang putus, setiap nada yang salah, mengingatkannya pada kegagalannya sendiri.
Malam itu, kafe dipenuhi orang-orang dengan cerita mereka masing-masing. Tawa dan percakapan terdengar ramai, tetapi bagi Aksa, semua itu hanya seperti dengungan hampa. Seorang pelayan datang dan meletakkan secangkir kopi hitam di mejanya. Aksa mengangguk singkat, tetapi bahkan kopi pun tidak bisa mengusir dingin yang menggerogoti jiwanya.
Di tengah lamunannya, seorang wanita tua masuk ke dalam kafe. Wajahnya dipenuhi kerutan, dan tangannya gemetar saat memegang tongkat. Dia berjalan perlahan dan duduk di meja di sudut yang lain. Wanita itu tidak memesan apa pun; dia hanya menatap ke arah luar jendela, seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.
Aksa memperhatikannya dari jauh. Ada sesuatu pada wanita itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah-olah dia melihat bayangan dirinya sendiri bertahun-tahun kemudian. Dia tahu seperti apa rasanya tersesat dalam hidup.
"Apa yang kamu lihat?" suara wanita itu tiba-tiba memecah lamunannya. Aksa tersentak. Dia tidak sadar wanita itu sedang menatapnya.
"Maaf, saya tidak bermaksud menatap," katanya gugup.
Wanita itu tersenyum samar, meskipun senyumnya tidak sampai ke matanya. "Kamu terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah," katanya pelan.
Aksa tidak menjawab. Kata-kata wanita itu seperti pisau yang menembus hatinya.
"Apa yang membuatmu pusing, Nak?" wanita itu melanjutkan, suaranya lembut tetapi penuh kepastian.
Aksa ingin tertawa, tetapi tidak bisa. Apa yang tidak membuatnya pusing? Hidup adalah serangkaian kegagalan dan kebingungan. Mimpi yang hancur, hubungan yang retak, dan harapan yang pupus. Dia merasa seperti sedang berjalan di labirin tanpa pintu keluar.
"Saya tidak tahu," akhirnya dia menjawab. "Sepertinya hidup tidak pernah adil."
Wanita itu mengangguk, seolah-olah dia mengerti. "Lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu tidak menyerah saja?"
Pertanyaan itu menghantam Aksa seperti petir. Dia tidak tahu jawabannya. Mengapa dia terus berjalan meskipun tidak tahu ke mana arahnya?
Wanita itu tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa pahit. "Kita semua terjebak di dalam perjalanan yang tidak kita mengerti, Nak. Tetapi kadang-kadang, yang perlu kita lakukan hanyalah terus berjalan, meskipun langkah kita berat."
Aksa ingin membalas, tetapi lidahnya kelu. Wanita itu berdiri perlahan, mengambil tongkatnya, dan berjalan keluar dari kafe. Hujan masih turun deras, tetapi dia tidak membawa payung.
Aksa melihatnya pergi, siluetnya perlahan menghilang di bawah derasnya hujan. Ada sesuatu yang aneh tentang wanita itu, sesuatu yang membuatnya merasa lebih dingin dari biasanya.
Ketika dia kembali menatap mejanya, dia menyadari sesuatu. Di atas meja tempat wanita itu duduk, ada sebuah kertas kecil yang terlipat rapi. Aksa berdiri dan mengambilnya. Kertas itu berisi tulisan tangan yang hampir tidak terbaca:
"Kadang-kadang, jawaban dari perjalanan hidup bukanlah tujuan, tetapi keberanian untuk terus melangkah. Jangan berhenti."
Aksa memegang kertas itu erat-erat. Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa seperti harapan kecil yang menyelinap ke dalam hatinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa mencoba melangkah lagi.
Di luar kafe, hujan terus turun. Tapi malam itu, Aksa memutuskan untuk tidak lagi takut basah.
TAMAT