Di sebuah SMA di pinggiran kota, lima orang cowok yang sering kali membuat kekacauan entah mengapa. Mereka adalah Ardi, Bimo, Candra, Dedi, dan Eko, teman sekelas yang kompaknya kayak lem super. Sering kali, satu orang ngebadut, dan yang lainnya malah ngikut saja. Hari itu, mereka bertekad untuk membuktikan siapa di antara mereka yang bisa melakukan kegagalan tapi dianggap keren.
"Jadi gini, ges," kata Ardi, yang paling pintar dalam merencanakan ide-ide gila. "Kita bikin tantangan: siapa yang bisa jadi paling gagal, tapi tetap cool? Aku mulai dulu!"
Tanpa menunggu jawaban, Ardi berjalan dengan gaya sok keren ke arah pintu kelas, membuka dengan sangat dramatis, dan... terjengkang. Pintu itu ternyata ngunci dari dalam, dan dia malah nabrak tembok.
"Astaga, Ardi! Itu gagal banget pfftt....!" kata Bimo, yang sebenarnya udah nggak tahan ketawa.
"Tenang, ges. Gagal itu artinya sukses yang belum ketahuan," jawab Ardi sambil berdiri, mencoba tampak elegan meskipun mukanya udah merah kayak tomat.
Lalu giliran Bimo. Cowok yang biasanya kalem dan nggak pernah neko-neko, tiba-tiba beraksi kayak atlet skateboard di lapangan kosong. Ia melompat ke pagar sekolah dengan gaya yang seharusnya keren, tapi malah terjebak dengan kaki kiri di atas pagar dan kaki kanan di bawah. Sebagian besar tubuh Bimo menggantung, terhimpit di antara dua tiang pagar.
"lah?, Bimo!!! Kenapa kamu nggak bisa lepas dari pagar itu?" tanya Candra, mencoba menahan tawa.
"Aku... aku cuma mau tunjukin kalau... ini gaya baru...!" jawab Bimo yang mulai kesulitan bernapas.
Dengan usaha keras dan beberapa kali hampir jatuh, akhirnya Bimo bisa dilepas, meski dengan celana yang robek separuh.(Emaknya pasti marah)
Giliran Dedi, yang terkenal dengan kemampuan olahraganya yang bisa bikin orang terheran-heran. Dedi memutuskan untuk melakukan lompatan akrobatik di lapangan sekolah, tapi malah meluncur ke arah yang salah. Bukan cuma terjatuh, dia malah nyangkut di pohon dan terjebak dengan tangan yang menggenggam cabang.
"Aisss, Dedi!!, ente ya... ini bakalan jadi konten gagal paling epic uy!" kata Eko sambil nyaris nggak bisa berhenti ketawa.
"Eh, aku cuma ngasih contoh doang!" jawab Dedi dengan wajah malu-malu.
Terakhir, giliran Eko. Cowok ini, yang terkenal paling nekat, memutuskan untuk melakukan stunt dengan menggunakan kursi belajar yang diputar-putar layaknya kursi roda. Awalnya berjalan lancar, sampai kursi itu berhenti tepat di depan meja guru yang sedang mengajar. Eko mencoba tetap tenang dan pura-pura nggak terjadi apa-apa. Tapi, nggak bisa bohong, kursinya malah mendorong meja itu sampai jatuh ke lantai, bikin seluruh kelas terdiam.
"Oops," kata Eko sambil tersenyum kecut. "Gimana, ges? Gagal atau keren?"
Candra yang udah nggak tahan lagi langsung terbahak. "AWOKAOKSK KEREN BET UY! Sampe bikin meja jatuh gedubrak gitu wkwwkk!" (Sepertinya mereka bakal kena ceramah guru)
Akhirnya, mereka berkumpul di kantin, dengan tubuh lemas dan tawa yang nggak habis-habis. Setiap aksi gagal mereka berhasil meraih gelar "Paling Gabut di Kelas," dan mereka tahu, itu adalah prestasi yang tak ternilai.
"Oke ges, intinya gini," kata Ardi, mengangkat gelas plastik minuman. "Gagal itu bukan masalah, yang penting kita gagal dengan gaya!"
Semua setuju. Mereka tahu, apa pun yang terjadi di sekolah, mereka akan selalu punya cerita konyol dan lucu untuk dikenang.
Dan begitulah, lima cowok SMA itu menemukan filosofi hidup mereka: kalau mau gagal, lakukan dengan banyak gaya! (Filsafat macam apa ni)