Sinopsis: Di sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Parahyangan, terdapat sebuah jalan setapak yang terkenal dengan nama Jalan Kembang Janda. Jalan ini dipercaya memiliki kisah horor yang telah beredar turun-temurun di kalangan penduduk. Menurut cerita, setiap malam bulan purnama, jalan ini akan dihuni oleh arwah seorang wanita yang menunggu seseorang untuk menemui takdirnya. Dimas, seorang pemuda yang baru kembali dari kota, merasa penasaran dengan cerita tersebut dan memutuskan untuk mengujinya. Namun, yang ia temui bukan hanya sekadar mitos. Dimas harus berhadapan dengan sosok arwah wanita yang menyimpan rahasia kelam dan terperangkap dalam cinta yang tak terbalas. Keberanian Dimas untuk berjalan di Jalan Kembang Janda akan mengubah hidupnya selamanya.
---
Malam itu, Dimas kembali ke desa tempat ia dibesarkan setelah bertahun-tahun merantau ke kota. Angin malam yang dingin menyentuh kulitnya saat ia berjalan menuju rumah orang tuanya. Selama bertahun-tahun, ia sering mendengar cerita-cerita horor tentang Jalan Kembang Janda, sebuah jalan setapak yang menghubungkan desa mereka dengan hutan lebat.
"Jangan pernah lewat jalan itu, Dim," ujar ibunya dengan suara khawatir. "Konon katanya, ada arwah seorang wanita yang menunggu di sana setiap malam bulan purnama."
Dimas hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ibu, itu hanya cerita orang-orang tua. Saya sudah dewasa sekarang."
Namun, rasa penasaran Dimas semakin membesar. Malam itu, saat bulan purnama menggantung tinggi di langit, ia memutuskan untuk menguji sendiri kebenaran cerita itu.
Dengan langkah pasti, Dimas berjalan menuju Jalan Kembang Janda. Jalan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang terhalang oleh pepohonan rimbun. Aroma bunga melati tiba-tiba tercium, meskipun di sekitar jalan itu tidak ada bunga melati yang tumbuh.
"Benar-benar aneh," gumam Dimas, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang mulai menyelimuti dirinya.
Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari kejauhan, seperti seseorang yang sedang menyanyikan lagu dengan pelan. Suara itu semakin jelas, hingga Dimas berhenti dan menoleh ke sekeliling. "Siapa itu?" bisiknya, namun tidak ada jawaban. Hanya angin yang berdesir.
Suara itu semakin dekat, dan akhirnya Dimas melihat sosok seorang wanita di bawah pohon besar. Wanita itu mengenakan kebaya kuno berwarna merah marun yang tampak pudar. Rambutnya panjang terurai, menutupi sebagian wajahnya.
Wanita itu menatap Dimas dengan mata kosong, lalu membuka mulutnya. "Kenapa kamu datang ke sini, nak?"
Dimas merasa kaget, namun berusaha tetap tenang. "Saya hanya lewat. Tidak ada maksud buruk."
Wanita itu tersenyum, senyum yang aneh dan memunculkan rasa takut di hati Dimas. "Jalan ini milikku, nak. Banyak yang berusaha melewatinya, tapi tidak semua bisa kembali."
Dimas menelan ludah. "Apa maksudnya?"
Wanita itu mulai melangkah mendekat, dan Dimas merasa tubuhnya seolah terikat. "Kamu tahu cerita tentang aku, kan?" tanya wanita itu, suaranya pelan namun menembus ke dalam hati Dimas.
"Saya... saya hanya mendengar cerita. Tapi saya tidak percaya," jawab Dimas dengan sedikit gemetar.
Wanita itu tertawa, suaranya terdengar seperti angin yang berhembus melalui celah-celah pohon. "Itu cerita yang benar, nak. Aku adalah wanita yang terperangkap dalam cinta yang tak terbalas. Setiap bulan purnama, aku menunggu. Menunggu seseorang yang berani datang dan menemui takdirnya."
Dimas merasa tubuhnya semakin berat. "Takdir? Takdir seperti apa?"
Wanita itu melangkah lebih dekat, dan tiba-tiba tangan Dimas bergerak tanpa bisa dikendalikan. Sebuah bunga melati putih terletak di telapak tangannya. "Terima bunga ini, nak. Bunga ini akan menuntunmu pulang. Atau membawamu ke dalam dunia lain."
Dimas berusaha melepaskan bunga itu, namun tangannya seperti terkunci. "Apa yang kamu inginkan dariku?"
"Yang aku inginkan hanyalah cinta yang tak pernah aku dapatkan. Namun, aku tak bisa bebas. Aku terperangkap di sini, menunggu seseorang yang berani menyeberangi jalan ini. Kamu adalah pilihanmu sendiri, nak," jawab wanita itu dengan suara lembut namun mengancam.
Dimas merasa kepalanya mulai pusing, matanya berkunang-kunang. "Saya... tidak ingin terlibat dengan ini."
Wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Dimas. "Kamu sudah terlibat, nak. Kamu sudah memilih."
Seiring suara itu menghilang, Dimas merasa tubuhnya jatuh ke tanah. Sebelum ia pingsan, suara wanita itu terdengar sekali lagi di telinganya.
"Bunga itu akan menuntunmu pulang, atau membawamu ke dalam dunia lain, nak."
---
Ketika Dimas terbangun, ia mendapati dirinya tergeletak di tepi jalan yang biasanya ia lewati. Tidak ada tanda-tanda sosok wanita itu. Bunga melati yang ia terima sudah menghilang. Namun, aroma bunga melati masih tercium di udara.
Dimas berdiri dengan tubuh lemas. Ia berjalan pulang ke rumah, namun sejak malam itu, setiap kali bulan purnama tiba, ia selalu teringat akan wanita itu. Wajahnya, senyumannya, dan bisikan suaranya yang menghantui pikirannya.
Di desa itu, cerita tentang Kembang Janda pun tetap hidup. Setiap orang yang pernah melewati jalan itu akan merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar mitos. Bagi mereka yang berani mencoba, jalan itu akan membawa mereka pada takdir yang tak bisa dihindari.